Site icon Jernih.co

Iran: AS–Israel Lakukan Agresi Brutal, Ribuan Anak dan Warga Sipil Jadi Korban

Ilustrasi

Kedutaan Iran menyebut agresi militer itu tidak lagi bisa dipandang sebagai operasi terbatas, melainkan serangan luas yang menargetkan kehidupan masyarakat sipil Iran.  Serangan yang dimulai pada 28 Februari 2026—bertepatan dengan 10 Ramadan 1447 Hijriah—menurut data yang disampaikan Iran telah menewaskan lebih dari 1.300 anak-anak dan warga sipil tak berdosa. Total 9.663 target sipil dilaporkan rusak atau musnah akibat serangan tersebut.  Di antara fasilitas yang dihancurkan terdapat 7.943 rumah tinggal, 1.617 pusat perdagangan dan layanan publik, 32 fasilitas medis dan farmasi, 65 sekolah dan lembaga pendidikan, serta 13 bangunan milik Perhimpunan Bulan Sabit Merah.

JERNIH– Perang di Timur Tengah memasuki babak yang semakin gelap. Kedutaan Besar Republik Islam Iran di Jakarta menyatakan bahwa rangkaian serangan Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran sejak akhir Februari telah menimbulkan korban sipil dalam skala besar serta menghancurkan ribuan fasilitas publik.

Dalam pernyataan pers yang dirilis Senin (9/3/2026), Kedutaan Iran menyebut agresi militer itu tidak lagi bisa dipandang sebagai operasi terbatas, melainkan serangan luas yang menargetkan kehidupan masyarakat sipil Iran.  Serangan yang dimulai pada 28 Februari 2026—bertepatan dengan 10 Ramadan 1447 Hijriah—menurut data yang disampaikan Iran telah menewaskan lebih dari 1.300 anak-anak dan warga sipil tak berdosa.

Selain korban jiwa, ribuan bangunan sipil disebut hancur. Total 9.663 target sipil dilaporkan rusak atau musnah akibat serangan tersebut.  Di antara fasilitas yang dihancurkan terdapat 7.943 rumah tinggal, 1.617 pusat perdagangan dan layanan publik, 32 fasilitas medis dan farmasi, 65 sekolah dan lembaga pendidikan, serta 13 bangunan milik Perhimpunan Bulan Sabit Merah.

Serangan juga merusak berbagai infrastruktur energi yang menjadi penopang kehidupan masyarakat Iran. Pemerintah Iran menyebut angka-angka itu sebagai bukti bahwa agresi yang terjadi telah melampaui batas-batas hukum humaniter internasional.

Pemimpin Baru di Tengah Duka

Di tengah situasi yang disebut sebagai masa paling sulit dalam sejarah modern Iran, negara itu juga mengalami pergantian kepemimpinan. Ayatollah Seyyed Mojtaba Hosseini Khamenei, putra Pemimpin Tertinggi Iran yang wafat dalam serangan sebelumnya, memperoleh lebih dari 85 persen suara dalam pemilihan yang dilakukan Majelis Pakar Kepemimpinan (Majelis Khobregan). Ia kemudian ditetapkan sebagai pemimpin baru Republik Islam Iran.

Pemilihan itu berlangsung setelah tewasnya Ayatollah Ali Khamenei bersama sejumlah pejabat tinggi dan komandan militer Iran akibat serangan yang dikaitkan dengan Amerika Serikat dan Israel. Kedutaan Iran menilai proses tersebut sebagai bukti bahwa sistem politik Iran tidak bergantung pada satu tokoh.

Sistem itu, kata mereka, berdiri di atas fondasi konstitusi, kehendak rakyat, serta nilai-nilai religius yang diyakini tetap mampu menjaga stabilitas negara bahkan dalam situasi perang. Pada saat yang sama, Iran juga melanjutkan operasi militernya.

Dalam pernyataan tersebut disebutkan bahwa tahap ke-30 dari operasi militer yang dinamai “Janji Setia 4” (Va’deh Sadegh 4) telah dilaksanakan di bawah komando kepemimpinan baru Iran, dengan target wilayah Israel.  Operasi ini disebut sebagai bagian dari respons Iran terhadap serangan yang mereka anggap sebagai agresi.

