Jernih.co

Hari Perempuan Sedunia: Girl Power di Pit Wall, Laura Muller dan Hannah Schmitz

Di GP F1 Melbourne, tepat di Hari Perempuan Internasional ada tangan dingin Hannah Schmitz dan ketajaman teknis Laura Müller yang mengatur strategi tim.

WWW.JERNIH.CO –  Dalam keriuhan raungan mesin V6 Hybrid dan adu kecepatan di lintasan Formula 1, sebuah perubahan paradigma sedang terjadi di balik layar. Selama puluhan tahun, F1 dianggap sebagai “klub pria” yang tertutup, namun hari ini, di perayaan Hari Perempuan Sedunia 2026, dunia memberikan penghormatan khusus kepada dua sosok yang telah menghancurkan langit-langit kaca tersebut: Hannah Schmitz dan Laura Müller. Keduanya adalah otak di balik kesuksesan tim-tim besar di kasta tertinggi balap mobil dunia.

Laura Müller: Pendobrak Sejarah di Haas

Laura Müller (sering ditulis Mueller) mencatatkan sejarah baru pada musim 2025 sebagai wanita pertama yang menjabat sebagai Race Engineer full-time dalam sejarah 75 tahun F1. Di musim 2026 ini, ia menjadi “suara di telinga” pembalap Esteban Ocon di tim Haas.

Insinyur asal Jerman ini menempuh pendidikan di Technical University of Munich (TUM), meraih gelar Sarjana dan Master dalam bidang Automotive Engineering. Fokus studinya pada dinamika kendaraan menjadi modal utama untuk memahami perilaku mobil di lintasan.

Ketertarikannya pada balapan justru muncul saat ia menjalani gap year di Australia, di mana ia jatuh cinta pada budaya otomotif di sana.

Laura membangun kariernya melalui jalur yang sangat kompetitif, mulai dari magang di Phoenix Racing, bekerja di Formula Renault 2.0, hingga menjadi insinyur di balapan ketahanan Le Mans dan DTM.

 Ia bergabung dengan Haas pada 2022 di departemen simulator sebelum akhirnya dipromosikan menjadi Performance Engineer dan kini Race Engineer. Baginya, gender bukanlah penghalang; yang terpenting adalah data dan performa car setup yang ia rancang.

Sebagai Race Engineer, Laura diperkirakan menerima gaji di rentang Rp1,8 miliar – Rp3,9 miliar per tahun. Angka ini mencerminkan tanggung jawab besar mereka yang bekerja hampir 24 jam selama akhir pekan balap.

Hannah Schmitz: Sang “Ratu Strategi” Red Bull

Jika Anda melihat Max Verstappen melakukan pit stop yang terlihat mustahil namun berakhir dengan kemenangan, kemungkinan besar itu adalah berkat instruksi Hannah Schmitz. Lahir di London pada Mei 1985, Hannah kini menjabat sebagai Head of Race Strategy di Oracle Red Bull Racing.

Hannah adalah lulusan University of Cambridge dengan gelar Master di bidang Mechanical Engineering. Ketertarikannya pada dunia teknik sudah muncul sejak kecil, dan di universitas, ia aktif dalam proyek Solar Team yang merancang mobil tenaga surya.

Bekal akademisnya dalam teori optimasi dan analisis statistik menjadi fondasi kuat bagi kemampuannya menghitung ribuan skenario balapan dalam hitungan detik.

Hannah bergabung dengan Red Bull sebagai anak magang pada tahun 2009. Ia merangkak dari bawah sebagai insinyur pemodelan dan simulator. Tantangan terbesarnya sebagai wanita di dunia F1 bukanlah teknis, melainkan membangun kepercayaan.

Dalam sebuah wawancara, ia mengaku harus bekerja dua kali lebih keras untuk membuktikan bahwa suaranya layak didengar di dinding pit (pit wall). Kini, ia adalah sosok yang paling dipercaya oleh Christian Horner dan Max Verstappen untuk mengambil keputusan krusial di tengah tekanan tinggi.

Bekerja di posisi elit Formula 1 menjanjikan kompensasi yang sangat kompetitif, meskipun angka pastinya seringkali bersifat rahasia perusahaan.

Sebagai kepala departemen strategi di tim juara dunia seperti Red Bull, estimasi gajinya berkisar antara  Rp3,1 miliar – Rp6,2 miliar per tahun, belum termasuk bonus kemenangan dan gelar juara dunia.

Prestasi mereka begitu diakui hingga pada GP Australia 2026 ini, penyelenggara mengabadikan nama mereka pada Tikungan 6 (Turn 6) di Sirkuit Albert Park dengan inisiatif bertajuk “In Her Corner”. Ini adalah pesan kuat bagi jutaan gadis di luar sana: bahwa di Formula 1, kursi di dinding pit kini terbuka lebar bagi mereka yang memiliki kecerdasan dan ketangguhan, tanpa memandang gender.(*)

BACA JUGA: GP F1 Australia, 10 Hal yang Patut Dikenang di Melbourne

Exit mobile version