Site icon Jernih.co

Gali Parit 170 Meter, Israel Berencana Sebar Buaya Nil Jaga Penjara Tahanan Palestina

Ilustrasi penjara Israel (Foto: Getty)

JERNIH — Pemerintah Israel dilaporkan tengah menyiapkan langkah keamanan ekstrem yang memicu kontroversi luas. Layanan Penjara Israel menggali parit sepanjang 170 meter di sekitar kompleks fasilitas penahanan Ketziot guna menampung buaya Nil (Nile crocodile) sebagai barikade pengawasan terhadap para tahanan Palestina.

Laporan media lokal menyebutkan bahwa pembangunan parit tersebut dipusatkan di sekitar salah satu sayap keamanan ketat (security wing) Penjara Ketziot dan dirancang agar tidak terlihat dari area luar kompleks.

Seorang pejabat lokal dari Dewan Regional Ramat Negev membenarkan adanya aktivitas fisik di lokasi tersebut. “Tidak ada yang tahu secara pasti kapan buaya-buaya itu tiba, tetapi persiapan teknis sedang berjalan,” ujarnya sebagaimana dikutip Kamis (23/7/2026).

Kementerian Keamanan Nasional Israel pun mengonfirmasi bahwa penempatan predator puncak tersebut masuk dalam rencana pengamanan fasilitas tahanan.

Kebijakan terbilang ekstrem ini digagas oleh Menteri Keamanan Nasional Israel yang berhaluan kanan jauh, Itamar Ben-Gvir. Wacana ini pertama kali diusulkan Ben-Gvir pada Desember 2025 lalu. Gagasan tersebut disinyalir mengadopsi konsep fasilitas penahanan migran di Florida, Amerika Serikat, yang populer dengan julukan “Alligator Alcatraz”.

Untuk merealisasikan proyek ini, pemerintah Israel telah mengalokasikan anggaran fantastis sebesar 21 juta shekel (sekitar US$6,3 juta atau Rp102 miliar). Dana tersebut mencakup pemeliharaan hewan, pembangunan penangkaran khusus di area penjara, hingga pelatihan bagi para sipir penjara (correctional officers) mengenai tata cara penanganan buaya Nil.

Rencana pemanfaatan buaya Nil sebagai elemen penjaga penjara melahirkan penolakan dan perdebatan sengit di tingkat birokrasi Israel. Menteri Perlindungan Lingkungan, Idit Silman, mendukung kebijakan ini dengan mengklasifikasikan buaya Nil sebagai “hewan liar yang dimanfaatkan/dijinakkan” untuk kepentingan keamanan.

Di sisi lain, sejumlah pejabat teknis dan pakar di lingkungan Kementerian Perlindungan Lingkungan justru melayangkan keberatan keras terkait risiko keselamatan, perlakuan terhadap satwa (animal welfare), serta efektivitas logistiknya.

Penjara Ketziot sendiri menampung ratusan warga Palestina yang ditangkap otoritas Israel sejak eskalasi konflik pecah pada 8 Oktober 2023. Sebagian besar dari mereka dituduh terlibat dengan unit militer Nukhba dari sayap bersenjata Hamas.

Pemerintah Israel berencana membawa para tahanan tersebut ke pengadilan militer khusus. Namun, langkah menjadikan parit berisi reptil buas sebagai sarana penahanan dinilai berbagai pengamat internasional berpotensi memicu gelombang kecaman baru terkait pelanggaran standar hukum kemanusiaan internasional.

Exit mobile version