Salah satu insiden yang paling disorot dalam pernyataan tersebut adalah serangan terhadap kapal perang Iran Dena. Serangan itu terjadi pada hari keenam konflik. Kapal tersebut dihantam ketika berada lebih dari 2.000 mil laut dari pantai Iran—di wilayah perairan internasional. Akibat serangan tersebut, 104 pelaut Iran dilaporkan tewas.

Menurut keterangan Iran, kapal tersebut tidak sedang menjalankan misi tempur. Dena sedang berlayar menuju India untuk mengikuti program pelatihan resmi atas undangan Angkatan Laut India. Namun tanpa peringatan apa pun, kapal itu disebut menjadi sasaran serangan.

Iran menilai tindakan tersebut sebagai pelanggaran terang-terangan terhadap hukum internasional sekaligus ancaman serius terhadap keamanan pelayaran global.  Serangan tersebut juga dinilai memperluas konflik jauh melampaui wilayah Iran.

Serangan pada Infrastruktur Sipil

Iran juga menuduh Amerika Serikat dan Israel menyerang berbagai infrastruktur vital yang tidak memiliki hubungan dengan operasi militer. Beberapa target yang disebut antara lain bandara sipil, pesawat penumpang, serta fasilitas penyulingan air laut di Pulau Qeshm.

Serangan terhadap fasilitas-fasilitas itu disebut sebagai pelanggaran serius terhadap hukum humaniter internasional. Iran memperingatkan bahwa tindakan tersebut dapat menimbulkan konsekuensi hukum bagi pihak yang melakukannya.

Teheran menyatakan seluruh langkah militernya merupakan tindakan sah untuk mempertahankan diri. Kedutaan Iran menyebut operasi pertahanan tersebut dilakukan berdasarkan Pasal 51 Piagam Perserikatan Bangsa-Bangsa yang mengakui hak setiap negara untuk membela diri ketika menghadapi agresi militer.

Angkatan Bersenjata Iran, menurut pernyataan itu, akan menggunakan seluruh kapasitas yang dimiliki untuk menghadapi agresi hingga serangan berhenti atau Dewan Keamanan PBB menjalankan tugasnya untuk menentukan pihak yang bertanggung jawab. Iran juga menegaskan bahwa operasi militernya ditujukan hanya kepada target yang menjadi sumber atau titik awal serangan terhadap rakyat Iran.

Diplomasi yang Runtuh

Dalam dokumen tersebut Iran juga menyoroti runtuhnya hubungan diplomatik dengan Amerika Serikat. Menurut Kedutaan Iran, Washington telah berulang kali mengkhianati proses diplomasi. Mereka menyebut tiga peristiwa utama sebagai bukti.

Pertama, penarikan sepihak Amerika Serikat dari perjanjian nuklir JCPOA pada 2018. Kedua, serangan terhadap Iran pada Juni 2025 yang terjadi ketika perundingan antara kedua negara masih berlangsung. Ketiga, serangan terbaru pada 28 Februari 2026 yang kembali terjadi setelah putaran perundingan baru dimulai.

Akibat rangkaian peristiwa tersebut, Iran menyatakan tidak lagi memiliki kepercayaan untuk melanjutkan diplomasi dengan Amerika Serikat.

Pada bagian akhir pernyataan, Kedutaan Besar Iran di Jakarta menyerukan kepada masyarakat internasional agar tidak tinggal diam. Iran menilai tindakan Washington dan Tel Aviv telah menjadi ancaman serius terhadap perdamaian global. Negara-negara dunia diminta tidak hanya mengutuk serangan tersebut, tetapi juga mengambil langkah nyata untuk menghentikan agresi.

Iran juga menyatakan bahwa dukungan internasional sangat penting bagi upaya mereka menghadapi apa yang disebut sebagai ambisi militer Israel di kawasan. Peringatan yang disampaikan dalam dokumen tersebut cukup keras: eskalasi konflik yang terus meningkat dapat membawa kawasan Timur Tengah—bahkan dunia—ke tingkat bahaya yang belum pernah terjadi sebelumnya. [ ]

Exit mobile version