Jernih.co

[JERNIH TRAVEL] Sepotong Keikhlasan di Balik Renyahnya Combro Atmaja Suryanencana

Di balik riuh antrean Jalan Suryakencana Bogor, sebuah gerobak saksi bisu perjalanan 29 tahun Pak Atmaja. Ini bukan hanya cerita tentang parutan singkong gurih dan rahasia tumisan oncom yang melegenda, melainkan kisah tentang ingatan magis, nama yang diikhlaskan, dan kecemasan sepi seorang ayah di hari tua.

WWW.JERNIH.CO –  Aroma gurih oncom berteman wangi bawang putih seketika menyergap hidung begitu melangkah di trotoar pecinan Jalan Suryakencana (Surken), Kota Bogor. Di antara kepungan kuliner modern dan deretan gerobak legendaris yang memadati pusat pusaka kuliner Kota Hujan tersebut, ada satu titik yang tak pernah sepi. Riuh rendah percakapan beradu dengan desis minyak panas, menciptakan harmoni tersendiri di depan sebuah gerobak sederhana berwarna merah-putih.

Di sinilah Combro Atmaja—atau yang kerap salah dikenali sebagai Combro Atmajaya—setiap harinya konsisten memicu antrean panjang. Para pelancong luar kota hingga warga lokal rela berdiri berlama-lama demi mendapatkan beberapa butir camilan tradisional Sunda berbalut parutan singkong ini.

Di balik cita rasa luar biasa yang memikat lidah ribuan orang, ada sosok Pak Atmaja. Pria yang kini genap berusia 60 tahun tersebut merupakan perajin kuliner tradisional yang ulet. Jiwa besarnya tercermin bukan hanya dari senyum yang selalu tersungging saat melayani pembeli, melainkan juga dari sekelumit kisah di balik nama jenamanya.

Sejak merintis usaha ini pada tahun 1997, konsistensi Pak Atmaja membuat kreasinya melesat menjadi legenda lokal, bahkan kian viral di era digital berkat ulasan di media sosial. Menariknya, kesuksesan tersebut sempat memicu fenomena unik. Sejumlah pedagang lain mulai mengekor kesuksesannya dan menggunakan nama “Atmaja” untuk menjajakan produk serupa. Uniknya, replika non-orisinal tersebut justru ikut laku keras di pasaran.

Alih-alih meradang atau menempuh jalur hukum demi hak paten, ayah tiga anak ini justru memilih jalan damai yang jenaka. “Ada orang bilang, ‘tambahin aja Ya (di belakang nama Atmaja)’, jadilah Atmajaya,” kenang Pak Atmaja sembari terkekeh.

Bagi sebagian orang, nasib pemilik asli yang harus “mengalah” mengubah nama demi menghindari kebingungan ini terasa ironis. Namun bagi Pak Atmaja, urusan rezeki tak perlu didebatkan. Dedikasinya menjaga kualitas bahan baku dan keaslian rasa sejak puluhan tahun lalu adalah pembuktian yang tak bisa dipalsukan oleh spanduk mana pun.

Setiap hari, tangan senja yang masih tampak lihai itu mampu memproduksi hingga 500 buah combro. Menyaksikan Pak Atmaja bekerja sendirian adalah sebuah pertunjukan seni keahlian (craftsmanship).

Jari-jarinya dengan tangkas mengambil adonan singkong, membentuk kantung kecil, mengisinya dengan tumisan oncom, lalu menutupnya dengan presisi tinggi sebelum diluncurkan ke dalam wajan raksasa.

Di tempat ini, combro-combro yang sudah berwarna cokelat keemasan dengan tekstur kulit kering bertekstur renyah (crispy) tidak pernah sempat mendingin di atas peniris. Begitu diangkat dari wajan, mereka langsung berpindah ke dalam kotak-kotak kardus pembungkus yang telah menunggu.

“Jangan ditutup, dibuka saja,” saran Pak Atmaja kepada seorang pembeli dengan nada ramah yang khas. Petuah sederhana ini krusial: membiarkan uap panas pasca-goreng lepas bebas adalah rahasia agar kulit combro tetap garing maksimal hingga tiba di rumah.

Meski harganya sangat ramah di kantong—hanya Rp5.000 per buah—jangan harap Anda bisa membeli dengan santai. Seorang pembeli setidaknya langsung memborong 20 hingga 30 butir sekaligus. Tak heran jika sistem booking alias pesan duluan menjadi hukum tidak tertulis di sini agar tidak kehabisan.

