Site icon Jernih.co

Dulu Ditolak, Kini Dicari: Israel dan Dunia Arab Antre Berguru Teknologi Drone Interseptor ke Ukraina

Sebuah pesawat tak berawak terbang di atas Kyiv selama serangan pada 17 Oktober 2022 di tengah invasi Rusia ke Ukraina (AFP)

JERNIH – Perang melawan Rusia selama tiga tahun terakhir telah mengubah Ukraina menjadi laboratorium militer paling canggih di dunia. Kini, Ukraina bukan lagi sekadar penerima bantuan, melainkan pemimpin global dalam teknologi Drone Interseptor—pembunuh drone di udara yang jauh lebih murah dan efektif dibandingkan rudal jutaan dolar.

Ironisnya, Israel—negara yang dulu menolak memberikan bantuan pertahanan udara ke Kyiv—dikabarkan sedang mengupayakan pembicaraan khusus dengan Presiden Volodymyr Zelenskyy untuk mendapatkan teknologi ini.

Menurut laporan media Israel, Ynet, Perdana Menteri Benjamin Netanyahu telah meminta waktu untuk berdiskusi dengan Zelenskyy mengenai kerja sama pencegatan UAV (pesawat tanpa awak) buatan Iran.

Ini adalah perubahan sikap yang drastis. Di awal invasi Rusia, Israel menolak membantu Ukraina karena takut teknologi sensitif seperti Iron Dome jatuh ke tangan Rusia dan berakhir di Iran. Kini, dengan hujan drone Shahed yang menghantam wilayahnya, Israel sadar bahwa mereka butuh keahlian Ukraina yang sudah berpengalaman menjatuhkan ribuan “drone kamikaze” tersebut.

Alasan utama di balik perburuan teknologi Ukraina ini adalah biaya. Saat ini, AS dan sekutunya di Timur Tengah menggunakan sistem Patriot atau THAAD untuk menjatuhkan drone Iran. Masalahnya, satu rudal Patriot harganya sekitar US$4 juta (Rp63 miliar) sementara target yang disasar berupa drone Shahed Iran hanya berbiaya US$20.000 – $50.000.

Pentagon dilaporkan telah menghabiskan sekitar US$5,7 miliar hanya dalam empat hari pertama perang untuk menembaki drone dan rudal Iran. Seperti yang dikatakan Zelenskyy di hadapan parlemen Inggris, “Ribuan rudal Patriot tidak akan bisa menghentikan puluhan ribu Shahed. Satu drone Iran 40 kali lebih murah daripada satu rudal Patriot.”

Senjata ‘Mainan’ yang Mematikan

Ukraina menawarkan solusi yang jauh lebih masuk akal: Drone interseptor seharga US$1.000 hingga $2.000 saja. Drone ini sekilas tampak seperti roket mainan dari plastik hasil cetakan 3D, namun memiliki kemampuan mengerikan:

  1. The Sting (Wild Hornets): Quadcopter super cepat (343 km/jam) yang menggunakan AI dan kamera termal untuk menabrak Shahed di udara.
  2. P1-Sun (SkyFall): Telah menjatuhkan lebih dari 1.000 target dengan kecepatan di atas 450 km/jam.
  3. Bullet (General Cherry): Menggunakan mesin jet dan mampu beroperasi di ketinggian 5.500 meter.

Zelenskyy mengklaim bahwa 11 negara, termasuk AS, Arab Saudi, UEA, dan Qatar, telah meminta bantuan Kyiv. Bahkan, per 17 Maret 2026, dilaporkan ada 201 pakar anti-drone Ukraina yang sudah berada di kawasan Teluk, dengan 34 lainnya siap menyusul.

“Tim kami sudah ada di Emirat, Qatar, Arab Saudi, dan sedang dalam perjalanan ke Kuwait,” ujar Zelenskyy. Mereka melatih militer setempat cara mendeteksi dan melumpuhkan drone Iran menggunakan radar dan perangkat lunak yang tahan gangguan Electronic Warfare (EW).

Namun, Ukraina tidak memberikan teknologinya secara gratis. Zelenskyy menegaskan bahwa setiap kesepakatan harus bersifat timbal balik berupa investasi dana untuk pabrik drone di Ukraina sebagai ganti transfer teknologi.

CEO Dewan Industri Pertahanan Ukraina (UCDI), Ihor Fedirko, menyebut bahwa dengan investasi yang tepat, Ukraina bisa memproduksi drone 2,5 kali lebih banyak dari yang bisa dibeli negara-negara Timur Tengah. Keuntungan penjualannya akan langsung diputar untuk mendanai perang Ukraina melawan Rusia.

Exit mobile version