Site icon Jernih.co

Makan Nasiri, Satu-satunya Siswa yang Masih Hilang dalam Pengeboman Sekolah di Iran

Petugas penyelamat dan warga mencari di antara reruntuhan setelah serangan terhadap sebuah sekolah dasar di Minab, Iran, 28 Februari 2026 (Foto: Abbas Zakeri/Mehr News Agency via AP)

Orang tua Makan Nasiri menjadi satu-satunya keluarga yang tidak bisa memakamkan jenazah anak mereka setelah sekolahnya dibom pada hari pertama serangan Amerika Serikat dan Israel ke Iran pada 28 Februari lalu.

JERNIH – Setelah hampir tujuh minggu pencarian sisa-sisa jenazah tak membuahkan hasil, otoritas setempat akhirnya memberi tahu orang tua Makan Nasiri bahwa kasus putra mereka yang baru berusia tujuh tahun tersebut resmi ditutup.

Orang tua Makan Nasiri menjadi satu-satunya keluarga yang tidak bisa memakamkan jenazah anak mereka setelah sekolahnya dibom pada hari pertama serangan Amerika Serikat dan Israel ke Iran pada 28 Februari lalu.

Mengutip laporan Al Jazeera, Washington tidak mengaku bertanggung jawab atas serangan dahsyat terhadap Sekolah Dasar Shajareh Tayyebeh (Pohon yang Baik) di Minab, yang terletak bersebelahan dengan pangkalan Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) di Provinsi Hormozgan, Iran Selatan. Namun, bukti-bukti di lapangan menunjukkan bahwa rudal Tomahawk AS kemungkinan besar digunakan dalam insiden yang menjadi peristiwa paling mematikan bagi warga sipil sejak perang dimulai.

Sesaat setelah pukul 11 pagi pada hari Sabtu itu—hari pertama dalam sepekan di Iran—Asieh Rahinejad, ibu Makan, menerima telepon dari seorang guru yang memintanya segera menjemput putranya karena sekolah telah diserang. Sang ibu saat itu belum menyadari bahwa perang telah pecah dengan pengeboman di pusat kota Teheran.

Khawatir akan keselamatan anaknya, ia menelepon sopir bus sekolah untuk menjemput Makan. Namun, rudal kedua menghantam sekolah tersebut hanya dalam hitungan menit, menutup peluang penyelamatan bagi hampir semua orang di lokasi, termasuk anak-anak, guru, dan warga sekitar.

Menurut data terakhir yang diberikan oleh Jaksa Umum Minab, Ebrahim Taheri, pada 9 April lalu, jumlah korban jiwa direvisi menjadi 156 orang, yang sebagian besar adalah anak-anak. Rinciannya sangat menyedihkan, 120 siswa tewas (73 anak laki-laki dan 47 anak perempuan), 26 guru, semuanya perempuan, bahkan satu di antaranya tengah hamil enam bulan serta 10 orang lainnya, termasuk orang tua siswa, sopir bus, dan teknisi klinik setempat.

Tim ahli forensik berhasil mengidentifikasi hampir seluruh jenazah, meski banyak di antaranya hancur berkeping-keping akibat kekuatan bom yang dahsyat. Namun, hingga tes DNA ekstensif dilakukan, jejak Makan tetap tidak ditemukan.

Ayah Makan, Cyrus Nasiri, mengenangkan putranya sebagai anak yang baik, suka senam, dan aktif membantu di pusat keagamaan setempat. Cyrus mencari di lokasi reruntuhan sejak siang hari hingga pukul 2.30 pagi keesokan harinya, namun tak menemukan apa pun.

Seluruh teman sekelas Makan dinyatakan tewas. Namun, Cyrus sempat menyimpan harapan kecil bahwa putranya mungkin berhasil melarikan diri setelah hantaman rudal pertama. Harapan itu kian menipis saat paman Makan menemukan sebuah sepatu di kejauhan dari bangunan utama pada hari ke-38 pencarian. Keluarga memastikan itu milik Makan. Selain itu, ditemukan pula sweater biru yang rusak, namun tetap tidak ada tanda-tanda fisik sang bocah.

Dalam sebuah acara peringatan untuk mengenang Makan, sang ibu, Asieh, berkata dengan penuh isak tangis, “Saya sempat ketakutan membayangkan harus meletakkan Makan di dalam liang lahat. Saya berdoa kepada Tuhan meminta bantuan, dan mungkin itu alasan mengapa kami tidak bisa menemukannya.”

Kini, sepatu mungil milik Makan ditempatkan di dalam sebuah kotak dan disimpan di masjid setempat sebagai simbol untuk memperingati nyawa kecil yang hilang dalam badai perang tersebut.

Exit mobile version