Film karya ibu dan anak ini diledek habis-habisan, tapi justru menimbulkan rasa penasaran publik dan kisah haru di balik pembuatannya. Film berbiaya minim ini sukses meraih fenomena box office.
WWW.JERNIH.CO – Perfilman China dikejutkan oleh fenomena unik dari film animasi indie berjudul “Niu Lai”. Dibuat secara mandiri oleh tim beranggotakan dua orang—seorang sutradara muda bernama Xin Yumeng dan ibunya yang berusia 60-an, Sun Lifang—film ini mendadak viral di musim panas 2026.
Meski awalnya dibanjiri kritikan tajam dan pujian sinis di media sosial, film berbiaya rendah ini justru secara ajaib bertransformasi menjadi salah satu karya paling menguntungkan.
Kisah pembuatan film ini terbilang luar biasa karena Xin Yumeng dan sang ibu menggarap “Niu Lai” selama lima tahun hanya dengan berbekal satu unit komputer bekas tanpa dukungan dana luar maupun produser. Tanpa latar belakang akademis formal di bidang animasi, mereka mengerjakan hampir seluruh lini produksi secara mandiri, mulai dari penulisan naskah, pemodelan karakter, pengisian suara, hingga pengubahan musik.
Film berdurasi 86 menit ini sendiri menceritakan tentang perjalanan seekor anak sapi bernama Niu Lai bersama seekor burung yang belajar tentang keberanian dan kasih sayang keluarga.
Namun, ketika dirilis pada 5 Agustus 2026, ekspektasi publik hancur saat menonton visual aslinya di bioskop meskipun film ini sempat dipromosikan menggunakan poster bergaya lukisan tinta tradisional Tiongkok yang estetik. Gelombang hujatan pun muncul akibat kualitas animasi yang dinilai sangat buruk dengan grafis 3D kaku, gerakan patah-patah, glitch visual seperti karakter yang sering menembus objek (character clipping), hingga ekspresi wajah yang datar.

Selain itu, narasinya dianggap lambat, membingungkan, dan bahkan memiliki banyak kesalahan pada teks terjemahan (subtitles). Di platform ulasan seperti Douban dan Weibo, netizen mengejek visualnya lebih buruk daripada tugas animasi kasar buatan AI, lalu menyebarkan cuplikan adegannya sebagai meme dan bahan tertawaan di internet.
Alih-alih film ini ditinggalkan, ejekan dari netizen justru memicu rasa penasaran publik secara masif hingga masyarakat berbondong-bondong membeli tiket bioskop demi membuktikan sendiri seberapa buruk film tersebut secara langsung . Respons netizen kemudian berubah drastis menjadi simpati dan apresiasi setelah mengetahui kisah haru serta kejujuran di balik pembuatannya, terutama di tengah maraknya film buatan AI atau produksi besar yang kaya visual namun miskin jiwa.
Menariknya lagi, nama Niu Lai dikaitkan dengan lelucon pasar saham karena kata “Niu” (Sapi) berhubungan erat dengan istilah bullish (tren naik), sehingga memicu para investor saham untuk ikut membeli tiket demi membawa hoki.
Dampak dari fenomena viral ini membawa perubahan drastis pada pendapatan film tersebut. Pada 10 hari pertama penayangannya, film ini sempat menjadi kegagalan total yang hanya menjual sekitar 236 tiket dengan pendapatan sekitar Rp15 juta.
Namun, pascaviral di media sosial, lonjakan penonton yang luar biasa membuat bioskop menambah jam tayang dari belasan menjadi ribuan penayangan per hari hingga total pendapatan box office berhasil menembus lebih dari sekitar Rp64 miliar.
Dengan biaya produksi yang dikabarkan hanya bernilai ribuan yuan saja, “Niu Lai” pada akhirnya mencatatkan rekor marjin keuntungan dan tingkat pengembalian modal paling fantastis sepanjang sejarah bioskop China.(*)
BACA JUGA: “Kung Fu Soccer” dan Kembalinya Stephen Chow Cetak Rekor Box Office