Gunakan Isu Kepulauan Falkland Untuk Menekan Inggris, Trump Beri Sinyal Perubahan Sikap AS

JERNIH — Presiden Amerika Serikat Donald Trump membuka peluang untuk merombak total sikap diplomatik Washington atas sengketa Kepulauan Falkland (Malvinas). Langkah mengejutkan ini ditengarai menjadi alat tawar-menawar (bargaining chip) politik guna memaksa Inggris menaikkan anggaran pertahanan militernya.
Pernyataan tersebut disampaikan Trump di Gedung Putih pada Senin, saat ditanya apakah dirinya tengah meninjau kembali posisi resmi AS terhadap kepulauan di Samudra Atlantik Selatan yang diperebutkan oleh Inggris dan Argentina tersebut. “Saya selalu meninjau kembali setiap posisi diplomatik kita—dan isu Falkland hanyalah salah satu dari sekian banyak hal yang sedang dievaluasi,” ujar Trump santai.
Sinyal perubahan dari Washington ini bukan tanpa alasan. Seorang pejabat AS sebelumnya membocorkan kepada media The Telegraph bahwa AS siap meninjau ulang dukungannya atas kedaulatan Inggris di Falkland jika London mengingkari komitmen kenaikan anggaran militer.
Ancaman ini muncul menyusul kabar bahwa Menteri Keuangan Inggris, John Healey, berniat membatalkan janji alokasi anggaran pertahanan sebesar 3% dari PDB pada 2030. Padahal, pada KTT NATO di Den Haag tahun lalu, negara anggota sepakat menargetkan alokasi pertahanan hingga 5% PDB pada 2035.
| Dinamika Sengketa & Faktor Pemicu | Fakta Kunci & Realita Politik |
| Posisi Historis AS | Netral secara de jure, namun mengakui administrasi Inggris sejak perang 1982 |
| Pemicu Keretakan Diplomatik | Inggris menolak mendukung penuh keputusan Trump dalam perang melawan Iran |
| Kedekatan Trump – Milei | Hubungan hangat dengan Presiden Argentina Javier Milei yang vokal mengklaim Malvinas |
| Dukungan Finansial AS ke Argentina | Trump kucurkan dana talangan US$20 miliar & izinkan impor daging sapi Argentina |
Inggris telah menguasai kepulauan tersebut secara praktis sejak tahun 1833 dan berhasil mempertahankan wilayahnya dari invasi Argentina dalam Perang Falkland 1982—perang singkat yang menelan korban jiwa 649 tentara Argentina dan 255 prajurit Inggris.
Jika Washington benar-benar mencabut dukungannya, hal ini akan menjadi pukulan simbolis dan politik yang sangat berat bagi London. Padahal, pada konflik 1982, Presiden AS Ronald Reagan pasang badan mendampingi Perdana Menteri Inggris Margaret Thatcher.
Di sisi lain, Presiden Argentina Javier Milei terus gencar menggemakan klaim atas kepulauan yang mereka sebut Las Malvinas tersebut. Sentimen ini bahkan sempat memanas di ajang World Cup lalu saat Timnas Argentina mengalahkan Inggris 2-1 di babak semifinal dan membentangkan spanduk “Las Malvinas son Argentinas”, yang berujung denda US$235.000 dari FIFA.






