CrispyDum Sumus

Media Tempo Diserang via Siber Pakai DDoS

Serangan DDoS terhadap Tempo dan media lainnya adalah pengingat bahwa di era digital, perlindungan terhadap kebebasan pers tak hanya kepada jurnalis, melainkan juga memperkuat benteng infrastruktur siber media dari upaya pembungkaman digital.

WWW.JERNIH.CO –  Kebebasan pers kembali menghadapi tantangan berat di era digital. Bukan lagi berupa pembredelan fisik atau penyitaan mesin cetak, melainkan lewat serangan siber yang senyap namun melumpuhkan.

Salah satu metode yang paling sering digunakan untuk membungkam media adalah serangan DDoS (Distributed Denial of Service). Portal berita terkemuka di Indonesia, Tempo, kembali menjadi korban dari serangan digital yang masif ini setelah merilis rangkaian laporan investigasi terkait kasus korupsi.

DDoS secara harfiah berarti penolakan layanan secara terdistribusi. Ini adalah jenis serangan siber yang dilakukan dengan cara membanjiri server, situs web, atau jaringan dengan lalu lintas (traffic) palsu secara serentak.

Sebagai ilustrasi, bayangkan sebuah toko buku kecil yang tiba-tiba dimasuki oleh ribuan orang bayaran dalam waktu bersamaan. Orang-orang ini tidak membeli apa pun; mereka hanya berdiri di depan kasir, memenuhi lorong, dan memblokir pintu masuk.

Akibatnya, pelanggan asli yang benar-benar ingin membeli buku tidak bisa masuk, dan toko tersebut terpaksa lumpuh. Dalam dunia digital, “orang-orang bayaran” ini adalah komputer atau perangkat internet (IoT) yang telah terinfeksi malware (disebut bot), yang kemudian dikendalikan oleh peretas menjadi sebuah pasukan digital raksasa (botnet) untuk menyerang satu target IP server.

Serangan yang melanda server berita Tempo kali ini terjadi secara sangat masif dan sporadis. Tim teknologi Tempo mencatat bahwa sejak serangan dimulai pada Jumat, 5 Juni 2026 hingga Senin, 8 Juni 2026, server mereka dihujani hingga 24,9 juta permintaan (requests) palsu.

Intensitas serangan ini melonjak tajam pada jam-jam tertentu, terutama malam dan dini hari. Dalam satu gelombang puncak yang berlangsung hanya dalam durasi dua jam (antara pukul 20.30 hingga tengah malam), sistem pertahanan Tempo mendeteksi ada sekitar 12,97 juta serangan yang masuk.

Serangan ini tidak hanya berasal dari jaringan lokal, melainkan bersifat global dan terlacak dikirim dari berbagai negara seperti Kolombia, Amerika Serikat, Filipina, Bangladesh, hingga Meksiko.

Dampak utama dari serangan DDoS adalah tumbangnya akses publik. Ketika server kelebihan beban (overloaded), situs web Tempo menjadi sangat lambat atau bahkan sama sekali tidak bisa dibuka, menampilkan pesan error.

Bagi sebuah institusi media, dampak ini sangat merugikan. Akan terjadi hambatan informasi, di mana masyarakat kehilangan haknya untuk mendapatkan informasi terkini dan tepercaya.

Operasional iklan digital terganggu dan pelanggan premium tidak bisa mengakses konten eksklusif yang sudah mereka bayar. Yang berarti ada kerugian finansial. Di sisi lain juga terjadi gangguan kerja redaksi. Sistem manajemen konten (CMS) internal sering kali ikut melambat, mengganggu kerja jurnalis yang sedang memproduksi berita.

DDoS adalah serangan yang bersifat taktis dan sering kali politis. Berbeda dengan hacking yang bertujuan mencuri data, maksud utama DDoS ke media online adalah sensor digital dan pembungkaman.

Pihak Tempo menduga kuat serangan ini merupakan reaksi lanjutan dari oknum-oknum yang tidak senang dengan publikasi laporan investigasi korupsi sebelumnya. Melalui DDoS, aktor di balik serangan berusaha “menyembunyikan” berita tersebut dari publik dengan cara meruntuhkan wadah publikasinya.

Ini adalah bentuk intimidasi modern untuk merusak kredibilitas media dan menciptakan efek gentar (chilling effect) bagi jurnalisme investigatif.

Tempo bukan satu-satunya media yang menjadi target. Kasus DDoS yang menyasar pers merupakan tren global yang terus berulang ketika media mengangkat isu sensitif.

Berdasarkan riset Asosiasi Media Siber Indonesia (AMSI), media independen seperti KBR.id pernah mengalami serangan DDoS serupa yang membuat situs mereka tidak dapat diakses total selama tujuh hari berturut-turut setelah mengangkat isu-isu sensitif. Begitu halnya dengan Narasi.

Dalam skala geopolitik internasional, negara Estonia pernah mengalami kelumpuhan digital total pada 2007 akibat serangan DDoS masif yang menyasar institusi pemerintah, bank, dan seluruh media online utama mereka. Serangan ini dipicu oleh ketegangan politik dengan Rusia.

Media global sekelas CNN dan BBC tercatat berulang kali menjadi target DDoS volumetric (berukuran raksasa) ketika mereka menyiarkan berita konflik internasional atau investigasi berskala global.(*)

BACA JUGA: Juara Dunia Serangan DDoS: Indonesia di Pusaran “Kiamat Siber” AI dan Krisis Identitas 2026

Back to top button