Dari tangan dingin Oma Oen sejak 1910 hingga menjadi saksi bisu perjalanan bangsa, simak bagaimana keteguhan tradisi ini terus bertahan menembus perlintasan zaman dan saksi perjalanan kuliner Republik Indonesia.
WWW.JERNIH.CO – Aroma vanila murni dan aroma marzipan yang terpancar dari oven roti tua langsung menyapa siapa saja yang melangkah melewati pintu kayu berukir di Jalan Bodjong, Semarang, atau Kayutangan, Malang.
Di sana, derit lantai ubin kuno dan dentang sendok perak yang beradu dengan mangkuk kristal es krim seolah meretas garis waktu. Bagi pecinta kebudayaan dan sejarah, Toko Oen bukan cuma entitas kuliner modern yang bertahan hidup; ia adalah museum bernapas yang merawat denyut peradaban Indische Keuken—sebuah melting pot rasa dan gaya hidup aristokrasi Hindia Belanda abad ke-20.
Di balik imperium gastronomi ini, berdiri sosok Liem Gien Nio (1891–1967), seorang perempuan Tionghoa-Peranakan bertekad baja yang kelak dikenal hangat sebagai Oma Oen. Cerita berawal pada tahun 1910 di Yogyakarta. Berbekal resep-resep warisan dan kepiawaian meracik kue kering (banket bakkerij), Oma Oen mendirikan dapur pembuatan kue bersama suaminya, Oen Tjoen Hok.

Pada era ketika ruang publik perempuan sangat terbatas, Oma Oen memanfaatkan momentum boom ekonomi komoditas Hindia Belanda pasca-Perang Dunia I. Toko Oen Yogyakarta, yang merupakan cikal bakal pertama berdirinya imperium kuliner legendaris ini sejak 1910 di Jalan Tugu Kidul (kini Jalan Margo Utomo / Jalan P. Mangkubumi) dekat kawasan Stasiun Tugu dan Malioboro. Pada tahun 1922, usaha rumahan ini bertransformasi menjadi patisserie dan ijssalon (kedai es krim) resmi.
Kesuksesan racikan es krim bertekstur alami tanpa emulsifikasi sintetis ini mendorong ekspansi agresif ke kota-kota pusat perekonomian kolonial. Sebagai langkah awal dipilihlah kota Malang untuk pilot project. Toko Oen Malang resmi didirikan pada tahun 1930 di kawasan Kajoetangan (kini Jl. Jend. Basuki Rachmat), yang saat itu dirancang sebagai chic shopping street ala Eropa oleh arsitek Herman Thomas Karsten.
Lokasinya tidak jauh dari alun-alun utama kota Malang. Berjarak sekitar 100 meter. Juga dekat sekali dengan sebuah gereja yang menjadi lokasi ibadah di zaman itu.
Kawasan ini berakar kuat pada konsep Indische Stedenbouw, yakni perencanaan kota Hindia Belanda yang secara cerdas memadukan modernitas Barat dengan responsivitas terhadap iklim tropis serta budaya lokal.
Karakter utamanya berfokus pada kenyamanan pejalan kaki melalui penyediaan trotoar yang lebar, asri dengan deretan pohon peneduh, serta keberadaan selasar beratap (arcade) di bagian depan toko. Fasilitas selasar berteduh ini memungkinkan para pengunjung untuk berjalan kaki dan berbelanja dengan nyaman tanpa khawatir terpapar terik matahari maupun guyuran hujan tropis.
Dari segi fisik dan estetika, tata bangunannya mengusung pendekatan arsitektur hibrida yang memadukan gaya Art Deco dan Jugendstil abad ke-20 dengan kearifan arsitektur lokal.
Gedung-gedung pertokoan dirancang memiliki atap miring untuk mengalirkan air hujan secara cepat serta lubang angin (bovenlicht) berukuran besar guna menjaga sirkulasi udara alami tetap segar. Selain itu, Karsten menjaga proporsi lingkungan melalui skala bangunan yang manusiawi (low-rise 1–2 lantai), sehingga deretan fasade toko menciptakan pemandangan koridor jalan (streetscape) yang harmonis, teratur, dan tidak mengintimidasi pejalan kaki.
Sebagai ruang publik yang hidup, kawasan pertokoan ini tidak sekadar dirancang untuk aktivitas komersial, melainkan juga difungsikan sebagai wadah interaksi sosial (social gathering space). Karsten kerap mengintegrasikan koridor belanja ini dengan ruang terbuka hijau seperti taman kota atau alun-alun, menciptakan iklim mikro yang sejuk di sekitarnya.
Keterpaduan tersebut disempurnakan oleh sistem aksesibilitas yang matang, di mana jalur pejalan kaki dirancang selaras dengan moda transportasi masa itu—mulai dari trem, kereta kuda, hingga mobil era 1930-an—tanpa mengurangi rasa aman dan kenyamanan para pengunjung.
Empat tahun kemudian barulah berdiri toko di Batavia. Toko Oen Jakarta, yang resmi berdiri pada tahun 1934 sebagai bagian dari ekspansi bisnis untuk melayani para pejabat kolonial, pengusaha, dan elite perkotaan Batavia, dahulu menempati kawasan strategis di Jalan Nusantara (kini Jalan Veteran), Jakarta Pusat, yang berada tidak jauh dari kompleks Istana Negara dan kawasan elite Gambir.
