Di balik lembaran tipis plastik yang kita gunakan setiap hari, sedang terjadi guncangan ekonomi global yang serius. Harga biji plastik dunia kini meroket hingga 60%.
WWW.JERNIH.CO – Plastik, yang selama ini dianggap sebagai komoditas murah dan melimpah, kini berubah menjadi beban biaya yang signifikan. Artikel ini akan mengulas rangkaian alasan logis di balik lonjakan harga tersebut serta dampaknya bagi masyarakat.
Penyebab utama kenaikan harga plastik adalah kombinasi antara krisis geopolitik di Timur Tengah dan ketergantungan industri petrokimia pada bahan baku fosil.
Secara logis, rangkaian penyebabnya dapat dirunut oleh sebab gangguan pasokan nafta. Plastik diproduksi dari biji plastik yang berbahan dasar nafta—salah satu produk turunan minyak bumi.
Saat ini, konflik di kawasan Asia Barat menyebabkan kilang-kilang minyak di Arab Saudi dan negara Teluk terganggu. Karena sekitar 22% pasokan petrokimia dunia berasal dari wilayah ini, setiap gangguan di jalur distribusi seperti Selat Hormuz langsung memicu kelangkaan global.
Ketegangan geopolitik tidak hanya menghambat produksi, tetapi juga meningkatkan biaya asuransi pengiriman laut dan harga bahan bakar kapal. Hal ini membuat biaya impor biji plastik ke Indonesia membengkak.
Indonesia sendiri masih sangat bergantung pada impor biji plastik dari negara-negara seperti China, Thailand, dan Arab Saudi. Ketika harga global naik dan nilai tukar mata uang berfluktuasi, industri manufaktur dalam negeri tidak memiliki pilihan selain menyesuaikan harga jual ke pasar.
Lonjakan harga ini terjadi dalam waktu yang relatif singkat dan melampaui fluktuasi normal. Berdasarkan data pasar per April 2026, kenaikan harga rata-rata berada di kisaran 20% hingga 60%, bahkan untuk beberapa item tertentu di tingkat retail, harganya naik hingga 100%.
Beberapa jenis plastik yang mengalami kenaikan signifikan meliputi Polyethylene (PE) yang biasa digunakan untuk kantong plastik (kresek) dan kemasan pangan, naik sekitar 26% dalam sebulan. Kemudian Polypropylene (PP) dipakai untuk gelas plastik (cup), sedotan, dan wadah makanan, mengalami kenaikan sekitar 20%.
Lalu jenis Linear Low-Density Polyethylene (LLDPE) diaplikasikan untuk plastik stretch film dan kemasan fleksibel lainnya. Juga Plastik Teknik (ABS & Styrene), yakni material yang lebih keras untuk barang elektronik dan otomotif juga mengalami penyesuaian harga yang stabil namun tinggi.
Sebagai contoh konkret di pasar, harga satu pak kantong plastik kresek yang semula Rp10.000 kini telah melonjak menjadi Rp15.000 hingga Rp16.000.
Kenaikan harga plastik memiliki efek domino yang langsung menyentuh lapisan masyarakat paling bawah. Pelaku usaha kecil seperti pedagang gorengan, warung kopi, dan UMKM makanan ringan adalah pihak yang paling terdampak. Plastik adalah komponen pengemasan primer yang sulit digantikan secara instan. Banyak dari mereka terpaksa memperkecil margin keuntungan atau sedikit menaikkan harga jual demi menutupi biaya bungkus.
Karena hampir semua distribusi pangan (dari pasar induk ke pengecer) menggunakan kantong plastik, kenaikan biaya operasional ini dapat memicu kenaikan harga komoditas pangan lainnya secara kumulatif.
Di sisi positif, kondisi ini memaksa masyarakat untuk kembali membawa tas belanja sendiri (reusable bag) guna menghemat pengeluaran. Namun, bagi masyarakat menengah ke bawah, hal ini tetap dianggap sebagai tambahan beban ekonomi harian.
Produsen kini mulai melirik alternatif bahan baku seperti propana atau kondensat, serta mempercepat riset plastik berbasis nabati (bioplastik), meskipun biaya produksinya saat ini masih lebih tinggi dibandingkan plastik konvensional.(*)
BACA JUGA: Tujuh Sumber Mikroplastik di Dapur Kita
