Hanya butuh 12 detik menyedot 6.000 liter air langsung dari permukaan laut dan sungai, pesawat amfibi Bombardier CL-415MP berbasis di Subang ini jadi senjata rahasia APMM Malaysia untuk libas kebakaran hutan.
WWW.JERNIH.CO – Malaysia menjadi satu-satunya negara di Asia Tenggara yang memiliki keunggulan taktis dalam menangani kebakaran hutan dan operasi pencarian serta pertolongan (SAR) maritim berkat pengoperasian armadanya yang terbilang langka di kawasan regional, yaitu armada amfibi pemadam kebakaran khusus (dedicated water scooper).
Armada ini dioperasikan penuh oleh Agensi Penguatkuasaan Maritim Malaysia (APMM) atau Malaysian Maritime Enforcement Agency (MMEA). Jenis pesawat yang digunakan adalah Bombardier CL-415MP (Maritime Patrol), varian amfibi serbaguna rancangan Kanada yang dirancang khusus untuk misi pemadaman api udara, patroli pantai, dan pengawasan maritim. Saat ini APMM mengoperasikan 2 unit pesawat Bombardier CL-415MP dalam struktur armada udara mereka.

Armada pesawat amfibi Bombardier CL-415MP milik Agensi Penguatkuasaan Maritim Malaysia (APMM) bertempat dan beroperasi di:Stesen Udara Maritim Subang (SUMS) (Lokasinya berdampingan dengan Pangkalan Udara Subang / Bandara Sultan Abdul Aziz Shah, Selangor, Malaysia). Pangkalan ini dikelola oleh Bahagian Operasi Udara (BOU) APMM sebagai pusat komando operasional dan perawatan armada udara maritim Malaysia.
Dari sisi spesifikasi teknis dan kapasitas angkut, Bombardier CL-415MP didesain tangguh untuk beroperasi di lingkungan laut maupun perairan darat. Pesawat ini mampu mengangkut hingga 6.137 liter (sekitar 1.621 galon) air dalam satu kali pengisian tangki internal dan dilengkapi tangki konsentrat busa khusus (retardant) yang dapat dicampur otomatis untuk meningkatkan daya padam terhadap api vegetasi yang pekat.
Ditenagai dua mesin turboprop Pratt & Whitney Canada PW123AF, pesawat ini memiliki daya tinggi untuk manuver ketinggian rendah di atas lokasi kebakaran atau permukaan laut. Khusus varian MP milik APMM, kelengkapannya ditunjang oleh sistem radar pengawas maritim, kamera FLIR (Forward-Looking Infrared), serta pintu samping khusus untuk drop perlengkapan penyelamatan SAR laut.
Keunggulan utama Bombardier CL-415MP terletak pada efektivitas dan efisiensi kemampuan water scooping (menyedot air secara langsung dari permukaan danau, sungai besar, atau laut). Pesawat hanya membutuhkan waktu sekitar 12 hingga 14 detik mendarat tipis di atas permukaan air pada kecepatan tinggi untuk mengisi penuh tangki airnya.
Dibandingkan pesawat konvensional yang harus mendarat di bandara untuk pengisian ulang, CL-415MP dapat terus berputar antara sumber air terdekat dan titik api sehingga mampu menjatuhkan puluhan ribu liter air secara berkelanjutan dalam satu jam operasi. Selain memadamkan kebakaran lahan gambut atau hutan yang memicu kabut asap, armada ini sangat efisien untuk misi pencarian korban tenggelam dan pengawasan perbatasan laut Malaysia berkat jarak jelajahnya yang jauh.
Harga satu unit baru pesawat Bombardier CL-415 berkisar antara Rp530 miliar hingga Rp620 miliar per unit, belum termasuk penyesuaian paket sensor patroli maritim (MP), suku cadang, dan pelatihan operasional. Pengoperasian Bombardier CL-415MP ini menjadikan Malaysia salah satu dari sedikit negara Asia Tenggara yang memiliki kesiapsiagaan udara paling responsif dalam mengatasi bencana kebakaran hutan dan krisis maritim. (*)
BACA JUGA: Asap Karhutla Lintas Batas: Kualitas Udara Malaysia Memburuk, Kasus Asma Melonjak 259 Persen