Site icon Jernih.co

Ironi ‘Presiden Damai’: Trump Gempur Tujuh Negara Sepanjang 2025, Venezuela Jadi Target Terbaru

Data dari Armed Conflict Location & Event Data (ACLED), sebuah lembaga monitor konflik independen, menunjukkan bahwa AS telah melakukan atau terlibat dalam 622 pengeboman luar negeri menggunakan drone atau pesawat sejak 20 Januari 2025.

JERNIH – Di balik klaimnya sebagai tokoh perdamaian yang layak menerima Nobel, rekam jejak militer Presiden Amerika Serikat Donald Trump sepanjang tahun 2025 menunjukkan realitas yang sangat kontras. Venezuela resmi menjadi negara ketujuh yang dihantam serangan udara AS pekan ini, memperpanjang daftar intervensi militer pemerintahan Trump sejak hari pelantikannya pada Januari lalu.

Pekan ini, Trump mengonfirmasi bahwa pasukan AS telah menyerang sebuah fasilitas dok di Venezuela. Serangan ini menandai aksi militer pertama di daratan negara Amerika Selatan tersebut setelah sebelumnya AS hanya menargetkan kapal-kapal pengangkut di Karibia dan Pasifik Timur sejak September 2025. Dalam pertemuan dengan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu di Florida, Trump menyebut serangan itu sebagai langkah untuk menghancurkan lokasi pengangkutan narkoba.

“Terjadi ledakan besar di area dok tempat mereka memuat kapal dengan narkoba. Kami menghantam semua kapal itu, dan sekarang kami menghantam areanya. Itu adalah area implementasi mereka, dan sekarang tempat itu sudah tidak ada lagi,” ujar Trump di depan awak media. Meski begitu, Trump tidak merinci lebih jauh mengenai lokasi persis atau jumlah korban dari serangan tersebut.

Ironisnya, serangan ini terjadi di tengah retorika Trump yang menyebut dirinya sebagai “presiden perdamaian” yang telah mengakhiri delapan perang dunia tahun ini. Namun, data dari Armed Conflict Location & Event Data (ACLED), sebuah lembaga monitor konflik independen, menunjukkan bahwa AS telah melakukan atau terlibat dalam 622 pengeboman luar negeri menggunakan drone atau pesawat sejak 20 Januari 2025.

Eskalasi di Halaman Belakang: Venezuela dan Karibia

Sejak Agustus 2025, AS telah mengerahkan kehadiran militer terbesar di Laut Karibia dalam beberapa dekade terakhir. Meskipun Trump mengklaim ini adalah darurat nasional untuk memerangi narkoba, berbagai laporan menunjukkan bahwa Venezuela bukanlah sumber utama transportasi narkoba lintas batas. Sejak September, AS diperkirakan telah menyerang lebih dari 30 kapal kecil di Karibia yang dituduh milik organisasi “teroris”.

Laporan Human Rights Watch pada 16 Desember mengungkap bahwa setidaknya 95 orang tewas dalam serangan kapal tersebut, yang mereka sebut sebagai “pembunuhan ekstra-yudisial”. Kontroversi memuncak saat muncul laporan mengenai serangan “double tap” pada 2 September, di mana dua penyintas yang mencoba bertahan di puing-puing kapal tewas dalam serangan susulan. Menteri Pertahanan Pete Hegseth menegaskan bahwa rekaman video serangan tersebut tidak akan dirilis ke publik.

Operasi Natal di Nigeria dan Perang di Somalia

Di Afrika, Trump memulai intervensi militer kinetik pertama AS di Nigeria pada hari Natal 2025. Serangan tersebut menghantam wilayah Sokoto, menargetkan kelompok yang berafiliasi dengan ISIS. Langkah ini diambil setelah adanya tekanan diplomatik dari kubu konservatif Partai Republik yang menuduh pemerintah Nigeria membiarkan “genosida umat Kristen”, meskipun Abuja membantah keras klaim tersebut. Para analis menilai serangan ini lebih merupakan langkah politik untuk menyenangkan basis pendukung Kristen Trump di Amerika Serikat.

Sementara itu di Somalia, AS secara dramatis mengintensifkan serangan udara terhadap kelompok al-Shabab dan ISIS-Somalia. Sepanjang tahun 2025, tercatat setidaknya 111 serangan udara—jumlah yang melampaui total serangan gabungan pada masa pemerintahan George Bush, Barack Obama, dan Joe Biden. Sayangnya, intensitas ini dibarengi dengan jatuhnya korban sipil, termasuk laporan tewasnya tujuh anak-anak dalam serangan di wilayah Lower Juba bulan lalu.

Vandetta di Suriah dan Ketegangan Nuklir Iran

Di Timur Tengah, pemerintahan Trump meluncurkan “Operasi Hawkeye” di Suriah pada 19 Desember sebagai balasan atas penembakan di Palmyra yang menewaskan dua tentara AS. Serangan balasan ini menghantam 70 posisi ISIS di seluruh Suriah. Melalui Truth Social, Trump menegaskan, “Kami menyerang pangkalan ISIS dengan sangat kuat. Suriah adalah tempat yang penuh masalah, tapi akan punya masa depan cerah jika ISIS dimusnahkan.”

Ketegangan paling berbahaya terjadi pada 22 Juni 2025, ketika AS mengintervensi konflik Iran-Israel dengan menyerang tiga situs nuklir utama Iran: Natanz, Isfahan, dan Fordow. Trump membenarkan serangan canggih tersebut sebagai upaya memangkas ancaman nuklir Teheran. Pentagon memperkirakan serangan itu menghambat program nuklir Iran selama dua tahun. Meski sempat terjadi gencatan senjata, pekan ini Trump kembali mengancam akan kembali menghantam Iran jika mereka mencoba membangun kembali kekuatan nuklirnya.

Menutup Babak di Yaman dan Irak

Sebelum jeda konflik di Yaman, pemerintahan Trump meluncurkan Operation Rough Rider untuk menghadapi kelompok Houthi. Serangan harian yang terjadi sejak Maret hingga Mei 2025 telah menghancurkan infrastruktur pelabuhan hingga bandara di Sanaa dan Hodeidah. Perang ini akhirnya terhenti pada 6 Mei 2025 melalui gencatan senjata yang dimediasi oleh Oman, namun telah meninggalkan luka bagi ratusan warga sipil yang menjadi korban.

Di Irak, Trump merayakan keberhasilan militer AS yang menewaskan Abdallah “Abu Khadijah” Malli Muslih al-Rifai, orang kedua di kepemimpinan ISIS, pada Maret 2025. Trump memuji pasukannya dengan slogan khasnya, “Peace through Strength!” (Kedamaian melalui kekuatan).

Menurut Sarang Shidore, kepala Global South di Quincy Institute for Responsible Statecraft, kebijakan luar negeri Trump tahun ini tampak kurang memiliki diplomasi yang halus namun lebih menonjolkan aksi militer yang bersifat performatif untuk konsumsi domestik. Shidore menilai Washington sedang mencoba kembali ke gaya abad ke-20, di mana intervensi militer digunakan untuk menekan pemerintahan di berbagai wilayah, mulai dari Afrika hingga Amerika Latin.

Exit mobile version