JERNIH – Ekskalasi perang antara Amerika Serikat dan Iran memasuki fase pergeseran strategis. Dalam program The Great Standoff: Iran and the World yang disiarkan Al Mayadeen, mantan analis CIA Larry Johnson dan Profesor Universitas Tehran Mohammad Marandi memaparkan analisis mendalam, faktor waktu kini bekerja menguntungkan Iran, sementara militer dan perekonomian AS mulai tergerus krisis logistik serta retaknya moral prajurit di lapangan.
Eksplorasi tersebut menyoroti bagaimana tekanan militer, ekonomi, dan politik secara beruntun menghantam Washington—terutama pasca-penutupan Selat Hormuz—di saat Teheran justru bersiap mengambil doktrin serangan terbuka (offensive posture).
Larry Johnson membongkar kondisi internal armada tempur AS yang kian memprihatinkan akibat durasi penyebaran (deployment) yang tak menentu. Di atas kapal-kapal perang AS, para prajurit menghadapi krisis pasokan pangan, minimnya sarana sanitasi, hingga kehancuran moral.
Salah satu temuan paling menyengat adalah pembongkaran data terkait insiden di kapal induk USS Abraham Lincoln. “Satu laporan media sempat menyebut ada enam pelaut yang mencoba lompat ke luar kapal di USS Abraham Lincoln. Namun, seorang perwira militer AS yang baru saja pensiun membisikkan kepada saya bahwa laporan itu bohong—angka sebenarnya mendekati 30 pelaut, bukan cuma enam. Dan krisis ini tidak hanya terjadi di Angkatan Laut,” ungkap Johnson.
Lumpuhnya Rantai Pasok Senjata Utama
Selain penurunan moral, Washington menghadapi tembok tebal keterbatasan amunisi canggih. Menurut Johnson, AS kini tersandera oleh ketergantungan material kritis dari musuh geopolitik utamanya sendiri, Tiongkok.
Johnson mengutip studi terbaru yang menemukan bahwa hampir 80 persen sistem persenjataan AS terintegrasi dengan rantai pasok Tiongkok. Situasi kian pelik setelah serangan rudal presisi Iran menghancurkan gudang-gudang logistik utama AS di Bahrain dan Oman, yang selama ini menjadi penopang utama kapal-kapal pembawa pesawat induk, destroyer, dan cruiser.
Di sektor ekonomi, penutupan Selat Hormuz oleh Iran diibaratkan Johnson seperti fenomena laut yang surut drastis sebelum menerjangnya gelombang tsunami. Pengurasan cadangan minyak strategis (Strategic Petroleum Reserve) oleh negara-negara Barat dinilai hanya mampu menahan dampak sementara.
Sementara itu, Profesor Mohammad Marandi menegaskan bahwa Iran tidak akan menunggu pasif. Penunjukan Jenderal Mohsen Rezaei sebagai pimpinan Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Iran menjadi sinyal kuat bahwa Teheran siap melancarkan serangan balasan yang lebih masif.
“Iran bertekad untuk memastikan bahwa Trump gagal—tidak hanya dalam urusan Iran, tetapi di seluruh kawasan mulai dari Gaza, Lebanon, Yaman, hingga Irak,” tegas Marandi.
Marandi juga membantah laporan media Barat seperti Reuters yang kerap mengutip “pejabat senior anonim Iran”, dan menegaskan bahwa pejabat tinggi di Teheran tidak pernah melayani wawancara dengan media tersebut. Ia menekankan bahwa Iran siap menanggung beban perang demi menggagalkan agresi Washington dan rezim Israel di kawasan.
