Site icon Jernih.co

Kunjungi Mount Rushmore, Donald Trump Hidupkan Kembali Ambisi Ukir Wajahnya di Tebing Batu Monumental

Foto: Shutterstock

JERNIH – Menjelang perayaan ulang tahun ke-250 kemerdekaan Amerika Serikat, Presiden AS Donald Trump melakukan kunjungan ke Mount Rushmore. Kunjungan ini kembali memicu spekulasi yang telah berlangsung bertahun-tahun yakni ambisi besar Trump untuk bersanding dengan empat presiden legendaris AS di monumen batu granit tersebut.

Berdiri di bawah pahatan raksasa wajah George Washington, Thomas Jefferson, Theodore Roosevelt, dan Abraham Lincoln, Trump menyampaikan pidato yang membingkai monumen tersebut sebagai simbol karakter AS yang “abadi” dan “kekal”.

Meskipun Trump tidak secara gamblang meminta wajahnya diukir di sana, pihak Gedung Putih justru melontarkan pernyataan yang lebih berani. Asisten Sekretaris Pers, Taylor Rogers, menyatakan bahwa tidak ada tambahan yang “lebih baik” untuk monumen tersebut selain wajah Presiden ke-45 dan ke-47 AS itu.

Kunjungan ini merupakan penampilan pertama Trump di situs ikonik tersebut dalam enam tahun terakhir, setelah pidatonya pada tahun 2020 yang berfokus pada kampanye hukum dan ketertiban (law-and-order).

Laporan dari The Washington Post menyoroti bahwa obsesi Trump terhadap Mount Rushmore bukanlah hal baru. Pola ini sudah terdeteksi sejak tahun 2017 ketika dalam sebuah rapat umum di Ohio, Trump berkelakar kepada pendukungnya bahwa ia “seharusnya” bertanya apakah wajahnya bisa dipahat di gunung itu. Namun, ia mengurungkan niatnya saat itu karena takut diamuk media.

Trump juga kerap melempar kode melalui wawancara dan unggahan di Truth Social. Bahkan beberapa minggu lalu, ia membagikan foto hasil rekayasa digital yang menampilkan wajahnya bersanding dengan para pendiri bangsa di tebing tersebut.

Di resor pribadinya di Mar-a-Lago, Trump dilaporkan memajang sebuah patung kecil pemberian mantan Gubernur South Dakota, Kristi Noem, yang menggambarkan wajah Trump tepat di sebelah Abraham Lincoln.

Upaya Politik vs Batas Geologis

Ambisi ini bukan sekadar gurauan di media sosial. Para sekutu Trump di Kongres bahkan mencoba meloloskannya menjadi sebuah kebijakan resmi. Anggota DPR AS, Anna Paulina Luna, mengajukan rancangan undang-undang yang menginstruksikan Departemen Dalam Negeri untuk mengkaji kelayakan pemahatan wajah Trump di monumen tersebut. Sementara itu, Anggota DPR Andy Ogles mendesak Sekretaris Dalam Negeri, Doug Burgum, terkait masalah ini.

Burgum sendiri tampak mendukung ide ini dan menyatakan kepada media bahwa monumen tersebut “tentu saja” masih memiliki ruang kosong. Namun, klaim politik ini langsung menabrak realitas sains.

Para pejabat dan pengelola Mount Rushmore telah menegaskan selama bertahun-tahun bahwa secara geologis tidak ada lagi struktur batuan yang aman untuk dipahat. Pihak pengelola menjelaskan area di samping George Washington sama sekali tidak bisa dipotong karena risiko keretakan. Sementara celah kosong yang terlihat di dekat Abraham Lincoln hanyalah “ilusi optik” yang berada di luar batas aman struktur patung.

Kasus Mount Rushmore ini menambah daftar panjang upaya personal branding berskala masif yang melekat pada masa kepresidenan Trump—mulai dari patung emas di resor golfnya, hingga keinginan menyematkan namanya pada mata uang, paspor, dan program-program federal.

Namun, tidak seperti ambisi lainnya yang bisa diwujudkan lewat kekuasaan kekaisaran birokrasi, Mount Rushmore tampaknya menjadi batas mutlak. Menurut para insinyur yang meneliti struktur tebing tersebut, proyek ini adalah sesuatu yang tidak bisa dipaksakan, baik oleh otoritas eksekutif presiden maupun tindakan hukum dari Kongres.

Exit mobile version