JERNIH — Eskalasi krisis geopolitik di Timur Tengah berada di titik nadir. Pemerintah Iran melontarkan gertakan keras dengan mengancam akan menggempur pangkalan-pangkalan militer Amerika Serikat yang berada di kawasan Eropa, apabila negara-negara tersebut memfasilitasi atau terlibat dalam aksi agresi terhadap wilayahnya.
Peringatan tegas tersebut disampaikan langsung oleh Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmail Baghaei, dalam konferensi pers mingguan di Teheran pada Senin (24/8/2026).
“Iran tidak pernah dan tidak akan menerima apabila pihak pembawa agresi mendikte syarat-syarat untuk mengakhiri perang. Adalah hak mutlak Iran untuk membidik titik asal dari setiap tindakan agresif yang dilayangkan kepada Republik Islam,” ujar Baghaei.
Menanggapi tuduhan penyerangan, Baghaei menegaskan bahwa Teheran tidak pernah memulai perang. Semua langkah militer yang diambil merupakan bentuk hak pertahanan diri yang sah (legitimate self-defense).
Menurutnya, Iran telah menempuh seluruh saluran diplomasi untuk mencegah konflik terbuka. Namun, sikap destruktif Washington yang kerap melanggar komitmen menjadi penghambat utama.
Kesepakatan diplomasi dengan AS disebut hanya bertahan kurang dari tiga minggu sebelum Washington membatalkan seluruh klausul secara sepihak. Teheran juga mengonfirmasi belum menerima undangan resmi terkait Kesepakatan Mekkah, walau sejumlah poin usulan telah disampaikan.
Baghaei menegaskan kekuatan militer dan soliditas rakyat menjadi perisai utama Republik Islam dalam menggagalkan seluruh skenario musuh.
Blokade Angkatan Laut AS Adalah “Deklarasi Perang”
Menanggapi klaim Washington mengenai jutaan barel minyak yang masih melintasi Selat Hormuz secara bebas tiap hari, Baghaei menepisnya sebagai propaganda dan psychological warfare (perang urat saraf).
Terkait tekanan ekonomi dan aksi pencegatan kapal oleh armada AS, Iran mengutuk keras langkah tersebut. “Apa yang disebut AS sebagai ‘perang ekonomi’ sebenarnya adalah terorisme ekonomi. Pengepungan dan blokade angkatan laut (naval blockade) terhadap Iran saat ini merupakan tindakan agresi secara langsung. Eskalasi atas situasi ini dipastikan membawa konsekuensi serius,” tegasnya.
Di tengah tekanan AS dan sekutunya, Teheran terus memperkuat konsolidasi dengan negara-negara tetangga guna menjaga keamanan jalur transit strategis:
| Negara Mitra | Dinamika Hubungan & Isu Utama |
| Pakistan | Hubungan bilateral berada di level terbaik; penegasan bahwa kunjungan Panglima Militer Pakistan tak terkait agenda negara lain. |
| Oman | Pertemuan khusus Menlu Oman di Teheran memfokuskan pembahasan pada keamanan Selat Hormuz dan jalur pelayaran. |
| Afghanistan | Pembukaan dan perluasan kerja sama perdagangan antarnegara. |
