Site icon Jernih.co

Lebanon Usir Dubes Iran, Hubungan Diplomatik Retak di Tengah Ancaman Pencaplokan Wilayah oleh Israel

Lebanon terjepit di antara dua kekuatan besar, campur tangan militer Iran melalui Hizbullah di dalam negeri, dan agresi darat Israel yang ingin mencaplok wilayah kedaulatan mereka.

JERNIH – Krisis di Lebanon memasuki babak baru yang sangat panas. Pemerintah Lebanon secara mengejutkan menarik akreditasi Duta Besar Iran dan menetapkannya sebagai persona non grata. Langkah ini diambil di saat militer Israel secara terbuka mengumumkan rencana untuk menduduki wilayah Lebanon Selatan hingga Sungai Litani.

Kementerian Luar Negeri Lebanon pada Selasa (24/3/2026) memberikan tenggat waktu hingga Minggu depan bagi Duta Besar Iran, Mohammad Reza Sheibani, untuk segera angkat kaki dari wilayah kedaulatan Lebanon.

Keputusan drastis ini dipicu oleh kemarahan Beirut atas apa yang mereka sebut sebagai “pelanggaran norma diplomatik” oleh Teheran. Lebanon secara terbuka menuduh Garda Revolusi Iran (IRGC) mengambil alih komando operasi Hizbullah dalam perang melawan Israel, sebuah tindakan yang dianggap mengangkangi kedaulatan negara Lebanon. Sebagai balasan, Lebanon juga memanggil pulang duta besarnya yang bertugas di Teheran untuk berkonsultasi.

Di saat yang sama, Menteri Pertahanan Israel, Israel Katz, mengeluarkan pernyataan yang sangat provokatif. Untuk pertama kalinya, Israel secara gamblang mengungkapkan niatnya untuk menguasai fisik wilayah Lebanon Selatan hingga ke Sungai Litani.

Wilayah yang diincar ini mencakup hampir sepersepuluh dari total luas daratan Lebanon. “Militer akan mengendalikan jembatan-jembatan yang tersisa dan zona keamanan hingga ke Litani untuk menciptakan sabuk pertahanan (defensive buffer),” tegas Katz dalam pertemuan dengan kepala staf militer.

Sejak 13 Maret, militer Israel dilaporkan telah menghancurkan lima jembatan di atas Sungai Litani dan mempercepat penghancuran rumah-rumah warga di desa-desa perbatasan. Israel mengklaim serangan ditujukan pada aset Hizbullah. Namun kenyataannya, penghancuran jembatan dan rumah warga sipil merupakan pelanggaran serius terhadap hukum internasional yang melarang serangan terhadap infrastruktur sipil.

Sungai Litani sendiri terletak sekitar 30 km di utara perbatasan Israel-Lebanon. Jika rencana ini terwujud, maka peta wilayah Lebanon akan berubah secara permanen.

Ketegangan ini bermula sejak 2 Maret lalu, ketika Hizbullah yang didukung Teheran mulai meluncurkan serangan ke Israel, menyeret Lebanon ke dalam pusaran perang AS-Israel melawan Iran. Menteri Katz sebelumnya telah mengancam bahwa pemerintah Lebanon akan kehilangan wilayah jika tidak mampu melucuti senjata Hizbullah.

Kini, Lebanon terjepit di antara dua kekuatan besar, campur tangan militer Iran melalui Hizbullah di dalam negeri, dan agresi darat Israel yang ingin mencaplok wilayah kedaulatan mereka.

Exit mobile version