Site icon Jernih.co

Israel Makin Brutal, Hajar Anggota Parlemen Saat Pembubaran Paksa Peringatan Aktivis Palestina

Polisi perbatasan Israel menyerang MK Ofer Cassif selama acara peringatan Awda Hathaleen (Foto: Wisam Hashlamoun/Anadolu via Getty Images]

JERNIH – Topeng “demokrasi satu-satunya di Timur Tengah” yang kerap digaungkan Israel kembali luntur. Pasukan polisi perbatasan Israel menganiaya dan membanting Ofer Cassif, seorang anggota parlemen (Knesset) dari koalisi kiri Hadash, saat mendobrak acara peringatan wafatnya aktivis perdamaian Palestina di Umm al-Khair, Tepi Barat yang diduduki.

Insiden berdarah ini terjadi dalam peringatan satu tahun tewasnya Awda Hathaleen—aktivis lokal yang dibunuh oleh pemukim ilegal Yahudi pada Juli 2025 lalu. Langkah represif aparat ini dikutuk keras oleh koalisi Hadash sebagai cermin nyata “kemerosotan total Israel menuju fasisme”.

Menurut kesaksian Ofer Cassif mengutip The New Arab, aparat kepolisian datang tak lama setelah acara dimulai dan secara sepihak memberi tenggat waktu lima menit agar acara dibubarkan.

Saat Cassif mencoba bernegosiasi dengan komandan lapangan, aparat justru merespons dengan bentakan dan kekerasan fisik. Rekaman video yang dirilis Hadash memperlihatkan dua polisi perbatasan mendorong dan membanting Cassif hingga jatuh terlentang ke tanah.

“Apa yang saya alami tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan penderitaan harian warga Palestina di bawah rezim apartheid dan pendudukan ini,” tegas Cassif pasca-insiden.

Cassif mengaku telah melaporkan penganiayaan tersebut ke pihak kepolisian, namun ia tidak menaruh harapan apa pun bahwa kasus ini akan diusut secara adil.

Standar Ganda Zona Militer Tertutup

Nadav Weiman, Direktur Eksekutif Breaking the Silence—organisasi veteran tentara Israel penentang pendudukan—menyoroti akal-akalan hukum yang dipakai aparat di lapangan. Aparat mendadak menerbitkan status “zona militer tertutup” (closed military zone) hanya untuk melarang aktivis berkumpul.

“Perintah zona tertutup itu anehnya hanya berlaku untuk area pusat komunitas tempat peringatan diadakan. Perintah itu tidak berlaku untuk permukiman ilegal di belakang kami, tidak juga untuk para pemukim ekstremis yang berbuat kekerasan di sekitar kami,” kritik Weiman tajam.

“Hanya kami, para aktivis perdamaian yang datang untuk mengenang Awda, yang dilarang berada di sini.”

Acara tersebut dihadiri puluhan aktivis perdamaian internasional dan lokal, termasuk Basel Adra, co-sutradara film dokumenter peraih Piala Oscar No Other Land. Adra mengingatkan hadirin bahwa “kamera dan kebenaran adalah bentuk perlawanan paling ampuh melawan kekerasan.”

Kasus pembunuhan Awda Hathaleen oleh pemukim Yahudi bernama Yinon Levi pada 2025 lalu hanyalah puncak gunung es dari gelombang teror yang kian tak terkendali di Masafer Yatta. Meski telah meregang nyawa aktivis, Levi dilaporkan masih bebas berkeliaran dan terus menakut-nakuti warga Palestina setempat.

Data terbaru dari pemantau konflik ACLED mencatat rekor mengerikan. Pada Juni 2026 terjadi 460 insiden kekerasan yang melibatkan pemukim ilegal Yahudi—rekor tertinggi dalam sejarah pencatatan. Tren berdarah ini berlanjut dengan mencatatkan sedikitnya 360 insiden hanya dalam rentang kurun waktu 1 hingga 24 Juli.

Alih-alih menangkap para pemukim kriminal yang melancarkan teror saban hari, negara justru mengarahkan moncong kekerasan aparat kepada siapa saja yang berani bersuara dan membongkar ketidakadilan tersebut.

Exit mobile version