Di tengah kepungan embargo chip Washington, China membuktikan taringnya lewat LineShine—superkomputer eksaskala pertama yang menembus batas 2 Exaflops. Apa kabar El Capitan?
WWW.JERNIH.CO – Peta persaingan teknologi dunia kembali diguncang oleh pencapaian terbaru dari Negeri Tirai Bambu. China resmi merebut takhta superkomputer tercepat di dunia melalui sistem mutakhirnya yang bernama LineShine.
Kehadiran LineShine berhasil menggeser dominasi Amerika Serikat (AS) yang selama beberapa tahun terakhir kokoh di puncak. Menariknya, pencapaian ini diraih di tengah ketatnya sanksi embargo cip dari Washington, membuktikan bahwa Beijing mampu mencapai kemandirian teknologi yang sangat masif.
LineShine adalah superkomputer eksaskala (exascale) terbaru milik China yang ditempatkan di National Supercomputing Centre di Shenzhen (NSCS) dan dibangun oleh Shenzhen Cloud Computing Center. Berdasarkan daftar terbaru dari peringkat global TOP500, LineShine mencatatkan performa komputasi luar biasa sebesar 2,198 Exaflops (lebih dari 2 kuintiliun kalkulasi per detik).
Keberhasilan ini menjadikannya sebagai sistem pertama di dunia yang berhasil menembus performa berkelanjutan di atas 2 Exaflops. Sejak tahun 2017 (saat superkomputer Sunway TaihuLight memimpin), baru kali inilah China kembali menduduki peringkat nomor satu dunia secara resmi.
Sebagai komputer berkinerja tinggi (High-Performance Computing/HPC), LineShine dirancang untuk menangani beban kerja ilmiah dan teknis yang sangat masif. Beberapa fungsi utamanya meliputi:
Simulasi Otak Manusia: Kapasitas komputasinya yang luar biasa dimanfaatkan untuk menjalankan pemodelan dan simulasi kompleks mengenai jaringan saraf otak manusia.
Riset Ilmiah dan Teknik: Digunakan untuk memproses data pemodelan iklim global, pengembangan material baru, hingga simulasi fisika tingkat tinggi.
Kemajuan Sains Domestik: Menjadi motor penggerak bagi berbagai institusi akademik dan riset di China guna mempercepat penemuan teknologi tanpa bergantung pada infrastruktur komersial Barat.
LineShine berhasil mendepak jawara bertahan milik Amerika Serikat, yaitu El Capitan. Perbandingan performa utama; LineShine (China): 2,198 Exaflops (Peringkat 1 Dunia), sedangkan El Capitan (AS): 1,809 Exaflops (Turun ke Peringkat 2 Dunia).
El Capitan sendiri berbasis di Lawrence Livermore National Laboratory, California, dan digunakan oleh pemerintah AS untuk mengelola serta mensimulasikan keamanan persenjataan nuklir mereka. Dengan hasil pengujian terbaru ini, performa LineShine tercatat unggul sekitar 21% lebih cepat dibandingkan rival utamanya tersebut.
Di bawah El Capitan, AS masih memiliki raksasa lain seperti Frontier dan Aurora, namun ketiganya kini harus rela berada di bawah bayang-bayang LineShine.
Serunya LineShine tak menggunakan produk NVidiaa. Hal yang paling mengejutkan komunitas teknologi internasional. Ketika hampir seluruh superkomputer modern di dunia—termasuk milik AS—bergantung pada Graphics Processing Unit (GPU) canggih buatan Nvidia atau AMD untuk mendongkrak kecepatan, China menempuh jalur yang sama sekali berbeda.
LineShine dibangun tanpa satu pun komponen cip dari Nvidia, AMD, maupun Intel. Sistem ini berjalan murni menggunakan arsitektur CPU-only (hanya prosesor) yang dikembangkan secara mandiri di dalam negeri.
Superkomputer ini ditenagai oleh platform bernama “LingKun” yang menggunakan prosesor LX2 304-core berbasis arsitektur ARMv9, serta dihubungkan dengan interkoneksi lokal bernama LingQi. Secara total, LineShine menggabungkan hampir 13,79 juta core pemrosesan yang berjalan di atas sistem operasi buatan China, KylinOS.
Meskipun memenangkan takhta dalam hal komputasi sains tradisional (FP64), para ahli mencatat bahwa desain murni CPU ini membuat LineShine sedikit kurang optimal jika dipaksa bekerja untuk melatih kecerdasan buatan (AI workloads) berskala besar seperti ChatGPT, di mana GPU Nvidia masih merajai.
Namun demikian, pesan geopolitik yang dikirimkan Beijing melalui LineShine sangatlah jelas: pembatasan ekspor teknologi yang dijatuhkan oleh Amerika Serikat tidak menghentikan langkah China, melainkan justru mempercepat lahirnya inovasi mutakhir yang sepenuhnya mandiri.(*)
BACA JUGA: Militer Amerika Beli Dua Superkomputer, Ini Tujuannya
