JERNIH – Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) mengumumkan telah menghancurkan pesawat sistem peringatan dan kendali udara (AWACS) E-3 Sentry buatan AS selama serangan gabungan rudal dan drone yang menargetkan Pangkalan Udara al-Kharj di Arab Saudi.
Menurut pernyataan IRGC, operasi tersebut dilakukan sebagai tanggapan terhadap tindakan permusuhan AS, menyusul serangan sebelumnya yang menargetkan pesawat pengisian bahan bakar di udara di pangkalan yang sama.
IRGC menyatakan bahwa serangan yang dilakukan Angkatan Udara mereka berhasil menghancurkan setidaknya satu pesawat AWACS yang dilengkapi dengan kemampuan pengawasan dan komando-dan-kendali canggih. Pernyataan itu menambahkan bahwa pesawat tersebut hancur total, sementara pesawat lain di dekatnya mengalami kerusakan signifikan.
Pesawat AWACS beroperasi pada ketinggian hingga 17 kilometer dan dilengkapi dengan sistem radar yang mampu memindai dan memantau area seluas 310.000 kilometer persegi. Sistem ini memungkinkan deteksi target udara di ketinggian rendah, menengah, dan tinggi.
Sistem radar dan komputer onboard E -3 Sentry dapat mengumpulkan dan menampilkan informasi medan perang yang komprehensif, termasuk melacak pesawat dan kapal musuh, serta memantau posisi dan status pasukan sekutu. Data ini dapat ditransmisikan ke pusat komando dan kendali di darat, di laut, atau kepada pimpinan politik tertinggi selama krisis. Tingkat kendali pengawasan ini membuat pesawat tersebut mendapat julukan “mata Amerika di langit”.
Pesawat ini dapat diisi bahan bakar di udara, sehingga meningkatkan jangkauan operasionalnya, dan membedakan antara target kawan dan musuh. Pesawat ini dioperasikan oleh awak yang terdiri dari 17 personel, termasuk empat orang yang khusus menangani operasi penerbangan. Departemen Pertahanan AS pernah mengklaim “kekebalan strategis dan taktis pesawat ini” dalam peperangan modern.
Pesawat E-3 Sentry membutuhkan biaya pembuatan sekitar $300 juta, tetapi menggantinya sekarang akan menelan biaya $700 juta. Pesawat ini memiliki kecepatan maksimum sekitar 800 kilometer per jam, jangkauan terbang hingga 11.000 kilometer, dan daya tahan sekitar 10 jam terbang terus menerus.
Penghormatan kepada Jurnalis yang Gugur
IRGC mengumumkan gelombang ke-86 Operasi Janji Sejati 4 dan mendedikasikan peluncuran tersebut sebagai penghormatan kepada para jurnalis Lebanon yang gugur, Ali Sheaib, Fatima Ftouni, dan Mohammad Ftouni atas pengorbanan mereka.
IRGC menyatakan bahwa Gelombang 86 operasi tersebut dilakukan dalam beberapa fase, melibatkan serangan rudal dan drone terkoordinasi oleh Angkatan Udara dan Angkatan Lautnya.
Menurut pernyataan yang dikeluarkan kantor Humas IRGC, operasi tersebut dimulai pada Minggu (29/3/2026) subuh, sebagai penghormatan kepada para jurnalis pemberani yang gugur sebagai martir, Ali Sheaib, Mohammad Ftouni, dan Fatima Ftouni, serta para martir Armenia dan Kristen dalam Perang Pertahanan Suci selama delapan tahun dan Perang Ramadan.
Pada fase pertama, serangan rudal dan pesawat tak berawak menargetkan infrastruktur yang terkait dengan operasi udara dan tanpa awak AS-Israel, serta gudang senjata, di pangkalan militer Victory (Irak), Arifjan (Kuwait), dan Al-Kharj (Arab Saudi).
Serangan-serangan berikutnya menghantam posisi pasukan AS, pasukan pendudukan Israel, dan Partai Komala di berbagai lokasi, termasuk Arad, Naqab, Tel Aviv, Erbil, Armada Kelima AS di Bahrain, dan Al Dhafra di Uni Emirat Arab.
IRGC selanjutnya mengatakan bahwa gambar-gambar yang beredar menunjukkan kepulan asap, ledakan, dan puing-puing pesawat AS senilai jutaan dolar, yang membantah upaya pemerintah dan media sekutu AS untuk mengecilkan skala operasi tersebut.
