Site icon Jernih.co

Harga Minyak Meroket: Pencurian BBM di Inggris Melonjak 30%, Kerugian Tembus Rp2,08 Triliun

Perang di Timur Tengah memiliki efek domino yang nyata hingga ke jalanan di Inggris. Kenaikan harga BBM yang drastis ternyata mulai memicu keputusasaan ekonomi bagi warga di Inggris.

JERNIH– Kenaikan harga bahan bakar di pompa bensin dan tekanan ekonomi yang kian berat telah memicu lonjakan insiden pencurian BBM di Inggris. Laporan terbaru menyebutkan, kasus pengisian BBM tanpa membayar meningkat hampir 30 persen sejak pecahnya konflik AS-Israel terhadap Iran, dengan potensi kerugian industri mencapai lebih dari £100 juta per tahun atau sekitar Rp2,08 triliun.

Berdasarkan data dari RAC, harga diesel telah melonjak sebesar 48,6 pence per liter, sementara bensin naik 25,1 pence per liter sejak perang meletus pada akhir Februari lalu.

Industri ritel BBM di Inggris kini menghadapi tantangan besar dari modus “No Means of Payment” (tidak memiliki alat pembayaran). Dalam aturan yang berlaku, pengemudi yang mengaku tidak bisa membayar saat itu diizinkan mengisi formulir dan diberikan waktu tujuh hari untuk melunasi tagihannya sebelum diklasifikasikan sebagai tindak pencurian.

Data dari Forecourt Eye menunjukkan insiden pengemudi yang mengaku “tidak punya alat bayar” melonjak 22 persen. Sementara kasus pengemudi yang langsung kabur tanpa membayar (drive-off) naik 6 persen.

British Oil Security Syndicate (BOSS) mencatat bahwa kasus-kasus ini sekarang telah melampaui level tertinggi yang pernah terjadi pada tahun 2022 saat awal perang Ukraina.

Akibat Ketegangan Selat Hormuz

Harga minyak mentah dunia kembali bergejolak setelah Presiden AS Donald Trump mengumumkan bahwa Angkatan Laut AS telah menyita sebuah kapal kargo berbendera Iran. Kabar ini langsung membuat harga minyak mentah Brent melonjak 5 persen ke angka $95 per barel.

Padahal sebelumnya, pasar sempat sedikit tenang setelah Iran sempat memberikan sinyal akan membuka Selat Hormuz bagi kapal komersial selama masa gencatan senjata. Namun Iran kembali menegaskan penutupan selat tersebut dan mengancam akan menargetkan kapal apa pun yang mendekat, sebagai respons atas “pembajakan maritim” yang dilakukan AS dengan kedok blokade laut.

Upaya diplomasi tampaknya menemui jalan buntu. Meskipun Trump berencana mengirim delegasi yang dipimpin oleh Wakil Presiden JD Vance ke Pakistan pada hari Senin untuk bernegosiasi, media pemerintah Iran menyatakan bahwa Teheran “saat ini tidak memiliki rencana” untuk berpartisipasi dalam pembicaraan tersebut. Iran menuntut AS mencabut blokade lautnya terlebih dahulu sebagai syarat pembukaan kembali Selat Hormuz.

Krisis ini tidak hanya memukul Eropa, tetapi juga sangat berdampak pada Asia yang menggantungkan 90 persen kebutuhan energinya dari pengiriman yang melewati Selat Hormuz.

Pemerintah Singapura dan Thailand mengimbau warga untuk membatasi penggunaan AC demi menghemat energi. Sementara di Tiongkok, meskipun memiliki cadangan impor untuk tiga bulan, pemerintah setempat mulai membatasi kenaikan harga BBM setelah warga menghadapi lonjakan harga sebesar 20 persen.

Beberapa negara lain bahkan mulai menerapkan kerja dari rumah (WFH), memotong hari kerja, hingga menutup universitas lebih awal untuk menghemat pasokan energi.

Exit mobile version