CrispyDum Sumus

Mengenal Slow Jogging, Tren Olahraga Ramah Lutut yang Efektif Bakar Lemak

Slow Jogging dari Jepang membuktikan bahwa berlari dengan kecepatan santai sambil tersenyum justru bisa membakar kalori dua kali lipat dibanding jalan kaki.

WWW.JERNIH.CO – ​ Belakangan ini, media sosial diramaikan oleh tren olahraga baru yang unik bernama slow jogging. Berbeda dengan visual lari pada umumnya yang identik dengan kecepatan tinggi, napas terengah-engah, dan keringat yang mengucur deras, slow jogging justru menawarkan pendekatan yang sebaliknya: berlari dengan sangat lambat, bahkan sering kali didampingi dengan senyuman.

Metode ini bukan hanya tren tanpa dasar. Slow jogging dikembangkan di Jepang oleh Profesor Hiroaki Tanaka dari Universitas Fukuoka. Selama bertahun-tahun, Prof. Tanaka meneliti metode olahraga yang efektif membakar kalori tetapi tidak menyiksa fisik.

Hasilnya adalah filosofi niko niko, yang dalam bahasa Jepang berarti “tersenyum”. Prinsip utamanya adalah berlari dengan kecepatan di mana Anda masih bisa mengobrol santai atau tersenyum tanpa merasa kehabisan napas.

Ada perbedaan dibandingkan dengan jogging pada umumnya. Perbedaan paling mendasar terletak pada kecepatan, teknik tumpuan kaki, dan beban fisik.

Jogging biasa umumnya mengejar target jarak atau waktu tertentu. Sementara itu, kecepatan slow jogging sangat lambat, bahkan bisa setara atau lebih lambat daripada orang yang berjalan cepat (sekitar 3–5 km/jam).

Saat melakukan jogging biasa, pelari cenderung mendarat menggunakan tumit (heel strike). Pada slow jogging, Anda diwajibkan mendarat menggunakan bagian tengah atau depan kaki (midfoot strike), tepat di bawah bantalan jari kaki.

Jangkauan langkah dalam slow jogging sangat pendek (kecil-kecil), namun frekuensi langkahnya tetap tinggi—ideal dan disarankan berada di sekitar 180 langkah per menit (BPM).

Meskipun gerakannya lambat, manfaat yang dihasilkan tidak bisa diremehkan. Berlari menggunakan teknik ini mengaktifkan otot lambat (slow-twitch muscle fibers) yang sangat efisien dalam membakar lemak. Berdasarkan riset Prof. Tanaka, slow jogging membakar kalori hingga dua kali lipat lebih banyak dibandingkan berjalan kaki dengan kecepatan yang sama.

Selain itu, karena tumpuan kaki berada di bagian tengah dan langkahnya kecil, tekanan pada sendi lutut, pinggul, dan pergelangan kaki berkurang drastis jika dibandingkan dengan lari konvensional. Hal ini menjadikannya sangat efektif untuk menjaga kesehatan jantung (kardiovaskular) tanpa risiko cedera yang tinggi.

Olahraga ini dirancang agar inklusif dan ramah untuk hampir semua kalangan, khususnya bagi pemula, orang yang baru ingin membangun kebiasaan aktif bergerak tanpa takut langsung merasa kapok karena kelelahan.

Bagus pula unuk  kelompok usia lanjut yang membutuhkan olahraga kardio namun memiliki keterbatasan kekuatan sendi. Juga bagi individu dengan berat badan berlebih yang ingin membakar kalori tanpa memberikan beban berlebih pada lutut.

Termasuk bagi pelari cedera yang sedang berada dalam masa pemulihan (recovery) namun tetap ingin menjaga kebugaran tubuh.(*)

BACA JUGA: Beats Powerbeats Fit: TWS Olahraga dengan Sentuhan Premium

Back to top button