
Milly Alcock tampil garang mengeksekusi sosok anti-hero yang berantakan namun memikat, ditemani Jason Momoa yang secara tak terduga beralih rupa menjadi Lobo.
WWW.JERNIH.CO – Ketika langit sinema pahlawan super mulai terasa jenuh dengan formula yang itu-itu saja, James Gunn dan Peter Safran datang membawa angin segar lewat babak baru DC Universe (DCU). Langkah berani itu kian nyata ketika layar bioskop di seluruh dunia, termasuk Indonesia, resmi menyala pada akhir Juni 2026 untuk menyambut salah satu ikon paling dinantikan abad ini.
Bukan sang Man of Steel yang kali ini mencuri perhatian, melainkan kepakan jubah merah sepupunya yang hadir membawa narasi yang jauh lebih kelam dan menggigit.

Film “Supergirl” seakan menjadi pernyataan artistik yang megah sekaligus menantang. Menjadi pilar kedua dalam era baru DCU, proyek ambisius ini langsung memicu gelombang diskusi hangat di kalangan pencinta sinema global sejak hari pertama penayangannya.
Membicarakan sang tokoh utama, penonton akan diajak berkenalan kembali dengan Kara Zor-El, sosok di balik topeng pahlawan yang memiliki garis darah langsung dengan Kal-El alias Superman. Namun, singkirkan bayangan tentang pahlawan yang tumbuh besar dalam kehangatan ladang jagung Smallville yang damai. Kara adalah produk dari sebuah tragedi besar, sebuah jiwa yang dipaksa dewasa oleh kehancuran total yang melumat dunianya tanpa sisa.
Ia menghabiskan masa mudanya di atas puing-puing Argo City, bagian dari planet Krypton yang sekarat, sembari menyaksikan orang-orang tercintanya tewas perlahan akibat paparan radiasi Kryptonite. Trauma psikologis yang masif inilah yang membentuk kepribadian Kara menjadi sosok yang sinis, keras kepala, dan pemberontak. Ia menjelma menjadi figur yang lebih dekat dengan persona anti-hero, sebuah kontras yang sangat tajam jika dibandingkan dengan sang sepupu yang selalu penuh kebaikan dan kesabaran.
Sutradara Craig Gillespie, yang sebelumnya sukses mengacak-acak emosi penonton lewat “Cruella” dan “I, Tonya”, ditunjuk untuk menakhodai adaptasi layar lebar ini. Menggunakan naskah yang ditulis dengan tajam oleh Ana Nogueira, Gillespie berhasil meramu sebuah ansambel pemain papan atas yang memberikan warna tersendiri pada tiap adegannya. Pemilihan jajaran pelakon ini terbukti menjadi salah satu daya tarik utama yang membuat bioskop dipadati penonton.
Sorotan utama tentu saja tertuju pada Milly Alcock, aktris muda asal Australia yang namanya meroket lewat serial kolosal House of the Dragon. Keberhasilannya memenangkan audisi ketat untuk peran Kara Zor-El terbayar tuntas lewat penampilannya yang penuh karisma di layar lebar. Alcock menghidupkan jiwa yang terluka di balik lambang harapan tersebut.
Di samping Alcock, aktris muda Eve Ridley tampil memukau sebagai Ruthye Marye Knoll, alien remaja yang menjadi poros emosional sekaligus rekan perjalanan Kara. Sementara itu, aktor watak Matthias Schoenaerts dipercaya untuk menghidupkan karakter Krem of the Yellow Hills. Schoenaerts bertransformasi menjadi sosok bajak laut luar angkasa kejam yang menjadi bumbu konflik utama dalam narasi ini.
Kejutan menyenangkan juga hadir lewat kemunculan spesial David Corenswet yang kembali mengenakan setelan Clark Kent alias Superman, memberikan jembatan narasi yang manis bagi semesta DCU. Namun, yang paling mencuri perhatian penonton tidak lain adalah Jason Momoa. Melepaskan sepenuhnya citra Raja Atlantis yang melekat bertahun-tahun, Momoa tampil luar biasa sebagai Lobo, sang pemburu hadiah kosmik yang ikonik.

