Site icon Jernih.co

Kisah Nicolas Maduro dan Perjuangan Amerika Latin Melawan Kerakusan Imperialisme

JERNIH — Dalam narasi Barat, Amerika Latin melulu digambarkan untuk dua hal; kemiskinan dan ketidakstabilan. Lebih mendasar lagi, sejarah Amerika Latin adalah catatan perlawanan terhadap dominasi kolonial, eksploitasi asing, dan elit lokal yang menukar masa depan rakyatnya dengan kekuasaan pribadi dan persetujuan eksternal.

Sepanjang abad, ideologi dan sistem politik yang berbeda di Amerika Latin menghasilkan pemimpin yang — terlepas dari kekurangan mereka — memiliki satu ciri khas, yaitu menempatkan kedaulatan nasional dan kepentingan rakyat di atas kepatuhan kepada imperialisme.

Nicolas Maduro, pemimpin Venezuela yang diculik AS dan diadili dengan tuduhan perdagangan narkoba, adalah bagian terakhir perang melawan imperialisme. Maduro tahu tidak akan menang karena sendirian, tapi dia melakukannya seperti yang dilakukan pendahulunya dari negara lain di Amerika Latin.

Sejak awal, pahlawan-pahlawan Amerika Latin melawan pemerintahan kolonial. Miguel Hidalgo y Costilla dan Jose Maria Morelos di Meksiko tidak hanya menginginkan kemerdekaan sebagai cita-cita abstrak, tapi juga keadilan sosial — penghapusan perbudakan, membongkar hirarki rasial, mengembalikan tanah kepada masyarakat adat.

Simon Bolivar, yang namanya diabadikan sebagai negara Bolivia, dan Jose de San Martin — pahlawan nasional di Argentina, Cile, dan Peru — membawa perjuangan melintasi sekujur benua, mematahkan cengkeraman kekuasaan Kekaisaran Spanyol dan membayangkan Amerika Latin yang bersatu dan kuat untuk melawan dominasi di maas depan. Mimpi mereka belum terwujud, dan masih menghantui Amerika Latin.

Negara-negara Amerika Latin satu per satu memperoleh kemerdekaan, tapi tidak kebebasan. Mereka sukses mengusir Spanyol, tapi pada akhir abad ke-19 sebuah kekaisaran baru bernama Amerika Serikat (AS) secara terbuka menyatakan Amerika Latin sebagai wilayah pengaruhnya.

Doktrin Monroe, yang dicetuskan Presiden AS James Monroe, tidak menghendaki negara-negara Amerika Latih berada di bawah pengaruh negara lain. Di puncak Perang Dingin, AS tidak menghendaki negara-negara Amerika Latih diperintah kelompok politik berhaluan Marxis.

Doktrin Monroe tidak melihat negara-negara Amerika Latin sebagai kelompok negara berdaulat yang harus dihormati, tapi halaman belakang strategis yang harus dieksploitasi. Akibatnya, hanya ada dua pilihan bagi pemimpin negara-negara Amerika Latin; melawan kekuatan AS atau mengakomodasinya.

Augusto Cesar Sandino melawan. Ia memaksa pasukan AS keluar dari Nikaragua lewat perang gerilya. Sandino menang, tapi bernasib tragis. Ia dibunuh Anastasio Somoza, tokoh yang didukung AS. Somoza memerintah Nikaragua sebagai diktator selama beberapa dekade.

Salvador Allende memilih jalur demokrasi untuk menempatkan sosialisme di puncak kekuasaan Cile. Ia berhasil. Ia menasionalisasi industri strategis untuk menegaskan kemerdekaan ekonomi. Namun, semua itu hanya untuk membuatnya digulingkan dalam kudeta berdarah dukungan AS.

Fidel Castro dan Ernesto ‘Che’ Guevara mengubah Kuba menjadi simbol bagaimana penentangan terbuka terhadap hegemoni AS terlihat dalam praktik mencekik ekonomi, sabotase, isolasi, dan permusuhan permanen. Castro dan Che abadi sebagai sosok yang dikagumi dan dibenci.

Hugo Chavez, pendahulu Maduro, menempuh jalan Allende — mengambil alih Venezuela dengan memenangkan pemilihan umum. Ia merebut kendali atas minyak negaranya, memperluas program sosial, dan mendorong integrasi Amerika Latin yang merdeka dari pengaruh Washington. Ia menantang tatanan neoliberal yang diberlakukan di seluruh wilayah pada tahun 1990-an.

Terlepas dari apa pun pendapat orang tentang hasilnya, prinsipnya tidak dapat disangkal; sumber daya nasional harus melayani bangsa, bukan pemegang saham asing.

Kita juga harus belajar dari tokoh-tokoh Amerika Latin yang mengabdikan diri sebagai pelayan Washington. Anastasio Somoza dan Fulgencio Batista di Nikaragua dan Kuga, Keluarga Duvalier di Haiti, Manuel Estrada Cabrera dan Jorge Ubico di Guatemala, serta yang lainnya.

Mereka memerintah dengan menindas rakyat sendiri demi kepatuhan kepada Washington. Mereka menciptakan kemiskinan dan ketidaksetaraan ekstrem, yang melahirkan istilah Republik Pisang untuk negara mereka. Mereka mengabaikan pembangunan nasional hanya untuk membuat Paman Sam tersenyum.

Exit mobile version