Sirkuit Internasional Shanghai menjadi saksi bisu pergantian takhta. Kimi Antonelli (19) resmi menjadi pemenang Grand Prix termuda dalam sejarah Mercedes, sementara sang mentor, Lewis Hamilton, akhirnya mengakhiri puasa podium panjangnya sejak 2024.
WWW.JERNIH.CO – Kimi Antonelli tak kuasa menahan air mata haru saat wawancara dengan David Coulthard usai ia memenangi GP F1 China. Sang kolega George Russel merangkulnya.
Harap maklum. Kemenangan ini seperti mewujudkan impiannya pertama kali. “Terima kasih semua, kalian telah membuat mimpiku jadi nyata,” ujar Kimi lewat radio kepada tim Mercedes. Ayahnya Paul Antonelli ada di pit stop, juga tak kalah senang.
Dunia Formula 1 baru saja menyaksikan sebuah pergeseran tektonik di Sirkuit Internasional Shanghai. Jika musim-musim sebelumnya didominasi oleh satu warna, GP China 2026 menjadi proklamasi bahwa era baru telah tiba. Di tengah gemuruh ribuan penggemar, Kimi Antonelli memberikan pelajaran tentang ketenangan di bawah tekanan ekstrem.

Faktor utama kemenangannya terletak pada keunggulan paket mekanis Mercedes W17 yang sangat efisien dalam penggunaan energi hibrida di trek lurus panjang Shanghai. Namun, kredit terbesar harus diberikan pada kemampuan Kimi mengelola suhu ban depan—masalah yang menghancurkan balapan banyak pembalap lain.
Strategi undercut yang ia lakukan terhadap Lewis Hamilton di lap ke-18 terbukti krusial. Kimi mencatatkan serangkaian purple laps (lap tercepat) segera setelah keluar dari pit, membangun jarak aman yang tidak mampu dikejar oleh siapapun. Kemenangan ini sekaligus membungkam kritik yang menyebutnya terlalu muda untuk menggantikan kursi yang ditinggalkan Hamilton.
Sorotan utama kamera sepanjang 56 lap tertuju pada duel antara dua pembalap Ferrari. Charles Leclerc dan Lewis Hamilton memberikan tontonan yang akan dibicarakan selama bertahun-tahun.
Hamilton menggunakan garis balap defensif yang sangat cerdik di Tikungan 1-2-3 yang ikonik, memaksa Leclerc menguras bannya jika ingin menyalip. Ketegangan sempat memuncak saat Leclerc meminta team order karena merasa memiliki kecepatan lebih baik. Namun, pit wall Ferrari memilih membiarkan mereka bertarung secara terbuka—sebuah keputusan berisiko yang untungnya tidak berakhir dengan tabrakan.
Bagi Hamilton, finis di podium ini adalah momen yang sangat puitis. Ini adalah podium pertamanya sejak 2024. Setelah masa-masa sulit di akhir masa baktinya di Mercedes dan adaptasi awal di Ferrari, Hamilton membuktikan bahwa “The Hammer” belum kehilangan sentuhannya.
Di kutip dari garasi Red Bull, suasana tampak sangat suram. Max Verstappen terpaksa keluar dari balapan (DNF) setelah mobilnya mengalami kerusakan pada sistem pemulihan energi (ERS) dan kebocoran oli.
Mobil RB22 yang dikendarainya tampak sangat tidak stabil di tikungan cepat. Kerusakan ini menjadi sinyal merah bagi tim asal Milton Keynes tersebut. Sejak regulasi mesin 2026 diterapkan, Red Bull tampak kehilangan taringnya dibandingkan Mercedes dan Ferrari. Verstappen yang tampak frustrasi di media pen menyatakan bahwa tim harus melakukan perubahan radikal jika tidak ingin musim ini terbuang sia-sia.
George Russell, meski finis di belakang rekan setim remajanya, memainkan peran “wingman” yang sempurna sekaligus rival yang tangguh. Russell berhasil menahan gempuran Leclerc di fase awal balapan, memberikan ruang bagi Antonelli untuk melarikan diri di depan.
Meskipun Russell sedikit kecewa gagal meraih kemenangan setelah performa dominannya di sesi Sprint, hasil 1-2 ini menempatkan Mercedes di puncak klasemen konstruktor dengan selisih poin yang cukup signifikan.(*)
BACA JUGA: GP F1 Australia, Russell Juara, Kimi Antonelli Guncang Melbourne!