Di sinilah kejeniusan alami Pak Atmaja terlihat. Tanpa secarik kertas catatan, tanpa gawai canggih, dan tanpa nomor antrean layaknya di klinik dokter, otak Pak Atmaja merekam semuanya dengan sempurna. Ia hafal di luar kepala berapa jumlah pesanan masing-masing orang, siapa yang mengantre duluan, dan siapa yang baru datang. Sebuah pelayanan personal yang magis.

Jika mayoritas combro pinggir jalan akan berubah menjadi keras, alot, atau liat ketika suhunya mendingin, racikan Pak Atmaja berdiri di kasta yang berbeda. Komposisi parutan singkongnya dihitung dengan presisi yang matang, menghasilkan sensasi garing di luar namun tetap lembut, empuk, dan moist di bagian dalam saat dikunyah.

Secara harfiah, combro adalah akronim dari bahasa Sunda yakni oncom di jero (oncom di dalam). Pak Atmaja sangat royal menaruh isian tersebut. Oncom ditumis dengan bumbu rempah yang kuat, memunculkan rasa gurih berpadu sensasi pedas samar yang pas di lidah. Wangi bawang putih yang menyeruak dari dalam adonan berpadu dengan bumbu rahasia yang meresap sempurna. Namun, ada satu kejutan rasa lain yang tipis namun mengikat semua komponen: sentuhan rasa manis.

“Saya tambahkan sedikit kecap,” ujar Pak Atmaja, membocorkan sedikit rahasia dapurnya sembari tersenyum misterius.

Kelebihan lain terletak pada insting masaknya. Tanpa bantuan termometer digital selayaknya chef modern di restoran bintang lima, Pak Atmaja seolah sudah mafhum luar kepala berapa derajat suhu minyak yang paling tepat untuk mematangkan bagian dalam combro tanpa membuat kulit luarnya gosong.

Bagi pembeli yang harus menunggu kloter penggorengan berikutnya, mereka boleh sekadar mencuci mata melihat fasad Toko Roti De Paris yang berdiri tepat di sebelah gerobak—sebuah toko roti yang sama-sama memegang predikat legendaris di Surken.

Di gerobaknya, ia pasang nomor SIM ponselnya guna memudahkan jika ada yang ingin order duluan. Tetapi siapkan uang kontan jika ingin membayar, karena begitulah moda pembayaran yang ia sediakan.

Sore itu, tepat pada peringatan Hari Lahir Pancasila 1 Juni 2026, Pak Atmaja terus bergerak lincah melayani gelombang pembeli hingga adonannya tak bersisa. Di balik kegembiraan mengantongi rupiah demi rupiah dari pasar mandiri (captive market) yang fanatik, ada sekelumit gema batin yang ia pendam dalam-dalam tentang masa depan bisnis yang dirintisnya susah payah dari nol ini.

Sembari tangan terampilnya bekerja secara otomatis ia meluapkan curahan hatinya mengenai ketiga anaknya. “Saya sekolahin sampai lulus (perguruan tinggi), bahkan nikahannya saya yang biaya semua,” keluhnya perlahan.

Nada suaranya mendadak melunak, menyiratkan kebanggaan sekaligus kepasrahan. Sayangnya, dari ketiga buah hatinya yang kini telah mapan berkat keringat sang ayah dari berjualan combro, tidak ada satu pun yang berkeinginan meneruskan tongkat estafet usaha legendaris ini.

Saat ini, Pak Atmaja memang memiliki seorang adik yang juga berjualan combro dengan versi, resep, dan jenama yang sama. Namun, sang adik tentu masih berada di garis generasi yang sama dengannya.

Ketika mentari sore mulai tenggelam di balik lanskap Kota Bogor, Pak Atmaja sendiri tak tahu pasti sampai kapan raga senjanya mampu terus berdiri di Jalan Suryakencana ini untuk memuaskan kerinduan lidah para pelanggannya. Yang pasti, selama gerobak merah-putih itu masih menggelar lapak, keikhlasan dan kerenyahan sebutir Combro Atmaja akan tetap menjadi bagian dari sejarah kuliner terbaik yang pernah dimiliki Kota Hujan. (*)

BACA JUGA: GASTRONOMI DAN KEAJAIBAN TANAH PRIANGAN

Exit mobile version