Site icon Jernih.co

Dunia di Ambang Perang Besar: Ini Daftar Negara Teraman, Termasuk Indonesia?

Serangan AS-Israel ke permukiman penduduk Iran. Sumber: New York Times

JERNIH – Eskalasi militer yang meledak setelah serangan udara Amerika Serikat dan Israel ke Iran pada awal Maret 2026 ini telah membunyikan alarm kekhawatiran pecahnya Perang Dunia III. Di tengah ancaman nuklir dan blokade ekonomi global, publik mulai mencari tahu di mana titik-titik paling aman untuk berlindung jika konflik berskala luas benar-benar terjadi.

Laporan terbaru dari The Sun, Metro UK, dan data Global Peace Index (GPI) memetakan sejumlah wilayah yang dinilai relatif aman karena faktor geografis yang terpencil, netralitas politik, hingga kemandirian sumber daya alam.

Benteng Pertahanan Alami dan Netralitas

Beberapa negara menempati urutan teratas karena kombinasi perlindungan alam dan sejarah perdamaian yang panjang:

  1. Islandia: Konsisten sebagai negara paling damai di dunia (Peringkat 1 GPI). Memiliki kemandirian energi terbarukan dan air tawar yang melimpah.
  2. Selandia Baru: Dikenal dengan kebijakan anti-nuklir dan kemampuan produksi pangan mandiri yang kuat di tengah isolasi geografisnya.
  3. Swiss: Memiliki tradisi netralitas selama dua abad dan sistem bunker nuklir yang tersebar di wilayah pegunungan Alpen.
  4. Bhutan: Negara yang terkurung daratan tinggi Himalaya ini memiliki lapisan perlindungan alami dan komitmen netralitas sejak bergabung dengan PBB.
  5. Antartika: Secara geografis paling jauh dari pemilik senjata nuklir, meski iklim ekstrem menjadi tantangan utama untuk bertahan hidup.

Ketahanan Pangan sebagai Kunci Bertahan

Dalam skenario perang nuklir, asap dapat menghalangi sinar matahari dan merusak panen global. Negara dengan produksi pangan besar menjadi sangat krusial:

Posisi Indonesia: Antara “Bebas Aktif” dan Realita Geopolitik Baru

Indonesia turut disebut sebagai salah satu tempat yang relatif aman. Alasan utamanya adalah sektor pertanian yang telah dikembangkan bertahun-tahun, sehingga dinilai mampu bertahan jika rantai pasok global terhenti.

Namun, posisi Indonesia saat ini memicu perdebatan hangat di kalangan pengamat geopolitik:

Laporan Al Jazeera mencatat bahwa ketegangan bukan hanya terjadi di Timur Tengah. Konflik berkepanjangan Rusia-Ukraina serta ketegangan di perbatasan Afghanistan-Pakistan semakin memperkeruh situasi. Dalam kondisi ini, negara yang mampu mandiri secara energi dan pangan, serta secara geografis sulit dijangkau konflik, menjadi harapan terakhir bagi warga dunia.

Apakah posisi diplomasi Indonesia mampu menjaganya tetap aman di tengah pusaran konflik AS-Iran? Waktu yang akan menjawab seberapa efektif kebijakan luar negeri kita dalam melindungi kedaulatan di masa krisis ini.

Exit mobile version