Site icon Jernih.co

Faktor Urea: Bagaimana Perang AS/Israel vs Iran Bisa Bikin Dunia Kelaparan?

JERNIH — Banyak media sibuk meributkan dampak perang AS/Israel vs Iran terhadap pasokan minyak dunia, dengan menyebut sejumlah negara mengalami krisis energi. Satu hal yang jarang disinggung adalah perang ini berpotensi membuat dunia kelaparan.

Iran, menurut PressTV, berada di jatung jalur perdagangan pupuk dunia. Urea, zat yang dibutuhkan dalam pertanian modern, melewati Selat Hormuz dalam jumlah yang cukup untuk menyuburkan pertanian seluruh benua.

Sebanyak 35 persen perdagangan urea global melewat Selat Hormuz. Arab Saudi, eksportir urea terbesar di dunia, mengirim urea melewati pantai Iran. Oman, eksportir urea ketiga terbesar di dunia, Qatar dan UEA yang berada di belakangnya, mengirim urea dengan kapal yang dalam jangkauan wilayah Iran.

Semua ini berlangsung bertahun-tahun, tapi baru kali ini berubah. Perang AS/Israel vs Iran mengubah Selat Hormuz menjadi zona berbahaya. Iran menutup Selat Hormuz. AS memblokade pelabuhan-pelabuhan Iran.

Premi asuransi meroket. Perusahaan pelayaran mulai mengubah rute atau menangguhkan layanan. Pedagang pupuk menimbun persediaan. Hasilnya, bencana senyap berlangsung, harga pupuk global melonjak lebih dari seperempat dalam satu bulan. Jika krisis berlanjut, menurut Food and Agriculture Organization (FAO), harga pupuk bisa naik lagi antara 15 sampai 20 persen pada pertengahan musim panas.

Perang mencekik perdagangan pupuk global, mendorong petani AS ke ambang kebangkrutan, dan meningkatkan kemungkinan nyata, yaitu kelaparan di beberapa negara paling rentan di dunia.

Financial Times, dalam penilaian paling cermat tentang lintasan perang, memperingatkan bahwa kelaparan adalah konsekuensi yang dapat diprediksi dari perang ini. Satu-satunya negara yang dapat menghindari dunia dari krisis pangan global, menurut Financial Times, sedang berusaha dimusnahkan oleh AS dan Israel.

Memahami Posisi Iran

Untuk menjawab pertanyaan mengapa posisi Iran sangat penting bagi pasokan pangan dunia, siapa pun harus kembali ke pertengahan abad ke-20, ketika Revolusi Hijau mengubah pertanian global dan varietas baru gandum dan beras yang berdaya hasil tinggi muncul dari laboratorium..

Saat itu, pupuk sintetis membanjiri ladang. Pestisida dan irigasi pompa menyusul. India, yang pernah dilanda kelaparan hebat, meningkatkan produksi gandum lebih dua kali lipat antara 1960-an dan awal 1970-an. Di seluruh Asia dan Amerika Latin, varietas baru tanaman pangan menekan kelaparan dan mendukung pertumbuhan penduduk.

Namun varietas baru gandum dan beras muncul dengan syarat tersembunyi, yaitu kebutuhan akan pupuk industri dalam jumlah besar dan berulang untuk menghasilkan panen yang dijanjikan. Pupuk yang diperlukan berbasis nitrogen seperti urea dan amonium nitrat.

Pupuk itu terbuat dari gas alam. Jadi, bagaimana Revolusi Hijau diam-diam mengubah pertanian menjadi cabang industri bahan bakar fosil, menyebabkan ladang-ladang pertanian di dunia naik dan turun mengikuti harga gas alam.

Yang terjadi berikutnya adalah negara-negara Teluk mulai menginvestasikan kekayaan hidrokarbon mereka ke industri kimia hilir. Arab Saudi, Qatar dan Oman, beralih dari minyak mentah menjadi produsen utama amonia, urea, dan pupuk lainnya.

Tahun 2024 negara-negara Teluk Persia menyumbang 35 persen perdagangan global urea, dengan Arab Sud sebagai eksportir terbesar dan Oman di peringkat ketiga. Inilah yang membuat ketiga kaya raya.

Membom Iran, Duka Petani AS

Masalah pasokan pupuk dari Teluk Persia ke seluruh dunia muncul sejak hari pertama bom Donald Trump dan Benjamin Netanyahu jatuh di wilayah Iran. Saat itu di Midwest, AS, petani yang sedang mempersiapkan tanam musim semi tidak mampu membeli pupuk yang diperlukan.

Survei Federasi Biro Pertanian AS menyebutkan hampir 70 persen responden dalam survei awal April 2026 melaporkan tidak mampu membeli semua pupuk yang dibutuhkan untuk ladang mereka. Harga urea melonjak ke level tertinggi yang pernah tercatat.

Petani terpaksa mengurangi pemupukan di ladang mereka, yang berarti panen akan merosot, pendapatan menurun, dan harga pangan akan melonjak dan merepotkan keluarga-keluarga berpenghasilan menengah dan rendah.

AS melancarkan perang ini untuk melumpuhkan AS. Ironisnya, Presiden AS Donald Trump harus menyaksikan sektor pertanian mengalami kelumpuhan akibat kebijakan agersif-nya.

Iran mencoba melawan serangan AS/Israel, dan serangan itu membawa dampak luar biasa karena Iran memegang kunci tak terduga untuk seluruh krisis. Itu bukan senjata yang dipilih Iran, tapi tanggung jawab yang dibebankan kepadanya karena ketergantungan dunia.

Washington perlu menyadari betapa negara yang mereka bom hari ini adalah negara yang dapat menyelamatkan dunia dari kelaparan.

Exit mobile version