Iran memperingatkan akan “membakar seluruh cadangan migas di kawasan” jika infrastruktur energi dan pelabuhan mereka sendiri terus dihantam. Konflik ini telah merobek tatanan sosial di Iran dan negara tetangga.
JERNIH – Eskalasi perang di Timur Tengah mencapai titik nadir baru pada Kamis (12/3/2026). Iran secara terbuka bersumpah akan membuat Amerika Serikat dan Israel menyesali “salah perhitungan besar” mereka dalam menyerang Republik Islam tersebut. Ancaman ini datang saat Teheran memperketat blokade di Selat Hormuz, yang memicu kepanikan di pasar energi global.
Kepala Keamanan Iran, Ali Larijani, melalui platform X mengirimkan pesan tajam kepada Gedung Putih: “Memulai perang itu mudah, tapi tidak bisa dimenangkan hanya dengan beberapa cuitan. Kami tidak akan menyerah sampai membuat Anda menyesali kesalahan perhitungan yang fatal ini.”
Badan Energi Internasional (IEA) kini mengeluarkan peringatan merah. Perang ini berpotensi menyebabkan “gangguan pasokan terbesar” dalam sejarah industri minyak dunia. Namun, Presiden AS Donald Trump tampak bergeming. Melalui media sosial, ia menegaskan bahwa menghancurkan “kerajaan jahat” Iran jauh lebih penting daripada fluktuasi harga minyak mentah.
Saat ini, harga minyak acuan telah melonjak 40 hingga 50 persen sejak serangan pertama diluncurkan pada 28 Februari lalu. Situasi ini mengancam pertumbuhan ekonomi global dan memicu inflasi yang meluas di berbagai negara.
Pernyataan keras Larijani didukung oleh instruksi dari Pemimpin Tertinggi baru Iran, Mojtaba Khamenei. Dalam pesan yang dibacakan pembawa berita di televisi negara, Khamenei—yang dikabarkan terluka dalam serangan sebelumnya—memerintahkan penggunaan penuh kekuatan di Selat Hormuz.
“Tuas pemblokiran Selat Hormuz harus benar-benar digunakan,” tegas Khamenei. Sebagai informasi, wilayah perairan sempit sepanjang 54 kilometer ini adalah urat nadi bagi seperempat perdagangan minyak laut dunia dan seperlima pasokan gas alam cair (LNG) global.
Dampak serangan balasan Iran kini mulai dirasakan secara nyata oleh negara-negara Teluk, Di Bahrain, kepulan asap hitam menyelimuti langit Muharraq setelah serangan menghantam tangki bahan bakar. Penduduk diminta mengunci diri di dalam rumah. Drone Iran juga kembali menyerang bandara internasional Kuwait dan pusat kota Dubai. Sementara militer Saudi mengklaim mencegat drone yang mengarah ke ladang minyak Shaybah dan distrik kedutaan.
Iran memperingatkan akan “membakar seluruh cadangan migas di kawasan” jika infrastruktur energi dan pelabuhan mereka sendiri terus dihantam. Konflik ini telah merobek tatanan sosial di Iran dan negara tetangga.
Ekonomi Iran runtuh. Di kota Kermanshah, 90 persen toko tutup. Warga mengantre roti yang kini dijatah, sementara kepercayaan pada bank telah sirna. PBB juga mencatat 3 juta orang telah mengungsi di dalam wilayah Iran sejak perang dimulai. Sementara Kementerian Kesehatan Iran melaporkan lebih dari 1.200 orang tewas, sementara di Lebanon, serangan Israel telah menewaskan 687 orang, termasuk warga sipil yang berkemah di tepi laut Beirut.
Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu menegaskan bahwa operasi militer ini bertujuan menciptakan kondisi bagi rakyat Iran untuk “meruntuhkan rezim” sekaligus melumpuhkan program nuklir mereka. Namun, di lapangan, kerugian militer AS mulai terlihat. Sebuah pesawat pengisi bahan bakar KC-135 jatuh di Irak barat—menjadi pesawat militer Amerika keempat yang hilang dalam konflik ini.
Sementara itu, Wakil Menteri Luar Negeri Iran, Majid Takht-Ravanchi, menyatakan kepada AFP bahwa pihaknya bersedia melakukan gencatan senjata hanya jika itu merupakan bagian dari “formula menyeluruh untuk mengakhiri perang secara total.”
Perang ini bukan lagi sekadar konflik regional, melainkan ancaman eksistensial bagi stabilitas ekonomi dunia. Dengan sikap Trump yang mengabaikan harga minyak demi target politik, dan Iran yang siap mengorbankan jalur ekonomi dunia di Selat Hormuz, dunia kini berada di ambang krisis energi paling gelap sejak dekade 1970-an.
