LaNyalla, yang juga menjadi pembina Yayasan Satria Lelaku Nusantara, mengatakan Aksara Kawi bukan sekadar sistem tulisan kuno, melainkan pintu masuk untuk memahami peradaban Nusantara. “Saya sengaja mendampingi para pegiat dan pelestari Aksara Kawi dari Jawa Timur agar mendapat perhatian serius dari Kementerian Kebudayaan. Aksara Kawi berkembang di Jawa dan digunakan sekitar abad ke-8 hingga abad ke-16 Masehi,” kata LaNyalla.
JERNIH– Upaya pelestarian Aksara Kawi mendapat dorongan baru. Menteri Kebudayaan Fadli Zon menerima audiensi Yayasan Satria Lelaku Nusantara yang memaparkan inisiatif pendirian portal media Aksara Kawi di Kantor Kementerian Kebudayaan, Jakarta, baru-baru ini.
Pertemuan yang diinisiasi Anggota DPD RI, AA LaNyalla Mahmud Mattalitti, itu membahas penguatan pelestarian Aksara Kawi sebagai bagian dari revitalisasi tradisi lokal, pengembangan riset kebudayaan, hingga upaya repatriasi benda-benda bersejarah dari luar negeri.
LaNyalla, yang juga menjadi pembina Yayasan Satria Lelaku Nusantara, mengatakan Aksara Kawi bukan sekadar sistem tulisan kuno, melainkan pintu masuk untuk memahami peradaban Nusantara. “Saya sengaja mendampingi para pegiat dan pelestari Aksara Kawi dari Jawa Timur agar mendapat perhatian serius dari Kementerian Kebudayaan. Aksara Kawi berkembang di Jawa dan digunakan sekitar abad ke-8 hingga abad ke-16 Masehi,” kata LaNyalla.
Menurut dia, berbagai prasasti beraksara Kawi menyimpan jejak penting tentang kehidupan sosial, tata pemerintahan, hingga capaian teknologi masyarakat masa lampau.
“Dari pembacaan prasasti beraksara Kawi, kita bisa memahami nilai budaya, tata kehidupan bermasyarakat, sampai berbagai keunggulan teknologi para leluhur,” ujarnya.
Dalam pertemuan itu, Fadli Zon menyambut positif inisiatif pendirian portal media khusus Aksara Kawi sebagai sarana edukasi dan literasi publik. Ia bahkan menilai Aksara Kawi layak diprioritaskan untuk diajukan ke UNESCO melalui skema Urgent Safeguarding. “Ini termasuk yang perlu kami prioritaskan untuk diajukan ke UNESCO,” kata Fadli.
Dukungan serupa disampaikan Direktur Jenderal Perlindungan Kebudayaan dan Tradisi Kementerian Kebudayaan, Restu Gunawan. Ia menegaskan kesiapan kementerian untuk berkolaborasi dalam berbagai program pelestarian. “Kami siap berkolaborasi dengan teman-teman dari Jawa Timur,” ujarnya.
Sebagai tindak lanjut, Yayasan Satria Lelaku Nusantara juga akan menggelar Srawung Budaya Aksara Kawi di Gedung Malang Creative Center (MCC), Kota Malang, pada 5 Juli mendatang. Dalam forum itu, Portal Media Aksara Kawi dijadwalkan melakukan soft launching.
Pemimpin Redaksi Portal Media Aksara Kawi, Rachmad Setiawan, mengatakan media tersebut diharapkan menjadi ruang bersama bagi pegiat, peneliti, akademisi, dan masyarakat yang peduli pada pelestarian aksara kuno Nusantara. “Kami ingin merangkul semua pihak agar upaya pelestarian ini berjalan berkelanjutan,” kata Rachmad. []
