Site icon Jernih.co

Horor Kelaparan di Garis Depan Perang Ukraina-Rusia, Beredar Isu Kanibalisme

Ukraina mengatakan kekurangan pangan tidak boleh menjadi 'sistemik' setelah istri seorang tentara membagikan gambar-gambar ini di media sosial, yang menunjukkan pasukan yang kurus kering (Foto: Handout/@i.petrovna_)

Di tengah gemuruh artileri dan desing drone yang tak henti-hentinya, sebuah krisis kemanusiaan yang sunyi namun mematikan tengah terjadi di parit-parit berlumpur Ukraina. Foto-foto tentara Ukraina yang kurus kering dengan tulang yang menonjol viral di media sosial, mengungkap kenyataan pahit: di era perang teknologi tinggi, ribuan prajurit justru tewas perlahan karena kelaparan.

JERNIH – Kisah Anastasia Silchuk menjadi pembuka tabir ini. Suaminya bertugas di Brigade Mekanis ke-14. Lewat unggahan emosional pada April lalu, ia menceritakan bagaimana suaminya dan rekan-rekannya terjebak selama 17 hari tanpa pengiriman makanan sama sekali. Mereka terisolasi di tepi kiri Sungai Oskil, wilayah Donetsk, setelah bom Rusia menghancurkan semua jembatan penghubung.

“Para pejuang pingsan karena kelaparan, mereka meminum air hujan,” tulis Silchuk, mengutip laporan Al Jazeera. “Suami saya berteriak dan memohon lewat radio, mengatakan tidak ada makanan dan air, tapi tidak ada yang mendengarkan.”

Evolusi drone militer telah mengubah peta peperangan secara radikal. Kini, drone pengintai dan penyerang berkeliaran 24 jam sehari di atas zona tempur yang membentang hingga 25 kilometer dari garis depan. Akibatnya, pergerakan kendaraan logistik menjadi target yang sangat mudah dihancurkan.

Pos-pos pertahanan Ukraina kini berubah menjadi “pulau-pulau terisolasi”. Parit-parit yang dulunya terhubung kini terputus oleh ancaman drone bunuh diri (suicide drones). Pasokan makanan, amunisi, obat-obatan, bahkan generator listrik kini menjadi pertaruhan hidup dan mati yang baru.

“Zaman di mana Anda bisa sekadar keluar dari bunker untuk merokok sudah berakhir,” ujar Ihor, seorang komandan unit drone di Ukraina Timur. Setiap gerakan kecil di atas tanah adalah undangan bagi maut.

Satu-satunya kendaraan yang punya peluang selamat dari kejaran drone bunuh diri adalah mobil four-wheel drive yang dipacu zigzag hingga kecepatan 120 km/jam. Namun, sedikit yang berani mengambil risiko melintasi medan yang penuh kawah ledakan dan ranjau darat. “Pernah dalam sehari kami kehilangan empat mobil pikap sekaligus,” kenang Oleksandr, seorang prajurit berusia 31 tahun yang kini sedang menjalani pemulihan cedera kaki di Kyiv.

Logistik Udara: Satu-satunya Tali Penyelamat

Andriy Pronin, salah satu pelopor perang drone Ukraina, menjelaskan bahwa selama setahun terakhir, logistik garis depan hampir sepenuhnya ditangani oleh drone atau kereta robotik. Drone pembom yang berat kini dimodifikasi bukan untuk menjatuhkan granat, melainkan menjatuhkan paket makanan atau obat-obatan.

Namun, sistem ini jauh dari sempurna. Nikolay Mitrokhin, peneliti dari Universitas Bremen Jerman, meragukan efektivitas pasokan udara ini. Ia memperkirakan tidak lebih dari 10 persen tentara Ukraina yang benar-benar mendapatkan pasokan makanan lewat drone secara teratur. Sisanya? Mereka harus bertahan dengan apa yang ada.

Kegagalan pasokan ini berdampak fatal. Menyusul viralnya foto tentara yang kelaparan, komandan Brigade ke-14 akhirnya dicopot dari jabatannya. Kementerian Pertahanan Ukraina pun meluncurkan investigasi besar-besaran untuk memastikan krisis pangan ini tidak menjadi masalah sistemik di unit-unit militer lainnya.

Di seberang garis depan, kondisi tentara Rusia tidak kalah mengerikan. Mohammad, seorang pekerja migran asal Tajikistan yang dijebak menjadi “relawan” perang Rusia, menceritakan pengalamannya saat ditangkap oleh pasukan Ukraina.

“Mereka hanya memberi saya botol air kecil dan dua-tiga cokelat batangan kecil untuk sebulan,” cerita Mohammad. Selama sebulan di desa terpencil di Luhansk, ia harus mencari makaroni mentah dan sisa-sisa makanan untuk bertahan hidup. Berat badannya turun drastis dari 76 kg menjadi hanya 60 kg saat menjadi tawanan perang.

Laporan intelijen Ukraina pada Oktober 2025 mengklaim bahwa ribuan tentara Rusia ditelantarkan di pulau-pulau sepanjang Sungai Dnipro, wilayah Kherson, tanpa pasokan makanan dan amunisi yang memadai.

Yang paling mengerikan adalah laporan yang belum diverifikasi secara independen mengenai praktik kanibalisme. Media Inggris, The Times, mengutip percakapan telepon yang disadap antara dua perwira Rusia. Mereka membicarakan seorang tentara yang membunuh rekannya sendiri, memotong kakinya, dan bersiap memakannya sebelum akhirnya ditembak mati oleh tentara lain.

Namun, di tengah horor tersebut, ada momen unik. Pada Maret 2025, sebuah drone pengintai Ukraina menemukan seorang tentara Rusia yang bersembunyi di hutan bersalju wilayah Kharkiv. Tentara tersebut tampak sangat kelaparan dan memberikan isyarat menyerah kepada drone.

Pasukan Ukraina kemudian menjatuhkan sebuah cokelat batangan lewat drone tersebut. Di bungkus cokelat itu, tertulis instruksi bagaimana cara menuju ke posisi Ukraina untuk menyerahkan diri secara aman. Cokelat tersebut bukan hanya pengganjal perut, tapi menjadi tiket keselamatan bagi sang prajurit yang sudah tidak sanggup lagi berperang melawan rasa lapar.

Perang di Ukraina kini bukan lagi sekadar adu kekuatan peluru dan tank, melainkan adu ketahanan perut. Isolasi posisi akibat drone telah menjadikan kelaparan sebagai senjata baru yang mematikan. Prajurit yang bertahan di garis depan kini harus bermimpi tentang makanan panas di tengah parit yang dingin dan sunyi.

Bagi prajurit seperti Oleksandr, impian terbesarnya bukan lagi kemenangan militer yang megah, melainkan sesuatu yang jauh lebih sederhana. “Anda bermimpi tentang makanan panas, karena berminggu-minggu yang Anda dapatkan hanyalah cokelat batangan, oatmeal, dan satu botol air sehari,” tutupnya sambil memandangi lutut keramiknya.

Krisis ini menjadi pengingat bagi dunia bahwa sekecanggih apa pun teknologi perang, manusia tetaplah makhluk biologis yang butuh makan. Dan di Ukraina, rasa lapar kini menjadi musuh kedua yang sama mematikannya dengan peluru musuh.

Exit mobile version