Ditekan AS, Iran biasa saja. Diembargo sekutu AS, Iran tak peduli. Di dalam negeri malah memicu tumbuhnya beragam industri termasuk militer. Tetapi sekali direcoki dan diancam, rakyat Iran punya seribu cara membalas.
WWW.JERNIH.CO – Iran bukan sekadar titik di peta Timur Tengah. Ia adalah sebuah entitas politik dan militer dengan akar sejarah yang menghujam ribuan tahun ke bumi. Dari kemegahan Kekaisaran Achaemenid dengan pasukan “Immortal” yang legendaris, hingga berdirinya Republik Islam pada 1979, doktrin pertahanan Iran hanya berpusat pada satu pilar: keberlangsungan hidup (survival) di tengah kepungan.
Hari ini, Sabtu, 28 Februari 2026, dunia terbangun dalam kecemasan. Langit Teheran, Isfahan, dan Karaj berguncang oleh ledakan hebat. Israel melalui operasi “Roaring Lion” dan Pentagon dengan “Operation Epic Fury” melancarkan serangan udara masif yang menargetkan fasilitas nuklir, pangkalan militer, hingga pusat komando Garda Revolusi (IRGC).
Presiden AS, Donald Trump, menegaskan bahwa ini adalah upaya melumpuhkan kemampuan rudal Iran yang dianggap telah melampaui “garis merah” internasional. Namun, sejarah mencatat satu hal: Iran tidak pernah menjadi lawan yang mudah ditekan.
Ancaman maupuan keputusan Israel dan AS menyerang Iran seperti tak memahami sejarah dan karakter bangsa Iran. Mereka memiliki strategi balasan berlapis. Mereka punya seni perang asimetris yang memukau.
Menghadapi jet tempur siluman F-35 yang canggih, Iran menunjukkan watak aslinya dalam peperangan: ketahanan yang keras kepala. Meski kalah secara teknologi udara konvensional, Iran mengandalkan strategi “balasan berlapis”. Secara serentak dan terukur Iran menghujani rudal dan drone ke sasaran siapapun yang “membela dan memberi” tempat bagi Israel ataupun AS.
Gelombang rudal balistik dan pesawat nirawak domestik segera meluncur menuju pangkalan militer AS di Qatar, Bahrain, dan UEA, serta serangan langsung ke jantung wilayah Israel.
BACA JUGA: Tiga Target Serangan AS – Israel ke Iran
Bagi Teheran, kemenangan bukan tentang menjatuhkan lebih banyak pesawat lawan, melainkan membuat biaya agresi menjadi terlalu mahal untuk ditanggung musuh. Ingat AS selalu gagal memenangi pertempuran jangka panjang yang tak berakhir. Vietnam, Afghanistan, Suriah, dan beberapa lagi terbukti membuat AS angkat kaki dengan biaya perang yang amat besar.
Iran memanfaatkan geografi sebagai senjata, sebagaimana dulu Vietnam atau Afghanistan. Iran mengandalkan pegunungan Zagros yang terjal dan ancaman penutupan Selat Hormuz, Iran mampu mencekik nadi logistik minyak dunia dalam hitungan jam.
Dunia sering bertanya mengapa Amerika Serikat, dengan segala kedigdayaan militer-teknologinya, tampak “terpaku” di depan pintu Iran. Jawabannya terletak pada tiga fondasi utama.
Pertama, luas wilayah Iran hampir tiga kali lipat Perancis dan didominasi labirin pegunungan. Secara logistik, invasi darat ke Iran adalah mimpi buruk yang membutuhkan jutaan tentara—sebuah harga yang mustahil dibayar secara politik oleh Washington.
Kedua, Iran melakukan ekonomi perlawanan. Puluhan tahun di bawah sanksi justru melahirkan kemandirian. Jika negara lain membeli senjata, Iran membangun pabrik rudal di bunker-bunker bawah tanah yang tak tertembus. Iran adalah produsen sekaligus konsumen bagi dirinya sendiri menghadapi ancaman asing.
Timur Tengah terbelah. Dan Iran memanfaatkan situasi menjadri poros perlawanan. Melalui jaringan proksi yang loyal di Lebanon, Suriah, Irak, hingga Yaman, Iran memiliki kemampuan untuk “memukul balik” di mana saja di seluruh Timur Tengah, bukan hanya dari wilayah kedaulatannya.
Kekuatan Iran hari ini adalah resonansi dari masa lalu. Pasukan elit “The Immortals” dari era Koresh yang Agung (550 SM) memiliki filosofi unik: jumlah mereka selalu tetap 10.000; jika satu gugur, yang lain segera menggantikan.
Etos ini tetap hidup. Tekanan asing—mulai dari penjajahan Inggris-Rusia hingga isolasi modern—justru mengkristalkan nasionalisme rakyatnya. Bagi Iran, perang ini bukan sekadar adu mesiu, melainkan ujian atas identitas bangsa yang menolak didikte.
Maka percuma jika Trump memprovokasi untuk melakukan kudeta kepada rakyat Iran. Revolusi Iran tidak lagi sekadar sebuah catatan peristiwa. Ini adalah semangat yang terus menjadi obor rakyat Iran. Tempo hari ketika melakukan perayaan justru tampak benar militansi rakyat Iran.
Serangan 28 Februari ini membawa stabilitas global ke titik nadir. Dengan meroketnya harga minyak dan ancaman konflik berkepanjangan, komunitas internasional kini menahan napas.
Mengganggu Iran berarti memantik api keresahan dunia pada segala hal. Tak hanya minyak yang bakal melambung harganya, tetapi juga potensi serangan kecil-kecil tetapi mematikan di sana-sini. Iran tidak sendiri.(*)
BACA JUGA: Pangkalan AS di Seluruh Timur Tengah Menjadi Sasaran Pembalasan Iran
