Distorsi informasi dalam konflik Iran menunjukkan betapa tipisnya garis antara jurnalisme dan propaganda perang. Media barat membangun narasi sepihak yang memperkuat tekanan politik bagi Presiden Donald Trump untuk mengambil tindakan militer terhadap Teheran.
JERNIH – Di balik layar kaca pemirsa di Amerika Serikat dan Eropa, peristiwa yang mengguncang Iran pada awal 2026 digambarkan sebagai perjuangan murni rakyat melawan penindasan. Namun, sebuah investigasi terbaru mengungkap sisi lain yang jarang muncul di tajuk utama yakni dugaan “sanitasi” informasi oleh media Barat yang secara sistematis mengabaikan bukti kekerasan bersenjata demi memuluskan jalan bagi intervensi militer Washington.
Para kritikus berargumen bahwa rekaman pembakaran, serangan bersenjata, dan dorongan dari aktor asing sengaja dikesampingkan. Tujuannya? Membangun narasi sepihak yang memperkuat tekanan politik bagi Presiden Donald Trump untuk mengambil tindakan militer terhadap Teheran.
Investigasi oleh editor The Grayzone, Max Blumenthal dan Wyatt Reed, menyoroti jurang pemisah antara realitas di lapangan dengan laporan media arus utama. Sementara Amnesty International dan Human Rights Watch menggambarkan demonstran sebagai kelompok yang “sebagian besar damai”, rekaman mentah dari media pemerintah Iran dan sumber independen menunjukkan pemandangan yang jauh berbeda.
Misalnya terdapat eksekusi Jalanan dengan pengeroyokan dan pembunuhan terhadap penjaga keamanan yang tidak bersenjata. Ada juga serangan tempat ibadah dengan pembakaran Masjid Abazar di Teheran serta perusakan Al-Qur’an di wilayah Sarableh dan Khuzestan.
Terjadi pula sabotase fasilitas publik seperti pembakaran stasiun pemadam kebakaran di Mashhad yang menewaskan petugas, penghancuran pasar sentral di Rasht, hingga penjarahan perpustakaan bersejarah di Borujen.
Di Mashhad saja, kerugian akibat vandalisme terhadap fasilitas publik mencapai lebih dari USD 18 juta. Namun, insiden-insiden ini hampir tidak mendapatkan ruang dalam liputan BBC, CNN, atau New York Times.
Aktor Asing: Dari Pesan Mossad hingga Dana NED
Keterlibatan pihak luar dalam kerusuhan ini bukan lagi sekadar spekulasi. Akun resmi bahasa Farsi milik agensi intelijen Israel, Mossad, secara terbuka menghasut warga Iran melalui platform X:“Turunlah bersama-sama ke jalan. Waktunya telah tiba… Kami bersama Anda di lapangan.”
Selain itu, laporan ini menyoroti peran National Endowment for Democracy (NED), sebuah organisasi yang didanai pemerintah AS. NED secara terbuka mengakui dukungannya terhadap berbagai gerakan protes di Iran. Ironisnya, banyak data korban jiwa yang dikutip media Barat berasal dari NGO mitra NED, seperti Abdorrahman Boroumand Center dan Human Rights Activists in Iran.
Salah satu pendiri NED, Allen Weinstein, pernah membuat pengakuan mengejutkan: “Banyak dari apa yang kami lakukan hari ini dilakukan secara terselubung 25 tahun yang lalu oleh CIA.”
Tanpa verifikasi independen, angka kematian menjadi komoditas politik. Sementara otoritas Iran melaporkan 100 personel keamanan tewas, pemberi pengaruh media sosial pro-Trump seperti Laura Loomer mengklaim tanpa bukti bahwa lebih dari 6.000 pengunjuk rasa telah terbunuh.
Pasar prediksi seperti Polymarket—yang didukung investor Peter Thiel—bahkan menyebut angka 10.000 kematian, menciptakan kesan bahwa Iran telah kehilangan kendali total. Narasi “kekacauan total” ini dinilai sebagai upaya menciptakan urgensi moral agar militer AS segera bertindak.
Presiden Donald Trump sendiri telah memberikan peringatan keras melalui retorika khasnya: “Jika Iran menembak dan membunuh demonstran damai secara kasar… Amerika Serikat akan datang menyelamatkan mereka. Kami terkunci dan terisi (locked and loaded) dan siap berangkat.”
Trump dikabarkan tengah menimbang berbagai opsi, mulai dari operasi siber hingga serangan udara. Namun, saat ketegangan di Washington memuncak, situasi di berbagai kota besar di Iran dilaporkan mulai tenang. Kerumunan massa besar justru mulai berkumpul di Teheran dan Mashhad untuk mengecam kerusuhan dan menolak campur tangan asing—sebuah pemandangan yang, sekali lagi, hampir tidak terlihat di ruang redaksi media Barat.