Tak berselang lama, dua tahun kemudian, Toko Oen berekspansi ke Semarang dan berdiri pada 16 April 1936 menempati gedung bergaya Jugendstil (Art Nouveau) di Jalan Bodjong No. 52 (Jl. Pemuda). Toko ini merupakan sebuah bangunan monumental yang dibeli pada 1935 dari seorang saudagar Inggris dan direnovasi dengan jendela kaca patri berukuran besar untuk memaksimalkan pencahayaan alami khas arsitektur tropis Belanda (Indisch Bouwen).
Memasuki dekade 1930-an, Malang berkembang pesat sebagai pensionstadt—kota tempat pensiun favorit para pejabat tinggi dan pemilik perkebunan tebu serta teh (ondernemer)—sementara Semarang merupakan kota pelabuhan kosmopolitan yang dilintasi jaringan trem listrik Samarang-Joana Stoomtram Maatschappij (SJS).
Di tengah lanskap ini, Toko Oen memosisikan diri sebagai pusat ruang sosial eksklusif yang mencerminkan tata lapis sosial masyarakat kolonial. Konsumen utamanya mencakup golongan Binnenlands Bestuur dan ekspatriat seperti pejabat pemerintahan kolonial, planters (pemilik perkebunan) Eropa, dan perwira militer yang menjadikan Toko Oen sebagai lokasi midden-overleg (diskusi santai sore) atau tempat singgah sesudah acara di Sociëteit Concordia.
Selain itu, tempat ini dihiasi oleh kehadiran para bangsawan dan priyayi lokal yang mengadopsi gaya hidup Barat (westers), serta kaum cabang atas Tionghoa, termasuk para saudagar kaya (Meneer) dan keluarga pengusaha gula yang menikmati gaya hidup Tempo Doeloe.
Kekuatan utama Toko Oen terletak pada menu-menunya yang merekam kawin silang budaya kuliner dengan resep era 1920-an tanpa bahan pengawet. Pada kategori ijs cream, sajian legendaris seperti Oen’s Symphony menghadirkan kombinasi lima scoop es krim klasik (Vanila, Cokelat, Stroberi, Moka, dan Rum Raisin) di atas wadah stainless tua lengkap dengan hiasan buah ceri serta wafel renyah. Juga berdampingan dengan Tutti Frutti yang berupa es krim potong berbentuk kubus berisi buah kering (candied fruits) yang direndam rum murni.
Untuk kategori banket dan koekjes, pelanggan menikmati Ontbijtkoek yang merupakan roti rempah (spiced cake) khas Belanda berbahan dasar kayu manis, pala, dan gula palem sebagai pendamping wajib kopi pagi para meneer, serta Jan Hagel dan Kaastengels berbahan keju edam murni buatan pâtissier Belanda.
Sementara pada menu makanan berat (hoofdgerechten), hadir Biefstuk Oen—tenderloin steak dengan saus butter-gravy tradisional, kentang goreng iris tebal (boerenfriet), dan buncis rebus—hingga Indische Nasi Goreng kaya rempah yang disajikan lengkap dengan sate ayam, telur mata sapi, kerupuk udang, dan acar kuning, yang bahkan kerap dipesan oleh Presiden Soekarno saat melawat ke Malang maupun Semarang.
Dinamika zaman pasca-kemerdekaan membuat cabang awal di Yogyakarta dan Jakarta terpaksa gulung tikar, tetapi sisa kejayaannya bertahan hingga kini melalui dua pilar kepemilikan. Toko di Yogyakarta tutup pada 1955. Sedang yang di Jakarta menyusul pada 1973.
Toko Oen Semarang tetap berada di bawah manajerial langsung keturunan asli Oma Oen (generasi ketiga, Ny. Jenny Kalalo) dengan mempertahankan keaslian interior sejak 1936. Di sisi lain, Toko Oen Malang dialihkan kepemilikannya pada tahun 1990 kepada pengusaha lokal Danny Mugianto, yang tetap berkomitmen penuh menjaga ekosistem cagar budaya bangunan tersebut.
Kedua cabang ini secara konsisten merawat elemen otentisitasnya melalui penggunaan furnitur kuno seperti kursi rotan bundar (Thonet chairs), jam dinding antik mekanis, piano kayu tua, dan ubin teraso motif asli dekade 1930-an.
Prosedur pembuatan es krim juga tetap mempertahankan mesin buatan Eropa zaman dahulu untuk menghasilkan tekstur padat khas yang tidak mudah meleleh. Atmosfer nostalgia makin diperkuat oleh etika pelayanan para staf yang mengenakan seragam kemeja putih berlengan pendek, celana atau rok kain hitam, dan peci hitam klasik, serta terpasangnya slogan ikonik berbahasa Belanda pada dinding utama: “Welkom in Malang/Semarang, Toko Oen Die Provides Seit Anno 1930/1936”.
Waktu terus berderap meruntuhkan zaman, namun sisa-sisa napas kolonial itu enggan menguap; ia mengendap tenang di balik dentang sendok perak, pendar ubin teraso yang renta, dan aroma vanila murni yang tak pernah berubah.
Sudah lebih dari 90 tahun Toko Oen memanjakan lidah sekaligus ruang historia kuliner yang merawat memori kolektif bangsa—sebuah kesaksian sunyi yang membuktikan bahwa keteguhan pada tradisi dan rasa hormat pada sejarah mampu menembus perlintasan waktu, meretas ruang nostalgia di tengah riuh dunia yang terus berganti wajah.(*)
Note: foto adalah restorasi dengan AI