Posisi Baghdad terjepit. Di satu sisi, faksi militer mereka (Hashed al-Shaabi) memiliki pengaruh politik dan ekonomi besar di parlemen. Di sisi lain, kehadiran militer AS dan kedaulatan wilayah Kurdi menjadi variabel yang membuat Irak sulit untuk benar-benar lepas dari “api” perang yang sedang berkobar di Timur Tengah.
JERNIH – Irak semakin terseret jauh ke dalam pusaran perang regional. Dalam serangkaian serangan mematikan yang terjadi semalam, belasan pejuang paramiliter dilaporkan tewas akibat serangan udara yang dituduhkan kepada Amerika Serikat, sementara rudal balistik yang diduga milik Iran menghantam wilayah otonomi Kurdistan.
Insiden ini menandai eskalasi paling berdarah di wilayah Irak sejak perang antara aliansi AS-Israel melawan Iran pecah pada 28 Februari lalu. Koalisi Hashed al-Shaabi (dikenal juga sebagai Popular Mobilisation Forces/PMF), yang merupakan bagian dari angkatan bersenjata resmi Irak, mengonfirmasi bahwa markas operasi mereka di Provinsi Anbar barat, dekat perbatasan Suriah, telah dihantam serangan udara dahsyat.
Serangan tersebut menewaskan 15 orang, termasuk seorang komandan tingkat provinsi yang berpengaruh. PMF dengan tegas menuding Amerika Serikat berada di balik “serangan pengkhianat” tersebut.
“Ini adalah serangan Amerika yang menargetkan markas besar operasi kami,” tulis pernyataan resmi PMF. Kelompok ini, yang awalnya dibentuk untuk melawan ISIS pada 2014, kini mendesak kekuatan politik Irak untuk mengambil tanggung jawab dan melawan pelanggaran kedaulatan yang dilakukan AS.
Di fron berbeda, wilayah otonomi Kurdistan Irak juga membara. Kementerian Pertahanan regional melaporkan adanya serangan enam rudal balistik yang menghantam posisi pasukan Peshmerga.
Serangan ini menewaskan enam pejuang Kurdi dan melukai 30 orang lainnya. Pemerintah Kurdistan menuduh Iran sebagai dalang di balik serangan ini—serangan mematikan pertama yang dilakukan Iran ke wilayah Kurdi sejak perang dimulai.
Padahal, selama ini warga Kurdi Irak yang dikenal dekat dengan Washington telah berupaya menjaga netralitas mereka dalam konflik Iran demi menjaga hubungan yang sempat membaik dengan Teheran dalam beberapa tahun terakhir.
Hingga saat ini, baik Pentagon maupun Teheran belum memberikan komentar resmi terkait tuduhan tersebut. Namun, pekan lalu Pentagon mengakui bahwa helikopter tempur mereka memang telah melakukan serangan terhadap kelompok-kelompok bersenjata pro-Iran di Irak.
Sejak AS dan Israel meluncurkan serangan ke Iran, faksi-faksi bersenjata di Irak yang didukung Teheran telah meluncurkan puluhan drone dan roket ke arah pangkalan militer AS. Sebagai balasannya, AS pun tak segan membalas dengan serangan udara presisi.
Posisi Baghdad kini sangat terjepit. Di satu sisi, faksi militer mereka (Hashed al-Shaabi) memiliki pengaruh politik dan ekonomi besar di parlemen. Di sisi lain, kehadiran militer AS dan kedaulatan wilayah Kurdi menjadi variabel yang membuat Irak sulit untuk benar-benar lepas dari “api” perang yang sedang berkobar di Timur Tengah.
