Crispy

[JERNIH PIALA DUNIA 2026] Menunggu Tim Underdog Asia Bikin Kejutan Lagi

  • Pak Seung-zin dan Pak Doo-ik patutlah dikenang sebagai pemain Asia pertama yang membuka mata dunia akan kemampuan negara Asia mengalahkan tim tim Eropa.

JERNIH — Tim-tim Asia jarang melaju sampai jauh di Piala Dunia, tapi punya sejumlah kisah paling berkesan yang dikenang sepanjang masa. Korea Utara (Korut) mengawalinya di Piala Dunia 1966, Korea Selatan (Korsel) melanjutkannya di Piala Dunia 2002 dengan mencapai semifinal.

Di Piala Dunia 2026, tim-tim Asia semakin banyak, dan kita berharap Australia, Qatar, Jepang, Yordania, Arab Saudi, Korsel, dan Uzbekistan, melanjutkan kisah underdog dari Asia yang tidak sekedar membuat kejutan tapi mampu melangkah jauh.

Mari kita sejenak menengok kenangan hebat tim Asia di Piala Dunia:

Gol Pak Doo-ik dan Kemenangan Tim Asia Pertama

Berada di Grup 4 bersama Uni Soviet, Italia, dan Cile yang berstatus peringkat tiga Piala Dunia 1962, Korut nyaris tak punya harapan mencetak gol ke gawang salah satu lawan, apalagi memenangkan pertandingan.

Di pertandingan pertama, Korut dipecundangi tiga gol tanpa balas. Di pertandingan kedua, Korut bikin Cile kerepotan dan hanya bisa mencetak gol lewat titik penalti. Dua menit jelang laga usai, Pak Seung-zin mencetak gol dan Korut mengakhiri laga dengan kedudukan 1-1.

Korut bisa mencetak gol, yang membuat mereka punya harapan untuk mencetak kemenangan. Sesuatu yang mustahil, karena lawan terakhir adalah Italia — dua kali juara Piala Dunia dan diprediksi tanpa kesulitan lolos dari Grup 4. Saat itu, Italia mengalahkan Cile 2-0 dan dikalahkan Uni Soviet 0-1. Kemenangan atas Korut akan meloloskan Italia dari Grup 4.

Yang terjadi adalah Korut mengalahkan Italia lewat gol tunggal Pak Doo-ik di menit 42. Italia tampil memalukan sepanjang babak kedua dan gagal mengejar satu gol. Korut bertahan habis-habisan untuk satu hal, membuat Italia frustrasi.

Pers Barat menulis petandingan ini sebagai the mother-of-all World Cup footballing upsets. Ada juga yang menulis; Korut menghancurkan tatanan sepak bola dengan menyingkirkan Italia, dan memberikan luka paling parah dalam sejarah sepak bola negara itu.

Di Perempat Final, Korut menghadapi Portugal dan keduanya mencatatkan salah satu laga terhebat dalam Piala Dunia. Bermain di Goodison Park, markas Everton, Korut unggul tiga gol dalam 25 menit. Pak Seung-zin membuka skor saat laga belum genap satu menit. Li Dong-woon dan Yang Seung-kook bergatian membobol gawang Portugal menit ke-22 dan 25.

Setelah itu, giliran Eusebio — bintang timnas Portugal — mengamuk. Ia memperkecil kekalahan lewat dua gol sebelum babak pertama berakhir. Diawali menit ke-27 dan penlati menit ke-43. Di babak kedua, Portugal melanjutkan dominasinya, Korut coba menyerang tapi selalu gagal.

Eusebio mencetak dua gol lagi, menit ke-56 dan penalti menit ke-59. Jose Augusto mencetak gol terakhir Portugal untuk kemenangan 5-3.

Setelah 44 tahun, Korut dan Portugal bertemu lagi di Piala Dunia 2010 Afrika Selatan. Kali ini tidak ada saling bikin gol. Yang ada adalah Portugal terlalu tangguh dan menang tujuh gol tanpa balas.

Gol Solo Saeed Owairan dan Green Falcons yang Mengesankan

Idealnya, yang lolos dari Grup F Piala Dunia 1994 adalah Belanda dan Belgia. Sedangkan Arab Saudi dan Maroko angkat koper setelah laga terakhir mereka di penyisihan grup.

Yang terjadi justru sebaliknya. Belgia dan Maroko pulang, Belanda dan Arab Saudi lolos ke babak sistem gugur.

Setelah kalah 1-2 pada laga pertama melawan Belanda, Arab Saudi membuka harapan dengan mengalahkan Maroko 2-1 lewat gol Sami al-Jaber dan Fuad Anwar.

Di pertandingan ketiga, Arab Saudi menghadapi Belgia. Arab Saudi harus menang untuk lolos ke babak sistem gugur. Belgia cukup bermain seri tanpa atau dengan gol dan lolos ke babak sistem gugur sebagai juara grup. Sebab, di dua lagi sebelumnya Belgia mengalahkan Belanda dan Maroko masing-masing 1-0.

Arab Saudi mengalahkan Belgia 1-0 dan menjadi negara Asia yang lolos ke babak penyisihan grup Piala Dunia 1994. Namun, bukan itu yang dikenang banyak orang.

Yang selalu diingat penggemar sepak bola dunia dalah gol solo Saeed Owairan, yang mengingatkan siapa pun paga dol Diego Maradona ke gawang Inggris di Piala Dunia 1986.

