Angkatan Darat Amerika Serikat bersiap mengubah wajah perang darat melalui M1E3 Abrams. Lebih ringan 25 persen, dilengkapi AI, sistem hybrid-electric, dan “kokpit Formula One”.
WWW.JERNIH.CO – Angkatan Darat Amerika Serikat tengah memasuki babak baru dalam evolusi kekuatan kavaleri dengan menghadirkan M1E3 Abrams, tank generasi terbaru yang dirancang untuk menjawab tantangan medan perang modern.
Kepala Staf Angkatan Darat AS, Jenderal Randy George, mengungkapkan bahwa tank ini tidak hanya lebih canggih dan lebih ringan, tetapi juga akan siap digunakan jauh lebih cepat dari jadwal awal. Jika sebelumnya diproyeksikan baru operasional pada 2030, purwarupa M1E3 kini ditargetkan mulai memperkuat satuan tempur pada tahun 2026.
Dalam sebuah acara yang diselenggarakan oleh Association of the United States Army, Jenderal George bahkan memamerkan purwarupa awal M1E3 yang sempat mencuri perhatian publik saat tampil di Detroit Auto Show. Dari luar hingga ke dalam, Abrams generasi baru ini menunjukkan perubahan radikal dibanding pendahulunya.
Salah satu aspek paling mencolok adalah desain interiornya. Jenderal George menyebut kabin M1E3 mengusung konsep “Cockpit Formula One”, di mana antarmuka pengemudi dirancang menyerupai pengontrol gim modern. Sistem ini dikembangkan bersama Fanatec, perusahaan yang dikenal sebagai produsen perangkat simulasi balap Formula 1 dan video game kelas profesional.
“Mungkin tidak secepat mobil Corvette ZR1 di lintasan balap, tapi tank ini bisa menghancurkan target dalam waktu sepersepuluh detik dari jarak seperempat mil,” ujar George, setengah bercanda namun sarat makna tentang mematikannya sistem senjata M1E3.
Di balik desain futuristis tersebut, M1E3 membawa perubahan struktural besar. Tank ini kini hanya membutuhkan tiga kru, berkat penerapan autoloader yang menggantikan pengisi peluru manual. Dampaknya signifikan: bobot tank berkurang hingga 25 persen, membuatnya lebih lincah di medan berat sekaligus lebih mudah dikerahkan secara logistik.
Efisiensi juga menjadi kunci utama. M1E3 menggunakan mesin buatan Caterpillar dengan sistem penggerak hybrid-electric, yang diklaim mampu meningkatkan efisiensi bahan bakar hingga 50 persen. Artinya, jangkauan operasional lebih luas dengan kebutuhan pasokan yang lebih kecil—faktor krusial dalam konflik modern yang menuntut mobilitas tinggi.
Tak kalah penting, Abrams generasi baru ini menjadi pionir dalam integrasi Generative AI (GenAI). Kecerdasan buatan ini membantu sistem pertahanan, analisis ancaman, hingga pembaruan perangkat lunak secara cepat dan modular. Pendekatan digital engineering memungkinkan tank terus berevolusi di medan perang, layaknya memperbarui aplikasi di smartphone, tanpa harus menunggu siklus modernisasi bertahun-tahun.
Meski lebih ringan, daya hancurnya tetap maksimal. M1E3 dibekali meriam utama 120mm smoothbore, pelontar granat Mk. 19 40mm, serta peluncur rudal Javelin untuk menghantam target jarak jauh. Sistem perlindungan aktifnya juga dirancang khusus untuk menghadapi ancaman modern, termasuk drone musuh dan senjata presisi.
Jenderal George menegaskan bahwa filosofi pengembangan senjata Angkatan Darat AS kini telah berubah. Mereka tidak lagi mengejar “solusi sempurna” yang memakan waktu belasan tahun, melainkan fokus pada platform modular yang bisa terus ditingkatkan.
“Dunia berubah cepat, dan tentara kami layak mendapatkan peralatan terbaik tanpa harus menunggu 5 sampai 7 tahun untuk sebuah pembaruan,” pungkasnya.
Dengan kombinasi teknologi digital, kecerdasan buatan, efisiensi logistik, dan daya tembak mematikan, M1E3 Abrams diproyeksikan menjadi standar baru tank tempur utama—lebih ringan, lebih pintar, dan jauh lebih siap menghadapi perang masa depan.(*)
BACA JUGA: M1E3 Abrams, Tank Masa Depan AS yang Rampung Lebih Cepat
