Meski imbang 1-1 lawan Leeds United namun peringkat Villa berada di tiga besar bersama Arsenal dan City. Ini pencapaian terbaik mereka di kurun 10 tahun belakangan.
WWW.JERNIH.CO – Di tengah dominasi raksasa tradisional seperti Manchester United, Chelsea, dan Liverpool, satu nama muncul sebagai penantang serius dalam perburuan papan atas musim 2025/2026: Aston Villa. Hingga akhir Februari 2026, klub asal Birmingham itu kokoh di posisi ketiga dengan 51 poin dari 27 pertandingan.
Mereka bukan kuda hitam musiman, melainkan ancaman nyata bagi dominasi Arsenal dan Manchester City. Transformasi ini adalah hasil perjalanan satu dekade penuh gejolak—sebuah kisah “roller coaster” dari degradasi memalukan hingga kembali menjadi kekuatan elit Eropa.
Sepuluh tahun lalu, musim 2015/2016 menjadi titik nadir dalam sejarah modern Villa. Mereka terpuruk di dasar klasemen dan terdegradasi dengan hanya mengumpulkan 17 poin—catatan yang mencoreng reputasi klub yang pernah menjuarai Eropa pada era 1980-an. Untuk pertama kalinya sejak 1987, Villa harus turun kasta ke Championship. Situasi internal tidak stabil, skuad kehilangan arah, dan kepercayaan diri suporter runtuh. Namun justru dari kehancuran inilah fondasi kebangkitan mulai dibangun.

Periode 2016–2019 di Championship menjadi masa pembelajaran yang keras. Villa sempat terjebak di papan tengah sebelum perlahan menemukan pijakan. Kekalahan di final play-off 2018 menjadi pukulan telak, tetapi perubahan kepemilikan ke grup NSWE yang dipimpin Nassef Sawiris dan Wes Edens membawa stabilitas finansial serta visi jangka panjang.
Pada 2019, di bawah asuhan Dean Smith dan dipimpin kapten karismatik Jack Grealish, Villa akhirnya kembali ke Premier League setelah menaklukkan Derby County di final play-off. Momen itu menjadi titik balik emosional sekaligus simbol harapan baru.
Kembali ke kasta tertinggi tidak serta-merta menjamin kenyamanan. Musim 2019/2020, Villa nyaris kembali terdegradasi dan hanya selamat di pekan terakhir. Perlahan mereka berbenah, membangun skuad lebih kompetitif. Era Steven Gerrard sempat menghadirkan optimisme, tetapi performa tim stagnan di papan tengah bawah. Keputusan manajemen menunjuk Unai Emery pada akhir 2022 menjadi langkah revolusioner yang mengubah arah sejarah klub.
Di tangan Emery, Villa menjelma menjadi tim dengan identitas taktis jelas. Musim 2022/2023 ditutup di peringkat tujuh dan mengamankan tiket kompetisi Eropa. Setahun kemudian, mereka finis di posisi empat dan kembali ke Liga Champions untuk pertama kalinya dalam 41 tahun.
Emery menghadirkan struktur permainan disiplin, garis pertahanan tinggi yang terorganisir, serta transisi cepat yang mematikan. Ia tidak bergantung pada satu superstar, melainkan membangun kolektivitas di mana setiap pemain memahami perannya secara detail.
Musim 2025/2026 menjadi puncak evolusi tersebut. Villa konsisten berada di tiga besar dan mampu menjaga jarak dari para pesaing tradisional. Stabilitas ini terlihat dari keseimbangan lini belakang dan ketajaman serangan. Di bawah mistar, Emiliano Martínez tampil sebagai pemimpin sekaligus tembok kokoh pertahanan.
Di lini depan, kedatangan Tammy Abraham pada Januari 2026 menambah variasi serangan dan menciptakan persaingan sehat dengan Ollie Watkins. Abraham langsung memberi dampak instan melalui gol-gol penting, termasuk penyelamat dalam laga krusial melawan Leeds United.
“Mencapai 51 poin di pekan ke-27 adalah pencapaian fantastis, namun pekerjaan kami belum selesai. Premier League adalah kompetisi tersulit di dunia. Kami harus tetap rendah hati dan konsisten dalam 38 pertandingan,” ujar Emery.
Kekuatan Villa juga terletak pada kecermatan rekrutmen. Nama-nama seperti Morgan Rogers dan Youri Tielemans menghadirkan keseimbangan kreativitas dan etos kerja di lini tengah. Manajemen klub berpegang pada prinsip keberlanjutan: merekrut pemain dengan kecerdasan taktis dan karakter kuat, bukan sekadar reputasi besar. Pendekatan ini membuat Villa lebih stabil dibanding rival-rivalnya yang kerap dilanda drama internal dan inkonsistensi performa.
Kepercayaan diri tim tercermin dalam pernyataan Emery yang menekankan pentingnya kerendahan hati dan konsistensi. Ia menyadari bahwa Premier League adalah kompetisi paling kompetitif di dunia, sehingga menjaga standar performa sepanjang 38 laga adalah tantangan utama. Namun yang membedakan Villa musim ini adalah kedewasaan mental. Mereka tak lagi inferior menghadapi “Big Six”, bahkan rutin mengalahkan mereka dengan pendekatan taktis disiplin dan efisien.
Dengan 11 pertandingan tersisa, Aston Villa memegang kendali atas nasib mereka sendiri. Tiket Liga Champions musim depan berada dalam jangkauan, dan peluang untuk terlibat dalam perburuan gelar tetap terbuka. Apa pun hasil akhirnya, kebangkitan Villa telah mengguncang hierarki lama Premier League.
Dari jurang degradasi hingga menjadi penantang gelar, perjalanan satu dekade ini menjadi bukti bahwa visi jangka panjang, manajemen cerdas, dan tangan dingin pelatih yang tepat mampu mengubah takdir sebuah klub. Sang Singa kini tidak lagi sekadar mengaum—ia berburu di antara para raksasa.(*)
BACA JUGA: Liverpool Boyong Alexander Isak dari Newcastle, Nilai Transfer Liga Inggris Pecah