Menerima bola di separuh lapangan sendiri, Owairan menggiring melewati lini tengah dan pertahanan Belgia, melewati beberapa pemain lawan yang ogah-ogahan menjaga, dan menaklukan penjaga gawang Michel Preud’homme.

Tahun 2024, dalam wawancara dengan FIFA, Owairan mengenang laga itu. Menurutnya, prediksi semua orang sebelum laga adalah Arab Saudi akan dibantai Belgia 0-12.

Owairan menyebut gol solo yang dibuatnya sebagai legenda, sebuah momen yang mengukuhkan tempatnya dalam sejarah Piala Duna. Namun, tidak ada kejutan lagi ketika menghadapi Swedia. Arab Saudi kalah 1-3, dan Owairan kehilangan sentuhan magis-nya dalam pertandingan itu.

Meski demikian kemenangan atas Belgia menginspirasi semua pemain Arab Saudi yang berangkat ke Piala Dunia. Di Piala Dunia Qatar 2022, Arab Saudi membuat kejutan lagi dengan mengalahkan Argentina, dengan Lionel Messi di dalamnya, 2-1.

Ketika Korea Selatan Melangkah Jauh

Korea Selatan (Korsel) dan Jepang adalah dua negara Asia yang bersaing di sepak bola. Tahun 2002 keduanya menjadi tuan rumah bersama Piala Dunia.

Korsel dilatih Guus Hiddink, yang diharapkan membawa Taeguk Warriors — julukan timnas Korea Selatan — lolos dari fase grup. Namun, Korsel tampil tak mengesankan di sejumlah laga uji coba dan Hiddink diprediksi akan gagal.

Bergabung di Grup D bersama AS, Portugal, dan Polandia, Korsel diprediksi hanya akan berada di posisi ketiga dengan koleksi satu atau dua angka.

Yang terjadi adalah Korsel lolos sebagai juara grup; mengalahkan Polandia 2-0 di laga pembuka, menahan AS 1-1 di laga kedua, dan mengalahkan Portugal 1-0 di laga terakhir.

Kemenangan atas Portugal adalah laga pertama yang patut dikenang. Saat itu, Portugal diperkuat dua bintang yang sedang dalam puncak permainannya, yaitu Rui Costa dan Luis Figo.

Di babak 16 besar, Korsel menghadapi Italia yang diperkuat semua pemain terbaiknya; Gianluigi Buffon, Francesco Totti, Paolo Maldini, dan Alessandro del PIero. Kedua tim berbagi gol 1-1 dalam dua kali 45 menit, yang membuat laga dilanjutkan dengan perpanjangan waktu.

Ahn Jung Hwan membuat sundulan emas untuk memenangkan Korsel 2-1, dan memicu euforia di sekujur Semanjung Korea. Di Italia, pers memaki Ahn Jung Hwan, dan Gli Azzuri — julukan timna Italia — pulang tanpa sambutan penggemar.

Melawan Spanyol, laga berakhir tanpa gol dan dilanjutkan adu penalti. Penjaga gawang Lee Woon-jae menjadi pahlawan dengan menahan tembakan Joaquin. Kapten Hong Myung-bo, pemain paling senior Korsel, menklukan Ikker Casillas untuk membawa Korsel ke semifinal.

Korsel gagal mencapi final akibat dikalahkan Jerman 0-1, dan tidak mendapat tempat ketiga akibat dikalahkan Turkiye 2-3. Hakan Sukur mengejutkan Korsel lewat gol tercepat dalam sejarah Piala Dunia.

Korsel menjadi satu-satunya tim Asia yang melaju sampai jauh, yaitu semifinal.

Ketika Samurai Biru Menaklukan Raksasa

Jepang punya pengalaman tiga kali melangkah ke babak 16 besar, di Piala Dunia 2002, 2010, dan 2018, namun statusnya bukan unggulan untuk lolos dari Grup E Piala Dunia 2022. Maklum, Jepang harus bertarung melawan raksasa Jerman, Spanyol, dan Kosta Rika.

Kejutan terjadi di laga pertama. Jepang mengalahkan Jerman 2-1, tapi gagal mencetak gol ke gawang Kosta Rika dan kalah 0-1. Di pertandingan terakhir melawan Spanyol, Jepang ketiggalan 0-1 saat laga baru berjalan sebelas menit.

Di babak kedua, Ritsu Doan dan Ao Tanaka membalikan kedaan dalam enam menit pertama. Kedudukan 2-1 untuk Jepang bertahan sampai laga berakhir. Jepang dan Spanyol lolos ke sistem gugur.

Yang menarik dari laga melawan Spanyol adalah Jepang hanya menguasai bola 18 persen, terendah dalam pertandingan Piala Dunia. Pelatih Hajime Moriyasu sengaja bermain bertahan agar Jepang bisa lolos.

Target Jepang adalah lolos ke babak 16 besar. Sayangnya, itu tak terjadi. Menghadai Kroasia, Jepang bermain imbang 1-1 selama 120 menit, dan laga ditentukan adu penalti. Jepang kalah.

Jepang gagal memenuhi target, tapi kemenangan atas Jerman dan Spanyol mendongkrak status Samurai Biru di peta sepak bola dunia. Pelatih Moriyasu mengatakan; “Pemain menunjukan kepada kami akan masa depan dan era baru sepak bola Jepang.”

Back to top button