Dari segi penceritaan, film berdurasi 108 menit ini dengan setia mengadaptasi komik mahakarya Tom King yang berjudul “Supergirl: Woman of Tomorrow”. Gillespie membawa penonton ke dalam sebuah petualangan luar angkasa yang memiliki cita rasa fiksi ilmiah berbalut nuansa barat klasik bergaya True Grit. Kisahnya bermula saat Kara merayakan ulang tahunnya yang ke-23 dengan cara yang sangat membumi: mabuk-mabukan di sebuah planet bermatahari merah agar bisa merasakan efek alkohol saat kekuatannya hilang sementara.
Di tengah pelarian spiritualnya dari bumi tersebut, takdir mempertemukannya dengan Ruthye, seorang gadis yang menyimpan dendam membara setelah ayahnya dibantai secara keji oleh Krem. Situasi berubah menjadi perjalanan hidup dan mati yang personal ketika Krem meracuni Krypto, anjing peliharaan sekaligus sahabat setia Kara.
Dengan waktu yang kian menipis—hanya tersisa tiga hari sebelum racun tersebut merenggut nyawa Krypto—Kara dan Ruthye terpaksa memulai perburuan lintas galaksi yang penuh marabahaya demi menemukan sang pembunuh.
Bagi pencinta sinema di tanah air, antusiasme ini sudah bisa dinikmati lebih awal karena film ini mulai mengudara di jaringan bioskop Indonesia, termasuk studio IMAX, sejak 24 Juni 2026 lewat sesi early access. Penayangan regulernya sendiri kemudian menyusul secara serentak pada tanggal 26 Juni 2026. Antrean panjang di loket tiket menjadi bukti sahih betapa kuatnya daya pikat pahlawan perempuan yang satu ini di mata penonton domestik.
Demi mewujudkan lanskap luar angkasa yang megah dan efek visual yang memanjakan mata, Warner Bros. Pictures tidak main-main dalam menggelontorkan dana. Biaya produksi film ini dilaporkan menyentuh angka fantastis, berkisar antara Rp3,02 triliun hingga Rp3,31 triliun, sebuah angka yang belum termasuk anggaran masif untuk kampanye pemasaran global mereka. Nilai investasi yang masif ini terlihat jelas pada detail CGI dan desain produksi yang luar biasa di sepanjang film.
Mengingat film ini baru saja membuka tirai bioskop dalam hitungan hari di akhir Juni 2026, pendapatan box office globalnya saat ini tercatat baru menyentuh angka sekitar Rp231,4 miliar pada fase awal pembukaan.
Para pengamat industri film memproyeksikan bahwa debut domestik pada pekan pertamanya akan mendarat di kisaran Rp712 miliar hingga Rp890 miliar. Angka pembukaan yang terbilang moderat ini terjadi karena sang pahlawan harus berbagi layar dan bersaing ketat dengan raksasa animasi keluarga, “Toy Story 5”.
Secara kolektif, film ini menerima ulasan yang cukup dinamis dan beragam di situs agregator Rotten Tomatoes. Sebagian kritikus menilai bahwa struktur narasi di beberapa paruh film terasa agak generik dan terjebak pada formula petualangan standar, namun hampir semua sepakat bahwa departemen aktingnya tampil sangat solid.

Pujian paling meriah dan konsisten dialamatkan kepada performa impresif dari Milly Alcock. Ia dinilai sukses mengeksekusi visi James Gunn yang menginginkan interpretasi Supergirl yang berjiwa bebas, berantakan, namun memiliki prinsip hidup yang sekeras baja. Alcock dengan sangat fasih mampu memproyeksikan kerapuhan batin seorang penyintas trauma, sekaligus mentransformasikannya menjadi kegarangan yang meledak-ledak saat adegan pertempuran berlangsung.
Pujian serupa juga layak disematkan kepada Matthias Schoenaerts, yang berhasil menampilkan sosok Krem sebagai seorang antagonis yang sangat dingin, keji, dan memicu rasa dongkol penonton.
Di sisi lain, kehadiran Jason Momoa sebagai Lobo dengan cerutu khasnya menjadi elemen komedi segar yang paling dinanti di setiap kemunculannya. Pada akhirnya, lewat jajaran pemain yang berdedikasi dan visual yang memukau, film ini berhasil menjadi sebuah tontonan paruh tahun yang tidak boleh dilewatkan begitu saja.(*)
BACA JUGA: Komik Superman Rp147 Miliar Pecahkan Rekor Komik Termahal






