Iran telah menyaksikan kerusuhan bersenjata dan tindakan sabotase yang menyusup ke dalam protes damai terhadap situasi ekonomi, mengakibatkan kematian warga sipil dan personel keamanan Iran.
JERNIH – Pejabat pemerintah Iran mengutuk ancaman teroris dan kerusuhan yang didukung asing. Amerika Serikat dan Israel mengandalkan teroris untuk menyerang Iran setelah kegagalan mereka selama perang 12 hari pada Juni tahun lalu.
Dalam pidatonya kepada bangsa Iran dengan pesan apresiasi, Kepala Staf Angkatan Bersenjata Iran, Mayor Jenderal Abdolrahim Mousavi, Selasa (13/1/2026) menyatakan, Iran tidak akan menyerahkan sejengkal pun kemerdekaan, integritas wilayah, dan kepentingan nasionalnya.
“Biarkan musuh-musuh tahu bahwa para penjaga keamanan Iran tidak akan memberi kesempatan kepada teroris ISIS yang kriminal dan agen-agen kesombongan untuk mencapai tujuan mereka. Kami akan membela Iran dengan jiwa kami dan tidak akan membiarkan terorisme merusak keamanan Iran,” katanya.
Senjata-senjata Amerika Disita
Mayor Jenderal Mousavi juga menuduh kekuatan asing mengeksploitasi kelompok teroris terhadap Iran, dengan mengatakan, “Amerika Serikat dan entitas Israel menggunakan teroris untuk menyerang rakyat Iran sebagai kompensasi atas kekalahan historis mereka dalam agresi terhadap Iran.”
Dia menjelaskan bahwa para teroris mengeksploitasi individu biasa yang tidak mengetahui rencana teror dan memuji pasukan keamanan Iran. “Mereka (pasukan Iran) telah menjadi perisai untuk melindungi rakyat dan anggota mereka telah mengorbankan nyawa untuk keamanan Iran,” tandasnya.
Sementara itu, Kementerian Intelijen menangkap beberapa sel teroris yang terkait dengan Israel yang telah memasuki negara itu dari perbatasan timur. Menurut laporan televisi pemerintah Iran, kementerian tersebut mengatakan bahwa sel-sel tersebut, yang ditempatkan di tujuh lokasi di Zahedan, berencana mengebom beberapa pusat layanan di negara itu. Ditambahkan bahwa anggota mereka dilatih untuk melakukan operasi teroris dan sabotase dan tertangkap memiliki senjata dan bahan peledak buatan Amerika.
Sebelumnya, Kementerian Intelijen Iran mengumumkan pada 12 Januari bahwa mereka telah mengungkap pengiriman yang berisi 273 senjata berbagai jenis dan menangkap tiga orang yang terkait dengan operasi tersebut. Dalam pernyataannya, Kementerian mengatakan bahwa senjata yang disita telah disembunyikan secara profesional di dalam truk transit asing. Hanya saja mereka tidak mengungkapkan asal atau tujuan pengiriman tersebut.
Selain itu, pihak berwenang Iran berulang kali menuduh Amerika Serikat dan Israel sebagai dalang di balik kerusuhan yang terjadi baru-baru ini di seluruh negeri, dengan mengutip bukti yang ditemukan dalam penyelidikan awal.
Berbicara setelah pertemuan Komite Keamanan Nasional dan Kebijakan Luar Negeri Parlemen Iran, Juru Bicara Ebrahim Rezaei mengatakan bahwa penyelidikan telah mengungkap bukti yang jelas dan tersembunyi tentang keterlibatan asing. “Keamanan telah dipulihkan di berbagai wilayah negara. Sebagian besar korban dari peristiwa baru-baru ini dibunuh oleh agen asing,” tambahnya.
Dia menggambarkan situasi tersebut sebagai “perang teroris melawan rakyat Iran” dan memperingatkan bahwa tanggapan Teheran akan “tegas dan menyakitkan.”
Juru bicara pemerintah Fatemeh Mohajerani menggemakan kecaman tersebut selama konferensi pers mingguan, dengan mengatakan, perang teroris telah membajak protes damai rakyat Iran, sama seperti agresi Amerika-Israel yang membajak proses negosiasi Iran.
“Rakyat Iran dengan jelas mengutuk terorisme dan menolak kekerasan kemarin,” katanya, merujuk pada demonstrasi massal tersebut, dan menuduh kekuatan asing mendukung kerusuhan. “Amerika Serikat dan entitas Israel mengungkapkan niat buruk mereka terhadap rakyat Iran dengan mendukung perang teroris di jalan-jalan Iran,” kata Mohajerani.
Protes Berubah menjadi Kerusuhan Bersenjata
Iran telah menyaksikan kerusuhan bersenjata dan tindakan sabotase yang menyusup ke dalam protes damai terhadap situasi ekonomi, mengakibatkan kematian warga sipil dan personel keamanan Iran. Para pejabat Iran berulang kali menekankan bahwa sabotase bersenjata telah menyusup ke dalam protes ekonomi yang sah, menyebabkan korban jiwa di kalangan warga sipil dan polisi, serta menuduh jaringan yang terkait dengan AS-Israel memicu kekerasan tersebut.
Pihak berwenang Iran sedang mengejar para perusuh dan pelaku sabotase, mengungkap hubungan mereka dengan organisasi teroris atau kelompok separatis yang melayani kepentingan Mossad dan Amerika Serikat.
Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi mengatakan pada 12 Januari bahwa Iran siap menghadapi agresi apa pun. Ia juga menekankan bahwa kesiapan pertahanan negara lebih tinggi dari sebelumnya.
Ia juga menceritakan insiden brutal melibatkan orang-orang bersenjata yang menembak orang-orang yang terluka di dalam ambulans dan membakar masjid. Sebanyak 53 masjid dibakar, lebih dari 10 ambulans dan bus angkutan diserang, serta toko-toko komersial diancam akan dibakar dalam gelombang kekerasan yang sama.
Rakyat Iran Menentang Kekacauan
Pada pagi hari tanggal 12 Januari, demonstrasi besar-besaran yang diikuti jutaan orang meletus di seluruh Iran, mengutuk kerusuhan bersenjata yang baru-baru ini melanda negara itu dan menegaskan kembali dukungan rakyat terhadap Republik Islam.
Demonstrasi tersebut menyusul seruan pemerintah kepada warga negara untuk berpartisipasi dalam aksi unjuk rasa “Solidaritas Nasional dan Menghormati Perdamaian dan Persahabatan” yang direncanakan pada hari yang sama.
Dalam pernyataannya, pemerintah mengatakan bahwa semua anggota kabinet dan pejabat negara berkomitmen untuk mendengarkan kritik para pengunjuk rasa dan berupaya untuk mengatasi kekhawatiran mereka. Pemerintah juga menekankan bahwa dialog tetap menjadi prioritas utama.
Pernyataan itu juga menuduh Amerika Serikat dan Israel mengeksploitasi situasi tegang dan mengerahkan tentara bayaran untuk melakukan sabotase di jalan-jalan Iran menyusul apa yang digambarkan sebagai agresi baru-baru ini terhadap Iran.
