Site icon Jernih.co

Israel Luncurkan Serangan Udara Paling Masif Bombardir 47 Kota di Lebanon, Korban Sipil Berjatuhan

Puing-puing di Kota Kfar Rumman di Lebanon Selatan akibat serangan Israel.

JERNIH – Eskalasi militer di Timur Tengah kembali mencapai titik didih yang sangat mengerikan. Pesawat-pesawat tempur Angkatan Udara Israel (IOF) meluncurkan rentetan serangan udara brutal yang menghantam sedikitnya 47 kota dan desa di tujuh distrik di wilayah selatan dan timur Lebanon.

Sumber militer Lebanon yang dikutip oleh kantor berita RIA Novosti menggambarkan agresi udara ini sebagai serangan satu hari (single-day attack) paling masif dan menghancurkan sejak kesepakatan gencatan senjata ditandatangani pada 16 April lalu.

Serangan membabi buta ini dilaporkan menargetkan wilayah-wilayah sipil di sepanjang perbatasan selatan hingga ke Lembah Bekaa barat, yang mengakibatkan jatuhnya korban jiwa di beberapa wilayah seperti Mashghara, Arab Salim, dan Kfar Rumman.

Berdasarkan data yang dihimpun oleh jaringan media Al Mayadeen, serangan militer Israel mencakup tujuh distrik strategis, yaitu: Nabatieh, Tyre, Bint Jbeil, Marjayoun, Jezzine, Saida, dan Bekaa Barat. Beberapa kota bahkan dibombardir secara berulang-ulang dalam waktu 24 jam. Zawtar al-Sharqiyah dihantam hingga 10 kali serangan udara, Kota Nabatieh dibom 7 kali, Mashghara (Bekaa Barat) dihantam 6 kali ledakan serta Al-Sultaniyah (Bint Jbeil) dipersekusi dengan 5 kali serangan.

Agresi militer dilakukan dengan kombinasi serangan jet tempur (airstrikes), artileri berat dan drone Kamikaze. Juga ada serangan senjata kimia yang dilarang dengan menembakkan artileri fosfor putih di area pertanian al-Mansouri, Qlayleh, dan al-Hanniyyeh. Israel juga melakukan Operasi “Sabuk Api” (Fire Belt) di koridor Kafra, Haris, dan Zebqine.

Selain itu, serangan drone Israel secara spesifik membidik kendaraan sipil dan sepeda motor di sepanjang jalan raya yang menghubungkan Kfar Rumman dan al-Jarmaq. Sebanyak 25 kota perbatasan lainnya juga dilaporkan menjadi sasaran tembakan artileri berat yang intens.

Kementerian Kesehatan Lebanon merilis data pemutakhiran yang sangat memprihatinkan. Sejak eskalasi meletus pada 2 Maret, Israel tercatat telah menewaskan 3.185 warga sipil dan melukai 9.633 orang lainnya di Lebanon.

Agresi pada hari Senin kemarin menambah daftar panjang korban martir, di antaranya di Arab Salim, 3 orang tewas, termasuk dua warga lanjut usia (lansia). Di Kfar Rumman tercatat 4 orang tewas martir dan 3 lainnya luka-luka akibat serangan roket yang menghantam area pemakaman umum setempat. Satu warga sipil juga tewas di jalur Khardali.

Sementara di Mashghara, dari 6 serangan udara yang dilancarkan, korban tewas mencakup tokoh agama terkemuka Sheikh Hussein Rizk, bersama Samir Rizk, Hamza Rizk, dan dua anak perempuannya.

Banyak pihak mempertanyakan mengapa eskalasi justru mengganas pasca-kesepakatan damai 16 April. Media-media Israel baru-baru ini membocorkan bahwa klausul gencatan senjata yang terikat dalam kerangka kerja geopolitik AS-Iran tersebut, melarang Israel untuk menyerang Ibu Kota Beirut dan pinggiran selatan (Dahiyeh).

Akibatnya, militer Israel memindahkan dan mengonsentrasikan seluruh beban kekuatan tempur serta daya ledak udara mereka ke kota-kota dan desa-desa di Lebanon Selatan.

Intensifikasi serangan udara Israel ini juga merupakan reaksi frustrasi atas masifnya operasi balasan dari faksi perlawanan (Hizbullah). Kelompok perlawanan Islam di Lebanon tersebut rata-rata meluncurkan 24 operasi militer per hari untuk menggempur tentara, kendaraan, dan pos-pos pertahanan Israel.

Surat kabar terkemuka Israel, Yedioth Ahronoth, menerbitkan laporan peringatan bahaya (alarm). Mereka menyebut bahwa teknologi drone FPV (First Person View) milik perlawanan kini telah berevolusi dari sekadar “gangguan taktis” menjadi “ancaman strategis” yang mematikan.

Pasukan perlawanan kini mampu meluncurkan serangan drone terkoordinasi dalam gelombang bertubi-tubi untuk menghancurkan konsentrasi pasukan Israel. Akibat ancaman udara ini, kendaraan zeni militer ditarik mundur dari lapangan, dan kontraktor penghancur rumah-rumah warga Lebanon kini dibatasi hanya boleh beroperasi pada malam hari.

Mantan Kepala Komite Urusan Luar Negeri dan Keamanan Israel, Ofer Shelah, minggu ini bahkan memperingatkan bahwa operasi militer di Lebanon Selatan saat ini adalah “resep menuju bencana” yang bisa berakhir dengan kegagalan memalukan yang sama seperti penarikan mundur pasukan Israel pada tahun 2000 silam. Data Kementerian Kesehatan Israel sendiri mencatat ada 964 tentara terluka akibat perang sejak gencatan senjata 16 April diberlakukan.

Secara historis, agresi masif yang dilancarkan militer Israel ini terjadi tepat pada momentum krusial, yaitu Hari Perlawanan dan Pembebasan Lebanon. Hari nasional ini menandai peringatan 26 tahun terusirnya pasukan pendudukan Israel dari Lebanon Selatan pada 25 Mei 2000, setelah 22 tahun melakukan penjajahan.

Kota-kota yang dibom oleh jet tempur Israel hari ini adalah kota yang sama yang berhasil dibebaskan 26 tahun lalu. Namun kini, peta perimbangan kekuatan (deterrence equation) sedang ditulis ulang. Perlawanan Lebanon membuktikan bahwa biaya yang harus dibayar oleh tentara penjajah kini jauh lebih mahal dan mematikan, berkat adaptasi teknologi militer baru berupa drone FPV berbasis kabel serat optik (fiber-optic FPV drones).

Exit mobile version