Partisipasi tahun ini memiliki arti yang lebih khusus. Ini merupakan keikutsertaan pertama Indonesia di Venice Biennale di bawah Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia yang kini berdiri sendiri. Menteri Kebudayaan Fadli Zon menyebut kehadiran Indonesia bukan semata untuk memamerkan kebudayaan kepada dunia, tetapi ikut membentuk percakapan global melalui seni.
JERNIH– Di sebuah kota tua yang dibangun dari kanal, batu, dan sejarah panjang peradaban Eropa, Indonesia kembali datang membawa sesuatu yang tak kasatmata: imajinasi Nusantara. Bukan sekadar lukisan, bukan pula hanya karya seni yang dipajang di dinding-dinding galeri, melainkan cara lain memandang sejarah, ingatan, dan masa depan manusia.
Itulah yang coba dihadirkan Paviliun Indonesia dalam Pameran Seni Internasional ke-61 Venice Biennale 2026 di Venesia, Italia. Tahun ini, Indonesia tampil dengan tajuk “Printing the Unprinted”, sebuah tema yang terdengar puitis sekaligus provokatif: mencetak apa yang selama ini tak pernah tercetak, menghadirkan suara-suara yang lama terpendam dalam sejarah global.
Paviliun Indonesia yang dibuka pada 7 Mei 2026 itu menempati ruang Scuola Internazionale di Grafica di kawasan Cannaregio, Venesia. Pemilihan lokasi itu bukan tanpa alasan. Tempat tersebut memiliki sejarah panjang dalam praktik seni grafis dan seni cetak, sehingga dianggap sejalan dengan semangat pameran yang menjadikan printmaking bukan sekadar medium artistik, melainkan ruang perjumpaan ide dan pembacaan ulang atas sejarah.
Bagi pemerintah Indonesia, partisipasi tahun ini memiliki arti yang lebih khusus. Ini merupakan keikutsertaan pertama Indonesia di Venice Biennale di bawah Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia yang kini berdiri sendiri. Menteri Kebudayaan Fadli Zon menyebut kehadiran Indonesia bukan semata untuk memamerkan kebudayaan kepada dunia, tetapi ikut membentuk percakapan global melalui seni.
“Kami meyakini bahwa budaya bukan sekadar warisan, tetapi juga fondasi bagi masa depan. Indonesia hadir bukan hanya untuk memperkenalkan kebudayaan kepada dunia, tetapi juga untuk ikut membentuk percakapan global melalui seni,” kata Fadli Zon dalam pembukaan paviliun Indonesia di Venesia.
Pernyataan itu terasa penting di tengah situasi global yang semakin dipenuhi ketegangan geopolitik, krisis identitas, dan pertarungan narasi antarbangsa. Di tengah dunia yang makin gaduh oleh politik dan ekonomi, Indonesia tampaknya ingin berbicara lewat jalur lain: kebudayaan.

Dan Indonesia memang memiliki modal besar untuk itu. Negara kepulauan dengan lebih dari 17 ribu pulau, 1.340 kelompok etnis, serta ratusan bahasa daerah itu disebut Fadli sebagai salah satu ekosistem budaya paling dinamis di dunia. Bahkan, menurutnya, jejak prasejarah Nusantara menunjukkan bahwa kawasan ini telah lama menjadi salah satu pusat kreativitas tertua umat manusia.
Semangat itulah yang kemudian diterjemahkan ke dalam “Printing the Unprinted”. Tema ini mempertemukan tujuh seniman lintas generasi: Agus Suwage, Syahrizal Pahlevi, Nurdian Ichsan, R.E. Hartanto, Theresia Agustina Sitompul, Mariam Sofrina, dan Rusyan Yasin.
Lewat medium seni cetak grafis, mereka mencoba menghadirkan proses penciptaan sebagai arena dialog—tentang identitas, sejarah, bahkan kemungkinan masa depan Nusantara. Pameran ini juga dibangun dari sebuah narasi fiksi mengenai pelayaran besar abad ke-15 yang terinspirasi dari manuskrip imajiner Datu Na Tolu Hamonangan dari Harajaon Pusuk Buhit di Sumatra. Dari titik itu, para seniman lalu menggugat cara dunia membaca sejarah: siapa sebenarnya yang menemukan siapa? Dari sudut mana sejarah global ditulis?
Di sinilah Venice Biennale menjadi lebih dari sekadar pameran seni. Ia berubah menjadi ruang perebutan tafsir sejarah dan identitas.
Kurator paviliun Indonesia, Aminudin TH Siregar, tampaknya ingin agar karya-karya Indonesia tidak berhenti sebagai eksotisme Timur di mata Barat. Karena itu, proses produksi karya tidak hanya dilakukan di Indonesia lalu dikirim ke Venesia. Sebagian karya justru dikembangkan melalui residensi, dialog, dan kolaborasi langsung di Venesia.
Pendekatan kolaboratif itu juga diperluas melalui program Manajemen Talenta Nasional Seni Budaya bersama Negeri Elok, yang melibatkan tujuh talenta muda Indonesia untuk bekerja bersama para seniman paviliun. Menariknya, pendekatan yang digunakan bukan sekadar artistik, tetapi juga art therapy: seni diperlakukan sebagai medium membangun empati, merawat ingatan, meredakan trauma, hingga memperkuat ketahanan personal dan kolektif.
Karena itu, Paviliun Indonesia tahun ini terasa berbeda. Ia bukan hanya ruang pamer karya, tetapi juga ruang penyembuhan, ruang dialog lintas generasi, sekaligus ruang untuk mencari makna bersama di tengah dunia yang makin tercerai-berai.
Selain pameran utama, Indonesia juga menghadirkan residensi seniman, diskusi seni, lokakarya, hingga simposium yang berlangsung sepanjang 9 Mei sampai 22 November 2026. Seluruh rangkaian program itu diarahkan untuk memperluas jejaring seni Indonesia di tingkat internasional sekaligus memperkuat diplomasi budaya Indonesia.
Fadli Zon menyebut kebudayaan tidak mungkin berkembang sendirian. Ia membutuhkan dukungan lintas sektor—pemerintah, publik, maupun swasta. Karena itu, pemerintah juga mencoba menghubungkan seni dengan ekonomi kreatif, mulai dari seni visual, film, musik, sastra, hingga animasi, gim, dan budaya digital.
“Budaya adalah sumber identitas, nilai, dan imajinasi, sementara ekonomi kreatif menjadi kekuatan yang mengubah budaya menjadi inovasi, peluang, dan pengaruh global,” kata Fadli.
Di tengah arus globalisasi yang sering membuat banyak bangsa kehilangan akar kebudayaannya sendiri, Indonesia tampaknya ingin mengirim pesan lain dari Venesia: bahwa tradisi dan masa depan tidak harus saling meniadakan. Bahwa dari kepulauan yang jauh di Asia Tenggara itu, seni masih dipercaya sebagai bahasa universal untuk berbicara tentang manusia.
Dan di kota kanal bernama Venesia itu, Indonesia tampaknya sedang mencoba menulis ulang percakapan dunia—dengan tinta imajinasi Nusantara. []