Dulu dianggap aksesori wanita yang rapuh, jam tangan bertransformasi total saat Hans Wilsdorf menciptakan Rolex Oyster pada 1926. Dari perang hingga berenang terbukti Oyster tahan banting.
WWW.JERNIH.CO – Hanya sedikit penunjuk waktu yang benar-benar dapat diklaim telah mengubah jalannya sejarah pembuatan jam. Merayakan seratus tahun usianya, Oyster adalah kreasi Rolex yang paling tahan lama, sekaligus sebagai cetak biru konseptual bagi jam tangan mekanis modern. Pengaruhnya tertanam begitu dalam pada horologi kontemporer, sehingga gagasan yang dulunya dianggap radikal—seperti ketahanan air dan daya tahan sehari-hari—kini dianggap sebagai hal yang biasa.
Hingga akhir abad ke-19, jam tangan dinilai sebagai aksesori feminin, sementara pria lebih mengandalkan jam saku yang terlindung dari debu dan kelembapan. Perang kemudian mengubah konvensi tersebut. Para prajurit, yang membutuhkan akses cepat untuk melihat waktu di tengah pertempuran, mulai mengikatkan jam saku ke pergelangan tangan mereka, melahirkan apa yang disebut “wristlet”. Praktik tersebut segera meluas ke luar medan perang, dan pada Perang Dunia Pertama, jam tangan telah memantapkan posisinya di kalangan pria, meskipun kekurangan fungsional masih membayangi.
Masalah terbesar saat itu adalah elemen alam. Debu, keringat, dan air dengan mudah menyelinap ke dalam celah casing, merusak mesin jam yang rumit di dalamnya. Mengenakan jam di pergelangan tangan berarti mengeksposnya secara langsung pada kerasnya aktivitas sehari-hari. Di sinilah pendiri Rolex, Hans Wilsdorf, melihat sebuah peluang emas sekaligus tantangan besar yang harus dipecahkan.

Pada tahun 1926, Rolex secara resmi memperkenalkan Rolex Oyster. Nama “Oyster” (Tiram) dipilih bukan tanpa alasan; Wilsdorf membayangkan sebuah jam tangan yang tertutup rapat dan terlindungi sepenuhnya dari lingkungan luar, persis seperti cangkang tiram di dasar laut.
Inovasi ini bertumpu pada sistem casing revolusioner yang terdiri dari tiga komponen utama yang disekrup secara rapat: bezel, caseback, dan winding crown (kenop pengatur waktu). Dengan kombinasi penguncian sekrup ini, Rolex Oyster menjadi jam tangan pertama di dunia yang benar-benar kedap air dan kedap debu. Keberhasilan ini seketika meruntuhkan keraguan publik mengenai daya tahan sebuah jam tangan.
Wilsdorf adalah seorang visioner pemasaran yang tahu bahwa inovasi hebat membutuhkan bukti nyata. Pada tahun 1927, ia membekali seorang perenang muda asal Inggris, Mercedes Gleitze, dengan sebuah Rolex Oyster. Gleitze membawa jam tangan tersebut saat berenang menyeberangi Selat Inggris yang dingin selama lebih dari 10 jam.
Ketika ia mencapai garis finis, jam tangan tersebut tidak hanya masih berfungsi dengan akurat, tetapi bagian dalamnya sama sekali tidak kemasukan air. Peristiwa ini menjadi berita utama di berbagai belahan dunia, mengukuhkan reputasi Rolex sebagai jam tangan paling tangguh di era tersebut.
Tidak hanya pelopor ketahanan air, teknologi Oyster juga menjadi fondasi bagi lahirnya mekanisme Perpetual (rotor otomatis) pada tahun 1931. Gabungan antara casing tiram yang kedap air dan mesin jam yang mengisi daya sendiri melahirkan formula “Oyster Perpetual”—sebuah DNA yang hingga kini masih mengalir di hampir setiap model jam tangan Rolex modern, mulai dari Submariner, Datejust, hingga Daytona.
Kini, setelah satu abad berlalu, warisan Rolex Oyster tetap tak tergoyahkan. Apa yang dimulai sebagai solusi radikal atas kelemahan jam tangan pria di awal abad ke-20 telah berevolusi menjadi standar tertinggi industri, sekaligus simbol kemewahan dan pencapaian luar biasa dalam dunia horologi global.(*)
BACA JUGA: Skuad Meksiko Kompak Kembalikan Hadiah Rolex Rp17,9 Miliar dari YouTuber AS