Site icon Jernih.co

Hampir 200 Anak Perempuan Tewas dalam Serangan, Kedubes Iran di Jakarta Sebut AS dan Israel Biadab

Di Lapangan Enghelab, Teheran, ribuan pelayat yang sebagian besar mengenakan pakaian hitam meneriakkan slogan ‘Death to America’ sambil mengibarkan bendera Iran, menegaskan kesedihan atas syahidnya korban serangan AS-Israel, termasuk pemimpin tertinggi Ayatullah Ali Khamenei. [AFP]

Iran juga secara terbuka menyinggung posisi Indonesia. Iran menyampaikan apresiasi atas dukungan Pemerintah dan rakyat Indonesia, serta kesiapan Presiden Republik Indonesia untuk membantu meredakan konflik. Namun Iran juga menegaskan pentingnya sikap tegas Indonesia dalam menghadapi apa yang disebutnya sebagai agresi Amerika Serikat dan Israel.

JERNIH– Sebuah sekolah dasar di Iran selatan hancur. Hampir 200 anak perempuan tewas. Teheran menunjuk hidung Amerika Serikat dan Israel sebagai biadab.

Kedutaan Besar Republik Islam Iran di Jakarta, Minggu, 1 Maret 2026, menyebut serangan yang dilakukan AS dan Israel Sabtu (28/2) pagi sebagai agresi langsung terhadap warga sipil dan kedaulatan Iran. Serangan terjadi itu disebut menyasar sekolah-sekolah, rumah penduduk, serta fasilitas sipil lainnya, saat warga Iran menjalankan ibadah puasa Ramadan.

Salah satu serangan paling mematikan terjadi di Kabupaten Minab. Sebuah sekolah dasar rata dengan tanah. Anak-anak perempuan yang berada di dalamnya disebut tewas seketika.

Dalam serangan yang sama, sejumlah staf di kantor Ayatollah Sayyid Ali Khamenei, Pemimpin Tertinggi Revolusi Islam Iran, juga dilaporkan tewas.

Iran menolak klaim lama Washington dan Tel Aviv yang selama ini menyebut diri mereka membantu rakyat Iran. Teheran menyebut serangan terhadap sekolah, rumah, dan fasilitas sipil itu justru memperlihatkan sebaliknya.

Bagi Iran, ini bukan peristiwa tunggal. Kedutaan Iran di Jakarta menyebut serangan itu sebagai bagian dari permusuhan panjang yang telah berlangsung lebih dari tujuh dekade. Iran mengingat kudeta tahun 1953 terhadap Perdana Menteri Mohammad Mossadegh, dukungan Amerika Serikat kepada Irak dalam perang Iran–Irak, hingga penembakan pesawat penumpang Iran Air oleh kapal perang Amerika Serikat pada 1988 yang menewaskan seluruh 291 orang di dalamnya, termasuk puluhan anak-anak.

Iran juga menyinggung berbagai peristiwa lain dalam beberapa tahun terakhir, termasuk sanksi ekonomi, pembunuhan pejabat militer Iran, serta serangan terhadap fasilitas nuklirnya.

Kedutaan Iran menilai seluruh rangkaian itu sebagai pelanggaran berat terhadap hukum internasional, Piagam Perserikatan Bangsa-Bangsa, dan hak asasi manusia.

Di Jakarta, Iran juga secara terbuka menyinggung posisi Indonesia. Iran menyampaikan apresiasi atas dukungan Pemerintah dan rakyat Indonesia, serta kesiapan Presiden Republik Indonesia untuk membantu meredakan konflik. Namun Iran juga menegaskan pentingnya sikap tegas Indonesia dalam menghadapi apa yang disebutnya sebagai agresi Amerika Serikat dan Israel.

Pernyataan itu dirilis resmi Kedutaan Besar Republik Islam Iran di Jakarta pada 1 Maret 2026, di tengah meningkatnya ketegangan baru di Timur Tengah—ketegangan yang kini, menurut Teheran, telah menelan korban paling tak berdaya: anak-anak. [ ]

Exit mobile version