Perang hibrida menyebabkan kehancuran meluas, stagnasi ekonomi, dan arus pengungsi besar-besaran. Operasi-operasi ini tidak menghasilkan keamanan regional, perdamaian, atau aliansi yang stabil, melainkan hanya kekacauan berkepanjangan.
JERNIH – Ekonom Amerika Serikat (AS) Jeffrey Sachs menguraikan bagaimana AS dan Israel melancarkan perang hibrida terhadap Iran dan Venezuela menggunakan sanksi, serangan siber, dan tekanan militer untuk memaksakan perubahan rezim.
Di era nuklir, AS menghindari perang total untuk mencegah eskalasi menjadi konflik nuklir global. Sebaliknya, AS dan Israel melancarkan perang hibrida melawan Iran melalui sanksi ekonomi, serangan militer, serangan siber, operasi psikologis, dan kampanye disinformasi. Pendekatan ini, menurut Sachs, mendefinisikan sifat perang global yang terus berkembang.
Penggunaan perang hibrida, lanjutnya, mencerminkan keterkaitan yang mendalam antara operasi intelijen dan keamanan AS dan Israel, yang didorong oleh lembaga-lembaga seperti CIA, Mossad, dan kontraktor militer swasta. Bersama-sama, mereka telah menggoyahkan sebagian besar Asia Barat dan Afrika Utara melalui serangkaian intervensi selama beberapa dekade.
Sachs menyebut negara-negara seperti Libya, Somalia, Sudan, Palestina , Lebanon , Suriah, Irak, Iran, dan Yaman sebagai korban dari kampanye hibrida ini. Hasilnya adalah kehancuran yang meluas, stagnasi ekonomi, dan arus pengungsi besar-besaran. Ia menekankan bahwa operasi-operasi ini tidak menghasilkan keamanan regional, perdamaian, atau aliansi yang stabil, melainkan hanya kekacauan berkepanjangan.
Ia lebih lanjut berpendapat bahwa strategi berkelanjutan ini melanggar Piagam PBB, yang menyerukan kepada negara-negara untuk menahan diri dari penggunaan kekerasan atau paksaan terhadap kedaulatan negara lain. Menurut pandangannya, perang hibrida merusak hukum internasional dan menumbangkan diplomasi demi konflik yang terus-menerus, yang dimungkinkan oleh kompleks militer-industri-digital AS dan “Israel”.
Kampanye AS-Israel Melawan Venezuela
Sachs memperingatkan bahwa Iran bukanlah satu-satunya negara yang saat ini diserang. Venezuela juga menghadapi fase perang hibrida yang semakin intensif. AS telah lama berupaya mengendalikan cadangan minyak Venezuela dan menggulingkan pemerintahan sayap kirinya. Sejak upaya kudeta yang gagal terhadap Hugo Chávez pada 2002, kebijakan AS telah bergeser ke sanksi ekonomi, penyitaan cadangan, dan sabotase produksi minyak.
Ia menegaskan bahwa upaya-upaya ini kini telah meningkat menjadi tindakan militer langsung, termasuk pemboman di Caracas, penculikan Presiden Nicolas Maduro, dan blokade angkatan laut, langkah-langkah yang dianggapnya sebagai tindakan perang.
Sachs juga menyatakan bahwa para penyandang dana kampanye pro-Zionis mendapat keuntungan dari kendali atas sumber daya energi Venezuela, yang sebagian dimotivasi oleh dukungan historis Venezuela terhadap perjuangan Palestina dan hubungannya dengan Iran.
Sejarah Panjang Tekanan AS terhadap Iran
Sachs berpendapat bahwa perang hibrida terhadap Iran bermula pada 1953 ketika CIA dan MI6 menggulingkan Perdana Menteri Mohammad Mossadegh setelah pemerintahannya menasionalisasi minyak Iran. Operasi Ajax menggantikan kepemimpinan terpilih Iran dengan Shah, yang didukung kekuatan Barat, dan menciptakan SAVAK, badan keamanan internal yang terkenal karena bertanggung jawab atas penindasan massal.
Sachs menjelaskan bahwa taktik-taktik ini menyebabkan revolusi tahun 1979 dan pemutusan hubungan AS-Iran. Sejak saat itu, AS telah berupaya melakukan perubahan rezim melalui berbagai tindakan hibrida, termasuk dukungan untuk perang Irak melawan Iran pada 1980-an, yang mengakibatkan ratusan ribu kematian tanpa mencapai tujuannya.
Alih-alih mencari solusi damai, Sachs mengklaim tujuan AS-“Israel” adalah untuk menjaga Iran tetap terisolasi, lumpuh secara ekonomi, lemah secara diplomatik, dan tidak stabil secara politik. Penarikan AS dari Rencana Aksi Komprehensif Bersama (JCPOA) pada tahun 2018 di bawah pemerintahan Trump, menurutnya, telah menghancurkan jalan terbaik menuju penyelesaian diplomatik yang seimbang.
Ia mencatat bahwa retorika Trump berayun antara ancaman dan tawaran perdamaian yang menyesatkan, ciri khas perang hibrida. Sachs menyoroti negosiasi gagal yang dijadwalkan pada 15 Juni 2025, kemudian disabotase beberapa hari sebelumnya oleh serangan udara Israel terhadap Iran, menggarisbawahi betapa mudahnya jendela diplomatik ditutup oleh tindakan militer.
Sachs menyimpulkan dengan menyerukan kepada komunitas internasional, 191 negara anggota PBB selain AS dan Israel, untuk menolak normalisasi perang hibrida. Ia mendesak sikap kolektif melawan agenda perubahan rezim, sanksi unilateral, dan persenjataan kekuatan ekonomi. Menurut Sachs, publik AS tidak mendukung perang-perang ini, tetapi berjuang untuk didengar di tengah kepentingan politik dan korporasi yang mengakar kuat.
Ia memperingatkan, jika tidak dikendalikan, perang hibrida akan meningkat menjadi konflik terbuka dengan konsekuensi yang mengerikan, terutama dalam kasus Iran, di mana kesalahan perhitungan apa pun dapat melanda kawasan tersebut dan sekitarnya.
