Fenomena UAP, gejolak politik di Amerika Serikat, serta misteri kehidupan luar bumi yang kini kembali menjadi perbincangan hangat dunia. Trump mengumumkan perintah eksekutif yang mengejutkan, deklasifikasi total dokumen UFO. Sejarah manusia mungkin akan berubah?
JERNIH – Selama puluhan tahun, sejak era Perang Dingin, pertanyaan mengenai apakah kita sendirian di alam semesta telah menjadi teka-teki sains terbesar sekaligus bahan bakar teori konspirasi paling liar. Namun, di awal tahun 2026 ini, perdebatan tersebut tidak lagi hanya milik para ufologis di ruang gelap internet, melainkan telah masuk ke jantung kekuasaan di Gedung Putih.
Dengan laporan adanya 50 hingga 100 penampakan UAP (Unidentified Anomalous Phenomena) setiap bulannya di wilayah udara Amerika Serikat, publik kini menuntut satu hal: Kejujuran.
Kehebohan terbaru bermula saat mantan Presiden AS, Barack Obama, tampil dalam podcast “No Lie with Brian Tyler Cohen” yang dirilis pada 14 Februari 2026. Dalam sesi tanya jawab cepat, ketika ditanya apakah alien itu nyata, Obama menjawab singkat namun meledak: “Mereka nyata, tapi saya belum melihatnya, dan mereka tidak disimpan di… apa itu namanya? Area 51.”
Potongan klip ini segera menjadi viral secara global. Meski Obama kemudian memberikan klarifikasi melalui Instagram—menyatakan bahwa secara statistik peluang adanya kehidupan sangat besar namun bukti kontak fisik selama masa kepresidenannya belum ditemukan—nasi telah menjadi bubur. Netizen menganggap pernyataan tersebut sebagai “soft launch” atau upaya pemerintah untuk perlahan membocorkan kebenaran kepada publik.
Presiden Donald Trump merespons pernyataan Obama dengan gaya agresifnya yang khas. Pada 19 Februari 2026, melalui platform Truth Social, Trump menuduh Obama telah membocorkan informasi rahasia (classified) dan mengumumkan perintah eksekutif yang mengejutkan: Deklasifikasi total dokumen UFO.
“Berdasarkan minat yang sangat besar, saya akan memerintahkan menteri perang dan lembaga terkait untuk mulai mengidentifikasi dan merilis dokumen pemerintah terkait alien, kehidupan ekstraterestrial, dan fenomena anomali udara (UAP),” tulis Trump.
Langkah ini dianggap banyak pihak sebagai upaya membuka “Kotak Pandora” yang telah dikunci rapat militer AS sejak 1945. Spekulasi pun bermunculan; apakah ini pengalihan isu dari skandal domestik (seperti file Epstein) ataukah memang saatnya dunia mengetahui kebenaran yang sesungguhnya?
Visi Hollywood vs Realitas Ilmiah
Hollywood telah lama mengkapitalisasi rasa penasaran kita terhadap alien. Sejak mahakarya Steven Spielberg, Close Encounters of the Third Kind (1977), hingga film Contact (1997) yang dibintangi Jodie Foster, sinema telah membentuk persepsi kita bahwa kontak pertama bisa jadi merupakan peristiwa religius atau filosofis.
Namun, ilmuwan besar seperti mendiang Stephen Hawking memberikan peringatan keras. Ia membandingkan kedatangan alien dengan pendaratan Christopher Columbus di Amerika, yang berakhir tragis bagi penduduk asli.
Di sisi lain, mantan Kepala ISRO (Organisasi Riset Ruang Angkasa India), Dr. S. Somanath, memiliki keyakinan yang berbeda. “Hati nurani saya mengatakan ya (alien ada), meski saya tidak punya bukti. Jika ada peradaban yang seribu tahun lebih maju dari kita, sangat mungkin mereka sudah berinteraksi dengan kita dalam cara yang tidak bisa dipahami otak manusia saat ini,” ujarnya.
Data dari All-domain Anomaly Resolution Office (AARO) menunjukkan lonjakan penampakan yang drastis. Jika sebelumnya jarang terdengar, kini terdapat 50 hingga 100 laporan UAP setiap bulan.
Beberapa insiden yang paling meyakinkan di antaranya insiden Tic-Tac (2004). Ketika itu objek tertangkap radar kapal induk USS Nimitz yang mampu turun dari ketinggian 80.000 kaki ke permukaan laut dalam hitungan detik. Ini teknologi yang belum dimiliki manusia manapun.
Insiden lain adalah kesaksian Ryan Graves. Mantan letnan angkatan laut AS itu menceritakan pengalamannya melihat objek berbentuk “kubus hitam di dalam bola bening” yang terbang di antara dua pesawat tempur F/A-18.
Ada pula laporan terbaru dari pilot Rhode Island (2026). Seorang pilot melaporkan objek berbentuk “tabung perak kecil” yang melayang tepat di samping ujung sayap pesawatnya pada ketinggian 3.500 kaki.
Namun, ada sisi gelap dari narasi UFO ini. Sebuah laporan mengejutkan dari Pentagon yang dirilis pada pertengahan 2025 mengungkapkan bahwa militer AS sengaja menanam teori konspirasi UFO selama era Perang Dingin.
Tujuannya? Untuk menutupi uji coba pesawat siluman rahasia seperti F-117 Night Hawk dan pesawat mata-mata U-2. Foto-foto “piring terbang” yang beredar luas ternyata sengaja dimanipulasi intelijen agar masyarakat yang secara tidak sengaja melihat uji coba militer rahasia menganggapnya sebagai alien, bukan teknologi militer baru milik AS.
Meskipun laporan AARO pada Maret 2024 menyatakan belum ada bukti otentik pertemuan dengan makhluk asing, perintah deklasifikasi dari Trump memberikan harapan baru (atau ketakutan baru) bagi dunia.
Apakah miliaran bintang di galaksi Bimasakti benar-benar kosong, ataukah kita hanya satu dari sekian banyak peradaban yang sedang “diamati”? Dengan dibukanya dokumen-dokumen rahasia dalam beberapa bulan mendatang, sejarah manusia mungkin akan berubah selamanya.
