Para ahli peringatkan bahwa jika Israel merasa berada di ambang kehancuran total akibat hujan rudal Iran, mereka mungkin tidak akan ragu untuk menarik “pilar kuil” dan membawa seluruh kawasan hancur bersama mereka.
JERNIH – Ketika perang melawan Iran kian meluas, melibatkan Hizbullah di Lebanon hingga milisi Syiah di Irak, dunia kini mulai menaruh perhatian pada satu doktrin keamanan Israel yang paling dirahasiakan dan mengerikan yakni Opsi Samson (Samson Option).
Doktrin ini bukanlah strategi militer biasa. Ini adalah kebijakan “upaya terakhir” (last-resort) yang bersifat apokaliptik. Namanya diambil dari tokoh Alkitab, Simson (Samson), yang saat sekarat dan dikhianati, meruntuhkan pilar kuil untuk membunuh dirinya sendiri bersama ribuan musuh yang menangkapnya.
Fokus terhadap Opsi Samson kembali mencuat setelah militer Iran (IRGC) mengklaim telah menyerang kantor Perdana Menteri Benjamin Netanyahu dengan rudal hipersonik Kheibar pada 3 Maret 2026. Meskipun media Israel melaporkan tidak ada korban jiwa, serangan ini menunjukkan bahwa IRGC siap melakukan pertempuran eksistensial.
Para ahli peringatkan bahwa jika Israel merasa berada di ambang kehancuran total akibat hujan rudal Iran, mereka mungkin tidak akan ragu untuk menarik “pilar kuil” dan membawa seluruh kawasan hancur bersama mereka.
Hingga detik ini, Israel tidak pernah secara resmi mengonfirmasi maupun membantah kepemilikan senjata nuklir. Strategi ini disebut sebagai Strategic Ambiguity (Ambiguitas Strategis).
Mengutip laporan Eurasian Times, jejak nuklir Israel pertama kali terendus kuat pada 1979, ketika satelit AS “Vela 6911” mendeteksi kilatan ganda di Samudera Hindia yang konsisten dengan ledakan nuklir. Meskipun intelijen AS yakin itu adalah uji coba Israel, pemerintahan Jimmy Carter saat itu memilih untuk tidak mengakuinya guna menghindari sanksi internasional.
Menurut Arms Control Association, Israel diperkirakan memiliki 90 hulu ledak nuklir, cadangan material fisil untuk sekitar 200 senjata serta senjata nuklir taktis yang bisa digunakan untuk menyapu pasukan penyerbu dalam jumlah besar.
Apa Sebenarnya Opsi Samson?
Berbeda dengan India atau China yang memegang prinsip No First Use (tidak akan menggunakan nuklir kecuali diserang nuklir lebih dulu), Opsi Samson tidak memberikan komitmen tersebut.
Doktrin ini menggarisbawahi bahwa Israel akan menggunakan senjata nuklir jika mereka kalah dalam perang konvensional yang mengancam keberadaan negara Yahudi tersebut. Pesannya jelas, jika Israel runtuh, musuh-musuhnya harus jatuh bersamanya.
Filosofi di balik doktrin ini adalah semangat “Never Again” (Tidak Akan Terulang Lagi). Israel bersumpah tidak akan membiarkan bangsa Yahudi menghadapi genosida lagi tanpa perlawanan maksimal, termasuk penghancuran total kawasan jika diperlukan.
Opsi Samson hampir saja dilaksanakan pada tahun 1967. Dokumen yang dideklasifikasi pada 2017 mengungkap bahwa saat Israel dikepung oleh Mesir, Suriah, Irak, dan Yordania, mereka memiliki “Rencana B”.
Rencana tersebut melibatkan peledakan bom nuklir di puncak gunung di Semenanjung Sinai sebagai peringatan terakhir bagi negara-negara Arab. Namun, karena Israel meraih kemenangan kilat hanya dalam enam hari, rencana tersebut tidak pernah dieksekusi.
