CrispyVeritas

Dunia Bersorak Teheran Skeptis, Warga Iran Tak Percaya ‘Damai’ dengan AS Bakal Awet

Sentimen pesimisme menjalar kuat di antara warga ibu kota karena isu-isu paling sensitif—seperti masa depan program nuklir, pencabutan sanksi permanen, dan nasib aset Iran yang dibekukan—masih sengaja ditunda pembahasannya.

JERNIH — Dunia internasional boleh saja menghela napas lega setelah Amerika Serikat dan Iran mengumumkan kesepakatan Nota Kesepahaman (MoU) untuk mengakhiri perang pada Minggu (14/06/2026). Namun, di jalanan kota Teheran—di mana warganya telah kelelahan akibat sanksi bertahun-tahun—pengumuman gencatan senjata ini sama sekali tidak menghadirkan rasa percaya diri bahwa krisis telah benar-benar berakhir.

Di atas kertas, perjanjian yang akan ditandatangani di Swiss pada Jumat (19/06/2026) ini bakal membuka kembali Selat Hormuz yang dikuasai Iran sejak perang pecah 28 Februari lalu. Sebagai imbalannya, AS berjanji mencabut blokade laut di pelabuhan selatan Iran yang selama ini mencekik ekonomi mereka. Namun, bagi masyarakat akar rumput, perdamaian jangka panjang masih terasa sangat jauh dan semu.

Sentimen pesimisme menjalar kuat di antara warga ibu kota karena isu-isu paling sensitif—seperti masa depan program nuklir, pencabutan sanksi permanen, dan nasib aset Iran yang dibekukan—masih sengaja ditunda pembahasannya.

“Saya pikir kesepakatan ini tidak membawa manfaat besar bagi rakyat, karena tidak akan benar-benar ditegakkan secara penuh untuk membawa stabilitas pada hidup kami. Ini mungkin berhasil untuk saat ini, tetapi kedua belah pihak pasti akan merusaknya demi kepentingan mereka sendiri,” ungkap Parisa, seorang mahasiswi di Teheran yang meminta identitasnya dirahasiakan demi alasan keamanan.

Senada dengan Parisa, warga Teheran lainnya bernama Mehdi, mengaku ragu gencatan senjata ini bisa bertahan lama mengingat banyaknya tuntutan Iran yang belum tentu sudi diterima oleh Washington. Warga menegaskan, sebelum kesepakatan jangka panjang terwujud, sanksi kejam AS dan PBB yang membuat Iran miskin dan terisolasi harus dicabut total terlebih dahulu.

Kemarahan Kelompok Garis Keras Iran

Selain pesimisme warga sipil, pemerintah Iran juga menghadapi tekanan internal yang hebat dari kelompok garis keras (hardliners). Iran sengaja menahan pengumuman kesepakatan ini hingga melewati tengah malam waktu lokal menuju hari Senin (15/06/2026). Langkah ini dilakukan agar berita kemenangan diplomasi tersebut tidak terkesan menjadi “hadiah ulang tahun” bagi Presiden AS Donald Trump yang jatuh pada hari Minggu.

Di Lapangan Valiasr, pusat kota Teheran, otoritas setempat justru memajang mural hitam raksasa yang menampilkan mendiang Pemimpin Tertinggi Ayatollah Ali Khamenei—yang tewas pada awal perang 28 Februari lalu dan dijadwalkan dimakamkan pada Juli mendatang. Semasa hidupnya, Khamenei dikenal sebagai tokoh yang konsisten menyuarakan ketidakpercayaan mutlak terhadap AS.

Dalam berkumpulnya pasukan pro-pemerintah di jalan-jalan kota, banyak pihak meratapi kegagalan Iran untuk membalas dendam atas kematian Khamenei kepada AS. Mereka menentang keras segala bentuk konsesi (mengalah) kepada Washington dan mengkritik habis-habisan tim negosiasi serta pejabat keamanan Iran.

Seorang wanita pro-pemerintah bernama Mohadese secara blak-blakan mengatakan kepada Al Jazeera bahwa Iran seharusnya tidak melunak. “Menurut saya, kesepakatan ini tidak akan bertahan; AS pasti akan melanggarnya lagi. Lebih baik kita tetap teguh pada posisi kita, misalnya tetap menutup Selat Hormuz dan tidak membiarkannya terbuka,” ujarnya.

Di balik layar, situasi sempat mencekam ketika Sekretaris Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Iran, Mohammad Bagher Zolghadr, sempat menjanjikan “balasan para pejuang Islam sudah dekat” setelah Israel membom pinggiran kota Beirut pada hari Minggu. Namun, beberapa jam kemudian, badan pengambil keputusan tertinggi Iran justru memilih mengonfirmasi draf perdamaian dengan AS tanpa meluncurkan serangan balasan ke Israel.

Media internal Iran membocorkan bahwa ada barter politik instan yang terjadi di menit-menit akhir.  Donald Trump setuju untuk SEGERA mencabut blokade laut saat itu juga (dari yang awalnya dinegosiasikan bertahap selama 30 hari), dengan syarat Iran membatalkan semua rencana serangan balasan ke Israel.

Sementara itu di pihak lawan, Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu justru dihujani kritik dari oposisi dalam negerinya yang menganggap kesepakatan AS-Iran ini sebagai kegagalan telak bagi Israel. Menteri Pertahanan Israel, Israel Katz, bahkan menegaskan bahwa militer mereka sama sekali tidak berencana menarik pasukan pendudukan dari Lebanon, Suriah, atau Jalur Gaza, dan akan membalas dengan kekuatan penuh jika Iran berani menyerang.

Meskipun situasi politik dan psikologis warga diselimuti skeptisisme, sektor ekonomi dan pasar keuangan Iran justru langsung berpesta menyambut meredanya konflik bersenjata ini. Rial Iran menguat tajam ke angka 1,61 juta rial per US Dollar (menguat selama 3 hari berturut-turut dari rekor terburuknya bulan lalu di angka 1,9 juta rial).

Indeks Bursa Efek Teheran melesat mencetak rekor tertinggi baru sepanjang sejarah, menyentuh angka hampir 5 juta poin pada penutupan perdagangan Senin. Sementara harga koin emas di Teheran terus merosot turun seiring pulihnya kepercayaan pasar pada stabilitas ekonomi lokal.

Televisi pemerintah Iran kini terus membingkai hasil kesepakatan ini sebagai kemenangan besar mereka. Dalam siaran utamanya, mereka menyatakan: “AS telah dipaksa menandatangani nota kesepahaman untuk mengakhiri perang melawan Republik Islam dan Poros Perlawanan.”

Check Also
Close
Back to top button