Jernih.co

[JERNIH PANGAN LOKAL] Ironi dalam Segumpal Superfood Bernama Tempe

Di Eropa, ia disanjung sebagai superfood berkelas gourmet. Di Amerika, ia dipuja sebagai masa depan pangan vegan. Namun di tanah kelahirannya, tiap gigitan tempe yang kita nikmati adalah utang mata uang Dolar. Bagaimana bisa makanan paling Nusantara di bumi justru bernapas dari kedelai impor?

WWW.JERNIH.CO – Di balik kepulan asap tipis dari wajan minyak panas, segumpal tempe yang digoreng garing menyajikan paradoks pangan paling getir di tanah air. Makanan hasil fermentasi yang dahulu kerap disisihkan sebagai simbol nestapa ekonomi—sebagaimana kalimat satire era Soekarno tentang “bangsa tempe”—kini telah bertransformasi menjadi superfood berkelas global.

Coba kalau Anda mampir ke New York, London, hingga Tokyo, potongan padat berwarna putih bercorak benang hifa halus ini disanjung bagai pahlawan baru gaya hidup sehat. Kaya akan protein nabati, serat, isoflavon, serta mikroorganisme probiotik, tempe dijajakan sebagai hidangan elegan: tempeh bacon, burger tempeh, hingga variasi miso-tempeh.

Di benua Eropa dan berbagai negara maju, tempe mengalami metamorfosis kultur yang luar biasa. Jika di Indonesia tempe sempat lekat dengan citra makanan rakyat jelata, masyarakat Eropa justru memperlakukannya sebagai inovasi pangan papan atas.

Gelombang plant-based diet (pola makan berbasis tumbuhan) dan maraknya gaya hidup veganism di kota-kota besar seperti Berlin, Amsterdam, dan London membuat tempe naik daun secara signifikan. Berbagai startup kuliner lokal hingga koki berlabel Michelin-star berlomba-lomba mengolah tempeh menjadi menu gourmet. Restoran-restoran modern di Eropa menyajikannya bukan sebagai gorengan tepung, melainkan sebagai pengganti daging (meat alternative) berserat tinggi dalam bentuk smoked tempeh, steak tempe bercita rasa BBQ, hingga topping untuk salad eksotis dan poking bowl.

Fenomena viralnya tempe sebagai superfood modern ini kian masif berkat dorongan media sosial dan edukasi nutrisi global. Komunitas kesehatan di Amerika Serikat, Australia, dan Jepang gencar mempromosikan tempe sebagai salah satu makanan fermentasi terbaik untuk kesehatan usus (gut health)—sejajar dengan kombucha, kimchi, dan kefir.

Keunggulan tempe yang minim olahan (unprocessed food), bebas gluten serta kaya akan protein utuh menjadikannya favorit baru di kalangan atlet, fitness influencer, hingga pegiat gaya hidup berkelanjutan. Kepopuleran ini membuktikan bahwa cipta rasa alami dan teknologi fermentasi tradisional Nusantara mampu menembus lidah dunia, menjadikannya tren pangan global yang tidak hanya menyehatkan, tetapi juga bernilai prestige tinggi di mata internasional.

Namun, di balik sebutan kebanggaan dan tepuk tangan dunia, ada kepedihan yang tersembunyi di balik selembar daun pisang. Tempe yang kita nikmati setiap pagi di atas piring bukan lahir dari keringat petani lokal yang mencangkul di tanah sawah Nusantara. Ia adalah anak kandung dari kapal-kapal kargo raksasa yang menyeberangi Samudra Pasifik, membawa jutaan ton biji kedelai kuning hasil industri skala masif Negeri Paman Sam.

Sejarah yang Tertukar

Secara kultural, tempe adalah mahakarya murni kejeniusan lokal Nusantara. Berbeda dari tahu yang merupakan migrasi teknologi kuliner Tiongkok, jejak tempe terpatri kuat dalam manuskrip Serat Centhini (ditulis sekitar tahun 1814). Di sana, hidangan seperti sambal lethok dan jae santen tempe telah tercatat sebagai bagian inti dari peradaban kuliner masyarakat Mataram sejak abad ke-16.

Penemuannya yang tak sengaja—ketika kedelai rebus terbungkus daun jati atau pisang dihinggapi kapang Rhizopus oligosporus—menciptakan sejarah baru pangan berprotein tinggi tanpa perlu menyembelih hewan ternak.

Keunikan ini membuat dunia internasional sepakat menundukkan kepala. Meski di belahan Asia Timur terdapat produk olahan fermentasi sejenis seperti natto di Jepang atau douchi di Tiongkok, tidak ada nama lain yang sanggup menggantikan tempe. Bintang kuliner ini diserap secara mutlak ke dalam kosakata global sebagai “Tempeh”.

Penambahan huruf ‘h’ di akhir kata semata-mata menjadi pelicin lidah Barat agar tak salah mengucapkannya. Nama itu tetap milik Indonesia, meski isi di dalamnya telah lama kehilangan identitas tanah air.

