Crispy

Gedung 9 Lantai Roboh di Filipina, Jeritan Korban Terdengar di Bawah Reruntuhan

JERNIH – Tim penyelamat berpacu dengan waktu menerobos puing-puing bangunan sembilan lantai yang runtuh secara tragis di Filipina pada Minggu (24/5/2026) dini hari. Otoritas setempat melaporkan setidaknya 23 orang dinyatakan hilang dan diduga kuat tertimbun hidup-hidup, di tengah suara jeritan minta tolong yang mulai terdengar dari balik reruntuhan beton.

Gedung sembilan lantai yang telah berada dalam proses konstruksi selama lebih dari dua tahun tersebut tiba-tiba ambruk total pada Minggu sekitar pukul 03.00 waktu setempat (19.00 GMT Sabtu). Insiden maut ini terjadi di Angeles City, sebuah wilayah yang terletak sekitar 80 kilometer (50 mil) di sebelah utara ibu kota Manila.

Efek karambol dari ambruknya gedung ini juga dilaporkan merusak parah bangunan hotel yang berada tepat di sebelahnya. Juru Bicara Regional Biro Perlindungan Kebakaran Filipina, Maria Leah Sajili, mengonfirmasi bahwa harapan hidup para korban masih ada setelah tim lapangan mendengar tanda-tanda kehidupan saat melakukan asesmen awal.

“Tim penyelamat yang melakukan penilaian awal mendengar seseorang menangis histeris kesakitan dari bawah reruntuhan,” ungkap Maria Leah Sajili kepada awak media dengan nada genting.

Merespons situasi darurat tersebut, Manajer Umum Otoritas Pengembangan Metropolitan Manila, Nicolas Torre, menyatakan bahwa pihaknya langsung menerjunkan tim elit beserta peralatan mutakhir ke lokasi bencana.

“Kami mengirimkan anjing pelacak kepolisian dan peralatan penyelamatan khusus. Kami juga mengerahkan life monitor (pemantau detak jantung), alat pendengar bawah tanah (listening devices), serta rescue spreaders (alat peregang beton) untuk membantu petugas di lapangan karena banyak material puing yang harus dipotong dan diangkat demi melokalisasi keberadaan korban,” jelas Nicolas Torre kepada AFP.

Lebih dari 12 jam pasca-kejadian, tumpukan tiang beton yang hancur dan jalinan besi baja yang bengkok tampak menutupi seluruh area situs konstruksi. Di bawah terik matahari tropis yang menyengat, jurnalis AFP di lokasi melaporkan bahwa seluruh reruntuhan masif itu kini diselimuti oleh lembaran plastik pelindung hijau yang biasa digunakan di proyek bangunan.

Seorang kurir pengantar makanan online, James Bernardo (30), menceritakan detik-detik mencekam saat dirinya nyaris menjadi korban dalam bencana tersebut.

“Beberapa detik setelah saya menurunkan pesanan makanan di jalan yang sama, tiba-tiba terdengar suara gemuruh yang sangat keras di area tersebut. Begitu saya menoleh, saya menyadari bangunan (sembilan lantai) itu sudah runtuh total. Demi Tuhan, bersyukur saya selamat,” ujar Bernardo saat dihubungi via telepon.

Bernardo sempat merekam video amatir sesaat setelah kejadian yang kemudian diverifikasi oleh AFP. Dalam rekaman tersebut, terlihat tumpukan raksasa balok baja yang terpuntir, tiang listrik yang tumbang, dan bongkahan beton besar memblokir jalanan kota. “Kami pikir itu gempa bumi, ternyata bangunannya yang ambruk,” suara Bernardo terdengar bergetar di dalam video tersebut.

Petugas Informasi Kota, Jay Pelayo, menjelaskan kepada AFP bahwa dinding dan perancah (scaffolding) dari gedung sembilan lantai tersebut tertekuk ke dalam, yang kemungkinan besar langsung mengubur para pekerja di bawah tumpukan material. Sampai saat ini, penyebab pasti dari runtuhnya struktur bangunan tersebut masih dalam proses investigasi mendalam.

“Tantangan terbesar bagi tim penyelamat saat ini adalah keberadaan bongkahan beton berukuran raksasa. Kami membutuhkan alat berat khusus untuk mengangkatnya satu per satu demi bisa mencapai titik para korban yang terjebak,” papar Pelayo.

Pemerintah kota menyatakan bahwa seluruh korban selamat yang berhasil dievakuasi kini berada dalam kondisi medis yang stabil di rumah sakit terdekat. Proses wawancara mendalam terus dilakukan oleh otoritas berwenang untuk mencocokkan identitas korban selamat dengan daftar pekerja proyek guna memastikan jumlah pasti korban yang masih tertimbun di dalam tanah.

Back to top button