JERNIH – Langkah tidak biasa diambil pemerintah Amerika Serikat dan Jepang melalui aksi intervensi terkoordinasi untuk menahan kejatuhan nilai tukar yen. Mata uang Negeri Sakura tersebut sebelumnya terperosok ke level terendah dalam 40 tahun terakhir terhadap dolar AS.
Intervensi bersama ini mulai dilancarkan pada 31 Juli, di mana Departemen Keuangan AS menjual euro untuk membeli yen, berbarengan dengan aksi beli masif oleh otoritas moneter Jepang. Dampaknya, yen berhasil menguat dari level terpuruk 163 per dolar AS (terendah sejak 1986) kembali ke kisaran 157 per dolar AS.
Langkah AS menopang mata uang negara lain terbilang sangat langka. Terakhir kali Washington dan Tokyo melakukan intervensi bersama terjadi pada 2011 pasca-gempa dan tsunami Tohoku, serta saat Skenario Krisis Keuangan Asia 1998.
Anjloknya nilai tukar yen merupakan akumulasi dari stagnasi ekonomi jangka panjang Jepang yang kini tereskalasi oleh tekanan geopolitik akibat konflik AS-Iran.
Selama puluhan tahun, Bank of Japan (BOJ) mempertahankan kebijakan suku bunga ultra-rendah untuk memicu pertumbuhan. Kebijakan ini berbalik menekan mata uang domestik. Di sisi lain, kebijakan moneter Perdana Menteri Sanae Takaichi yang menginginkan pertumbuhan tinggi sekaligus kelonggaran fiskal jutru memicu pelemahan yen dan inflasi impor.
“PM Takaichi menginginkan semuanya: pertumbuhan, fiskal longgar, moneter longgar, dan yen yang stabil. Namun bauran kebijakan ini justru memperlemah yen dan memicu masalah inflasi,” ujar Chris Turner, Head of Global Markets ING.
Intervensi Washington bukanlah bentuk “kemurahan hati” semata, melainkan tindakan preventif untuk melindungi stabilitas sistem keuangan global dan pasar obligasi AS sendiri.
Sebagai mata uang terbanyak ketiga yang diperdagangkan di dunia, kejatuhan bebas yen mengancam likuiditas global. Masalah utamanya, Jepang memegang Obligasi Pemerintah AS (US Treasury) senilai $1,114 triliun.
Jika yen terus merosot, Tokyo terpaksa melakukan obral massal (sell-off) obligasi AS tersebut untuk mengumpulkan modal tunai guna membendung pelemahan yen. Penjualan besar-besaran obligasi AS akan memicu lonjakan suku bunga di AS—sebuah skenario mengerikan bagi Washington yang kini menanggung beban utang nasional melebihi $39 triliun.
| Faktor Risiko Pelemahan Yen | Dampak bagi Ekonomi Global & AS |
| Aksi Jual Obligasi AS oleh Jepang | Memicu lonjakan suku bunga (yield) obligasi di AS |
| Beban Utang AS ($39 Triliun+) | Biaya pembayaran bunga utang pemerintah AS membengkak |
| Krisis Likuiditas Global | Gangguan pada sistem pendanaan lintas negara (global funding) |
“Washington tidak mencoba memperkuat yen demi Jepang semata, tetapi untuk mencegah kejatuhan tidak teratur yang dapat menjalar ke pasar Treasury dan stabilitas finansial yang lebih luas,” tegas Masahiko Loo, Senior Fixed Income Strategist di State Street Investment Management, Tokyo.
Dari sudut pandang politik domestik AS, Presiden Donald Trump yang menyukai dolar relatif lemah membuat biaya politik dari intervensi ini tergolong minim, sekaligus memberikan “bantuan besar” bagi sekutu utamanya di Asia.
Sejumlah pakar menggarisbawahi bahwa intervensi mata uang ini hanya memberikan napas buatan sementara. Suku bunga acuan Jepang yang berada di level 1,0 persen—meski tertinggi sejak 1995—masih terpaut sangat jauh dari suku bunga negara-negara maju lainnya.
Selama jurang perbedaan suku bunga (interest rate gap) antara AS dan Jepang tidak dijembatani melalui kenaikan suku bunga BOJ yang lebih agresif, intervensi pasar valas hanya akan menjadi aksi buang-buang anggaran.
“Pada akhirnya, gravitasi dari fundamental ekonomi akan mengalahkan upaya intervensi. Namun, Jepang tampak sangat enggan memperketat kebijakan moneternya. Jadi, situasi ini masih akan bertahan dalam waktu yang cukup lama,” jelas Derek Tang, CEO Monetary Policy Analytics.
