JERNIH – Hutan pinus tua yang rindang, perkebunan zaitun warisan turun-temurun, serta lahan pertanian yang menjadi penopang hidup warga di wilayah selatan Libanon kini perlahan berencana diubah menjadi padang abu. Di balik riuh tembakan dan ketegangan militer, sebuah ancaman tak kalah mematikan tengah berlangsung secara sistematis: ekosida—penghancuran ekosistem secara sengaja yang tak hanya merusak lingkungan, tetapi juga memutus urat nadi kehidupan warga lokal.
Meski gencatan senjata telah disepakati sejak 17 Juni lalu, berbagai kesaksian dari petugas pemadam kebakaran, warga setempat, hingga lembaga konservasi lingkungan mengungkapkan fakta kelam. Pasukan pendudukan Israel disinyalir secara rutin melancarkan serangan pembakaran menggunakan bom fosfor putih, amunisi insendiar, hingga drone pengangkut bahan bakar untuk membumihanguskan kawasan hijau di sepanjang perbatasan.
Berdasarkan laporan Civil Defense di wilayah Nabatieh, operasi pemadam kebakaran di Libanon selatan kini hampir seluruhnya berfokus pada penanganan kebakaran hutan dan lahan pertanian yang dipicu oleh amunisi militer.
Kepala Civil Defense Nabatieh, Hussein Fakih, mengungkapkan bahwa sekitar 30 hingga 40 persen kawasan hutan di sepanjang garis depan pertempuran telah habis dilalap api.
“Mereka memulainya tepat setelah gencatan senjata. Setiap hari ada bom pembakar yang dijatuhkan. Drone-drone kecil melintas dan menjatuhkan material pembakar, amunisi fosfor putih ditembakkan ke arah hutan, ditambah suar penerangan yang dijatuhkan pada siang hari agar vegetasi kering mudah terbakar,” ujar Fakih.
Petugas pemadam kebakaran bahkan harus mempertaruhkan nyawa di tengah tugas kemanusiaan. Pada Selasa lalu di luar wilayah Khiam, saat tim pemadam berusaha menjinakkan kobaran api yang dipicu suar penerangan Israel, sebuah drone militer mendadak mendaratkan serangan di dekat lokasi kejadian dan memaksa tim evakuasi mundur.
Pola perusakan lingkungan ini bukanlah hal baru. Sejak eskalasi konflik memuncak pada Oktober 2023, berbagai metode unik sekaligus destruktif telah dikerahkan. Pada musim panas 2024, pasukan Israel kedapatan menggunakan trebuchet—katapel kayu gaya Abad Pertengahan—untuk melontarkan bola-bola api melewati tembok perbatasan ke arah wilayah Libanon.
Tentara Libanon juga merilis bukti foto drone Israel yang dilengkapi selang khusus untuk menyemprotkan cairan mudah terbakar ke area vegetasi. Februari lalu, pakar kesehatan dan lingkungan melayangkan krisis usai jet tempur Israel menjatuhkan herbisida berbahaya yang memicu risiko kanker di area komersial pertanian Libanon selatan.
Birokrasi Mematikan dan Hambatan Pemadaman
Di lapangan, upaya menjinakkan api dihadang tembok birokrasi yang rumit. Kepala Pos Civil Defense Lokal, Samir Hardan, menuturkan bagaimana kebakaran besar yang melanda Kfarchouba serta kawasan antara Jezzine dan Lembah Bekaa Barat harus ditangani dengan pergerakan yang sangat terbatas.
Setiap kali hendak menuju titik api, tim pemadam kebakaran wajib mengoordinasikan pergerakan mereka dengan Tentara Libanon, yang kemudian meneruskan permohonan ke kelompok “deconfliction” yang melibatkan militer Israel. Hasilnya, akses pemadaman sering kali ditolak di titik-titik krusial, membiarkan lidah api terus melahap sisa-sisa vegetasi yang ada.
Bagi para pakar lingkungan, perusakan ini bukan sekadar dampak sampingan dari sebuah perang, melainkan strategi militer terencana untuk mengubah lanskap wilayah (territorial transformation).
Pendiri organisasi konservasi Green Southerners, Hisham Younes, menegaskan bahwa hutan pinus batu (stone pine) dan pohon oak di Libanon selatan memegang peran krusial bagi keseimbangan ekologi serta menjadi jalur persinggahan penting bagi burung-burung migran.
“Ini bukan tentang satu kebakaran atau satu serangan isolated, melainkan pola perusakan yang secara bertahap mengikis kemampuan ekosistem untuk berfungsi, beregenerasi, dan menopang kehidupan. Ketika dampak berantai ini menghancurkan mata pencaharian dan kemampuan warga untuk bertahan di tanah mereka, perusakan lingkungan menjadi tak terpisahkan dari penguasaan wilayah,” tegas Younes.
Dampak emosional dan ekonomi paling dalam dirasakan oleh warga lokal. Di desa perbatasan Yaroun, warga yang terpaksa mengungsi mendapati kenyataan pahit bahwa dari 900 rumah yang ada, sekitar 880 di antaranya telah diratakan dengan buldoser. Tak berhenti di situ, perkebunan zaitun tua milik warga turut dibakar habis.
Wali Kota Yaroun, Hafez Ghasham, menyebut aksi tersebut sebagai upaya sistematis untuk membuat tanah kelahiran mereka tidak lagi dapat dihuni. “Sebagian besar pohon zaitun ini adalah warisan dari kakek-nenek dan orang tua kami. Nilai emosionalnya luar biasa tinggi, sekaligus menjadi sumber penghasilan utama warga desa. Mereka berusaha membuat tanah ini tidak bisa dihuni kembali. Mereka menghapus sejarah kami, kebudayaan kami, dan seluruh kenangan kami—seolah-olah tidak pernah ada kehidupan di sini,” tambah Ghasham.
