Site icon Jernih.co

Mengenal Sarmat, Rudal Nuklir ‘Kiamat’ Rusia yang Diklaim Bisa Menghantam Target di Seluruh Dunia

Rudal Sarmat diuji coba peluncurannya di Rusia pada 12 Mei 2026

JERNIH – Rusia kembali memamerkan kekuatan militernya dengan melakukan uji coba rudal balistik antarbenua (ICBM) terbaru bernama Sarmat. Langkah ini merupakan bagian dari upaya modernisasi kekuatan nuklir Kremlin. Presiden Vladimir Putin bahkan langsung memuji kesuksesan peluncuran ini, hanya berselang beberapa hari setelah klaimnya bahwa pertempuran di Ukraina sudah mendekati akhir.

“Ini adalah rudal paling kuat di dunia,” ujar Putin pada hari Selasa lalu. Ia menambahkan bahwa kekuatan gabungan dari hulu ledak yang ditargetkan secara mandiri pada Sarmat memiliki daya hancur empat kali lipat lebih besar daripada rekan-rekan Baratnya.

Rudal berkemampuan nuklir ini dijadwalkan masuk dalam dinas tempur aktif pada akhir tahun untuk menggantikan rudal Voyevoda buatan era Soviet yang sudah menua.

Rudal RS-28 Sarmat, yang oleh negara-negara Barat dijuluki sebagai “Satan II”, adalah rudal balistik antarbenua berbasis darat. Senjata ini dirancang khusus untuk mengirimkan hulu ledak nuklir dengan jangkauan minimum standar sebesar 5.500 km.

Namun, spesifikasi teknis Sarmat terbilang luar biasa berdasarkan data yang dihimpun oleh lembaga pemikir Center for Strategic and International Studies (CSIS) di Washington, DC. Rudal ini memiliki panjang 35,3 meter dengan diameter 3 meter, bobot mencapai 208,1 ton serta mampu membawa muatan hingga 10 ton.

Putin mengklaim Sarmat mampu mencapai kecepatan tinggi dengan sangat cepat dan menghentikan pembakaran mesinnya lebih awal daripada ICBM tradisional. Hal ini membuat sistem pertahanan udara musuh memiliki waktu yang sangat sempit untuk mendeteksi, melacak, dan menembak jatuhnya.

Misteri Jangkauan Nyata

Terjadi perbedaan pandangan yang cukup signifikan mengenai jarak tempuh maksimal dari “Satan II” ini. Putin mengklaim jarak tembak maksimumnya melebihi 35.000 km, mampu melakukan penerbangan suborbital (mencapai luar angkasa tanpa mengorbit penuh bumi), serta diklaim “bisa menembus semua sistem pertahanan antimisil yang ada saat ini maupun di masa depan”.

Jarak ini hampir setara dengan satu putaran penuh bumi, yang berarti secara teori bisa menghantam target mana pun di dunia. Sementara analis Barat dan laporan CSIS memperkirakan jangkauan aslinya berada di kisaran 18.000 km.

Meskipun terdapat perbedaan estimasi, kedua angka tersebut sudah lebih dari cukup untuk menghantam kota mana pun di Amerika Serikat dari wilayah Rusia. Sebagai konteks, jarak dari Moskwa ke New York hanya sekitar 7.500 km. Pengembangan senjata ini sendiri sudah berjalan sejak 2011, meskipun salah satu uji cobanya pada September 2024 sempat dilaporkan berakhir dengan ledakan besar.

Sarmat bukanlah satu-satunya senjata mutakhir yang dimiliki Rusia. Moskwa telah meluncurkan dan mengoperasikan beberapa Alutsista berbahaya lainnya, antara lain:

  1. Avangard: Kendaraan luncur hipersonik yang mampu terbang hingga 27 kali kecepatan suara.
  2. Oreshnik: Rudal balistik jarak menengah berkemampuan nuklir dengan jangkauan hingga 5.000 km (mampu menjangkau target mana pun di Eropa). Versi konvensionalnya sudah digunakan dua kali untuk menyerang Ukraina.
  3. Poseidon & Burevestnik: Drone bawah air bertenaga nuklir dan rudal jelajah dengan reaktor atom miniatur yang saat ini berada dalam “tahap akhir” pengembangan.

Putin menegaskan langkah ini diambil sebagai respons atas perisai rudal yang dikembangkan Washington sejak AS keluar dari pakta pembatasan pertahanan rudal era Perang Dingin pada tahun 2001.

Di sisi lain, analisis terbaru dari Kantor Anggaran Kongres AS memperkirakan proyek sistem pertahanan rudal baru bentukan Presiden Donald Trump yang dinamakan “Golden Dome” akan menelan biaya fantastis sebesar $1,2 triliun untuk pembangunan dan pemeliharaan selama 20 tahun ke depan.

Pihak militer Rusia khawatir jika AS memiliki perisai rudal sekuat itu, Washington bisa tergiur untuk meluncurkan serangan pertama (first strike) yang dapat melumpuhkan sebagian besar arsenal nuklir Moskwa. “Kami terpaksa mempertimbangkan keamanan strategis kami demi menjaga keseimbangan kekuatan dan paritas,” tegas Putin.

Uji coba rudal pemusnah massal ini berlangsung di tengah dinamika perang yang masih bergolak. Ukraina baru-baru ini meluncurkan serangan balasan menggunakan taktik simetris dengan menghantam fasilitas gas di wilayah Orenburg, Rusia barat daya—lebih dari 1.500 km dari perbatasan Ukraina. Strategi Kiev dalam beberapa pekan terakhir memang berfokus melumpuhkan sektor energi Rusia untuk memotong pendapatan perang mereka.

Walaupun pertempuran masih terjadi, juru bicara Kremlin, Dmitry Peskov, menyatakan bahwa kemajuan dalam pembicaraan dengan AS dan Ukraina diharapkan bisa segera membawa konflik yang telah berlangsung lebih dari empat tahun ini ke arah penyelesaian, meski ia mengingatkan masih terlalu dini untuk memberikan detail spesifik.

Exit mobile version