Angka yang Bicara

Untuk memahami betapa dalamnya jurang ketergantungan ini, mari menengok realitas angka. Kebutuhan kedelai nasional Indonesia berkisar antara 2,5 hingga 2,75 juta ton per tahun. Sayangnya, kemampuan produksi kedelai dalam negeri (lokal) berada dalam taraf yang mengkhawatirkan—hanya mampu menyumbang di bawah 10% hingga 15% dari total kebutuhan tersebut.

Akibatnya, Indonesia menjelma menjadi salah satu negara pengimpor kedelai terbesar di dunia. Data Badan Pusat Statistik (BPS) dan Kementerian Pertanian mencatat volume impor kedelai Indonesia konsisten berada di kisaran 2,1 hingga 2,6 juta ton per tahun, dengan nilai transaksi mencapai Rp 17,9 triliun hingga Rp 18 triliun per tahunnya.

Dari seluruh kedelai impor yang membanjiri pelabuhan nasional—yang 80% hingga 88%-nya disuplai langsung dari Amerika Serikat serta sisanya dari Kanada dan Brasil—porsi terbesar justru dikunyah oleh industri perajin tempe. Sekitar 50% dari total impor dialokasikan khusus sebagai bahan baku tempe, sementara 30% untuk tahu, dan sisanya diserap industri olahan fabrikasi seperti kecap, tauco, susu kedelai, hingga pakan ternak.

Separuh lebih armada kapal kargo asing yang bersandar di tanah air pada hakikatnya berlayar hanya demi memastikan kompor perajin tempe kita tidak mati.

Petani yang Menyerah

Mengapa kedelai impor begitu perkasa menundukkan kedelai lokal? Jawabannya ada pada rasionalitas ekonomi yang menyakitkan. Kedelai Amerika Serikat diproduksi secara terindustrialisasi dengan benih rekayasa genetika (GMO), menghasilkan biji kedelai yang berukuran besar, seragam, berkulit tipis, dan berkadar air stabil.

Bagi para perajin tempe—yang mayoritas merupakan pelaku UMKM dengan modal sangat tipis—kedelai impor menjanjikan efisiensi tinggi. Ragi bekerja lebih cepat, hasil fermentasi lebih padat, dan penampilan tempe terlihat mulus di mata konsumen. 

Kondisi ini menciptakan rantai penderitaan di dua sisi. Petani kedelai Indonesia menjerit karena semakin enggan menanam kedelai. Bertani kedelai lokal di tanah tropis kalah menguntungkan dibandingkan menanam padi atau jagung. Tanpa perlindungan harga patokan yang memadai, subsidi benih unggul, dan teknologi pascapanen yang canggih, memanen kedelai lokal sering kali berarti menyongsong kerugian. Luas lahan tanam kedelai nasional pun terus menyusut drastis saban tahun.

Di seberang, muncul kecemasan perajin tempe. Mereka berada di posisi serba salah. Karena bahan baku utamanya 100% bergantung pada pasokan impor, bisnis mereka sangat rapuh terhadap fluktuasi nilai tukar rupiah terhadap dolar AS serta geopolitik global. Begitu harga kedelai dunia naik, biaya produksi langsung membengkak.

Namun, membebankan kenaikan harga jual tempe kepada masyarakat lokal adalah hal yang hampir mustahil. Bagi publik Indonesia, tempe adalah bantalan perut rakyat miskin—kenaikan harga seribu rupiah saja cukup untuk memicu demonstrasi atau pemogokan produksi secara nasional. 

Perbandingan yang Cempang

Di sinilah letak puncak ironi dari saga tempe Nusantara. Ketika pemerintah dan media kerap membanggakan narasi “Tempe Go International” lewat pengiriman keripik tempe atau frozen tempeh ke pasar diaspora di Jepang, Australia, hingga Eropa, nilai ekonomis yang dihasilkan sebenarnya tidak lebih dari sekadar tetesan air di tengah padang pasir.

Ekspor produk tempe olahan Indonesia hingga saat ini masih berada dalam skala puluhan hingga ratusan ton per tahun, dengan nilai transaksi yang tergolong niche market. Karena itu terjadi defisit luar biasa. Indonesia mengeluarkan devisa negara hingga belasan triliun rupiah setiap tahun untuk membeli kedelai mentah dari luar negeri, tetapi hanya mampu meraup kembali miliaran rupiah dari ekspor produk jadinya. Kita mengimpor bahan baku secara masif dalam bentuk bulk, tetapi hanya sanggup mengekspor kembali olahannya dalam jumlah remah-remah.

Tempe adalah manifestasi kejeniusan masa lalu yang berhasil menembus batas-batas kebudayaan dunia. Namun, mempertahankan status superfood global dengan pilar bahan baku yang sepenuhnya ditopang oleh negara lain adalah sebuah kecelakaan kedaulatan pangan.

Selama kebijakan pertanian nasional belum mampu memberikan insentif yang adil bagi petani kedelai lokal—mulai dari riset benih non-GMO berproduksi tinggi hingga jaminan serap harga—selama itu pula tempe akan terus menjadi produk ironis: sebuah kebanggaan nasional yang setiap gigitannya dibayar menggunakan mata uang dolar.(*)

BACA JUGA: [JERNIH PANGAN LOKAL] Memulihkan Lahan Kering Ngada Lewat Arang Bambu dan Sains Modern

Exit mobile version